
Awan berarak di atas langit, bergumpal dan bergerak terbawa angin. Suasana di tengah Desa Gragan yang tadi terdengar ribut akibat pertarungan, namun saat ini sepi karena semua mata dan orang-orang hampir menahan nafas mereka.
Puluhan pasang mata menatap hampir tak berkedip memandang tajam ke arah dua orang yang saling mempersiapkan jurus pedang andalan mereka masing-masing.
Baik mata maupun tubuh orang-orang yang memperhatikan pertarungan itu hampir tidak bergerak, semua orang itu seakan kaku dan terlalu fokus pada pandangan di depan mereka.
Masyarakat Desa dan saudara seperguruan Gagak Kuning hampir menghentikan nafas mereka dan berharap kemenangan akan terjadi di pihak orang yang membela mereka.
"Kau akan mati hari ini, Gadis Tengik!" gertak Gagak Kuning sembari menatap tajam ke arah Wulan Ayu.
"Hidup dan mati bukan urusanmu, kisanak!"
balas Wulan Ayu sengit, namun ada senyum tipis menyungging di bibir Bidadari Pencabut Nyawa itu. Semua pemandangan di depannya membuat Gagak Kuning semakin panas dan amarahnya semakin memuncak.
"Heaaah.....!!" bentakan Gagak Kuning menggema sembari tangan kanannya mengayun deras ke arah depan. Cahaya merah kehitaman meluncur deras membelah udara.
Wuss!
Cahaya merah itu membentuk sebuah golok besar yang menyabet dari arah atas ke bawah, udara terasa menyengat di daerah itu.
"Hih! Hiyaaat......!!" jeritan melengking keluar dari mulut Bidadari Pencabut Nyawa terdengar begitu nyaring, seketika itu pula gadis cantik berpakaian serba biru itu menebaskan pedang elang perak di tangan kanannya. Cahaya putih keperakan yang menyelimuti pedang elang perak meluncur deras menyongsong cahaya merah dari golok Gagak Kuning itu.
__ADS_1
Swoss!
Blaaammm......!!!
Dua cahaya yang membentuk pedang itu bertemu dan beradu di udara, gelombang panas dan api menekan ke segala arah. Debu dan tanah menyembur ke udara, asap tebal membumbung ke udara.
Tanah dan pepohonan tampak bergetar bagai terguncang gempa, beberapa buah cangkir bambu di atas meja di dalam warung Ki Syarip sampai jatuh ke tanah akibat getaran itu.
"Aaaa.......!!" Gagak Kuning tampak terpental hingga begitu jauh, mungkin lebih dari sepuluh tombak ke belakang. Tubuh Gagak Kuning tampak jatuh hingga bergulingan, namun golok besar di tangan murid Perguruan Gagak Hitam itu masih tergenggam erat di tangan kanannya.
"Uhuakh...!!" Gagak Kuning tampak berusaha bangun dengan menancapkan golok besarnya ke tanah, darah segar tampak mengalir dari bibirnya hingga membasahi dagu.
"Dirga, jangan memaksakan diri, lukamu terlalu parah," kata Sora Gambang sambil memegangi kedua bahu Gagak Kuning.
"Ka... Kakak... Aku tidak mungkin bertahan... Lu.. Lukaku terlalu parah, ba..., balaskan dendamku, Kak," ucap Dirga lemah, beberapa kali Gagak Kuning membatukkan darah kehitaman, wajahnya yang tadi kehitaman kini tampak memutih dan memucat.
"Dirga, bertahanlah. Kami akan membawamu kembali, guru pasti bisa mengobatimu!" ujar Sora Gambang berusaha mengalirkan hawa murni ke tubuh Dirga.
"Terlambat, Kak, lukaku terlalu dalam. Akgh!" Dirga alias Gagak Kuning langsung terkulai setelah menyelesaikan ucapannya. Nyawa laki-laki berumur tiga puluh tahunan itu langsung melatang, tangan kanannya masih menggenggam erat golok besar kesayangannya.
"Dirga...! Dirga......!" teriak Sora Gambang sambil mengguncang-guncangkan tubuh adik seperguruannya tersebut. Sora Gambang tampak memeluk erat bahu dan meletakkan kepala Dirga di bahunya.
__ADS_1
Air mata Sora Gambang tampak menetes ke tanah, walau tidak terdengar suara Isak tangis dari mulut laki-laki bergelar Gagak Setan Merah. Namun matanya memerah dan tubuhnya bergetar menahan amarah.
Sementara itu Wulan Ayu yang hanya terjajar sekitar satu tombak telah berdiri tenang dan memandang ke arah Gagak Kuning yang sudah menjadi mayat.
"Maafkan aku, Kisanak. Aku sebenarnya tidak berniat mengadu nyawa dengan adik seperguruanmu itu, tapi dia terlalu memaksakan diri," ucap Wulan Ayu terdengar datar dan begitu tenang.
"Kau akan membayar dengan nyawamu, Nisanak!" geram si gendut yang memiliki sepasang golok dengan gagang kepala gagak di pinggangnya, "Aku Si Golok Gagak Kembar akan membalas kematian kakak Gagak Kuning!"
Tiga orang langsung maju mendampingi Si Golok Gagak Kembar, "Kak Sora, kau urus mayat kak Dirga. Biar kami yang akan membalas gadis tengik itu!" ucap laki yang memakai senjata sepasang trisula berukiran burung gagak.
"Hati-hati! Ilmu gadis itu tidak boleh di anggap remeh!" ujar Sora Gambang memperingatkan. Setelah berkata, Sora Gambang melesat ke arah hutan di ikuti tiga orang adik seperguruannya.
Sedangkan satu orang masih berdiri memandang ke empat temannya yang bergerak mengepung Bidadari Pencabut Nyawa.
"Prasaja, kau bantu Wiguna mengahadapi gadis itu!" seru Sora Gambang sambil melesat, Prasaja berniat menjawab, namun diurungkan karena Sora Gambang sudah menghilang ke dalam hutan dengan tiga orang lainnya.
.
.
Bersambung.........
__ADS_1