Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Kelabang Ungu


__ADS_3

Suasana tenang itu tampaknya tidak berlangsung lama. Sekelebat bayangan bergerak cepat melompat pepohonan. Merela adalah rombongan Kelabang Merah dan Kelabang Ungu bersama enam Iblis Perak. Namun para penduduk belum menyadari adanya bahaya yang mendekat.


"Ayo pendekar ceritakan tentang dirimu," pinta salah seorang penduduk sambil meletakkan seteko teh hangat di depan Pendekar Naga Sakti.


"Tidak cukup waktu untuk menceritakan siapa saya Ki," jawab Anggala sambil tersenyum.


"Secara singkat saja anak muda," tambah nyi Pelangi sambil meletakkan sepiring ubi rebus di depan mereka pada sebuah meja.


"Nama saya Anggala, saya berasal dari Lembah Naga, dari daerah barat pulau Andalas ini," tutur Anggala sambil tersenyum.


"Pendekar cantik sekarang giliranmu," tukas tiga orang gadis kembar yang selalu memakai payung berwarna yang berbeda, begitu pun pakaian mereka, sesuai dengan warna payung ditangan mereka. Mereka adalah Pendekar Kembar dari Ulu Musi, Mereka adalah salah satu pendekar yang tinggal di Desa Mekar Ramai ini.


"Kalian juga cantik-cantik!" puji Wulan Ayu, "Saya dari bukit bambu di daerah barat. Mungkin yang tua kenal dengan Sepasang Pendekar Pemarah Bidadari Galak dan Malaikat Pemarah?" tambahnya lagi.


"Ya, melihat senjata yang Kau gunakan, aku bisa mengenali Kau murid siapa," kata nyi Pelangi sambil tersenyum. Wanita setengah baya itu menuangkan teh hangat kedalam cangkir keramik.


"Hahaha....!" Rupanya kalian telah berani menantang para Iblis Perak! Katakan siapa pendekar yang telah membunuh orang-orang kepercayaan kakakku?" bentak Roksa Geni, entah kapan datangnya, laki-laki berpakaian merah dan berwajah seram penuh brewokan itu sampai disana. Enam Iblis Perak juga telah ada disana, mereka tampak berdiri diatas atap genteng rumah para penduduk.


Sedangkan Kelabang Ungu tampak berdiri di belakang pamannya Kelabang Merah. Wajah cantik gadis itu tampak agak memerah menatap kearah Bidadari Pencabut Nyawa.


"Kami yang kalian cari kisanak!" jawab Anggala dan Wulan Ayu berbarengan. Kedua pendekar muda itu bangkit dari duduknya dan maju kedepan.


"Siapa Kau? Aku mencari Pendekar Naga Sakti yang telah membunuh enam Iblis Perak!" bentak Roksa Geni.


"Aku Pendekar Naga Sakti yang Kau cari kisanak!" jawab Anggala begitu tenang.


"O, jadi Pendekar Naga Sakti generasi yang baru ya? Kau akan menyesal berani mencampuri urusan kami anak muda!" berang Kelabang Merah, dengan sekali genjatan tubuhnya, ia sudah berada sekitar tiga tombak didepan Pendekar Naga Sakti.


"Hup! Mekar Suri pun melesat cepat menyusul Roksa Geni dan mendarat didepan Wulan Ayu sambil menatap tajam. Melihat para pendekar itu saling berhadapan para penduduk tampak berlarian menjauh dan para wanita mengajak anak-anak mereka masuk kedalam rumah mereka.


"Kalian tunggu apalagi! Habisi mereka!" perintah Roksa Geni pada enam Iblis Perak. Mendengar Perintah Kelabang Merah enam Iblis Perak langsung melesat kearah kakek Wiratama dan nyi Pelangi dan tiga si Payung kembar.


"Kita tidak boleh tinggal diam Ki, mereka harus kita bantu," ucap nyi Tantri, Kau masuk ke tempat persembunyian Dara," pinta nyi Tantri sambil memegang bahu Sandara.

__ADS_1


"Baik nyi," jawab Sandara, tanpa pikir lagi bocah itu langsung berlari memasuki rumah.


"Hehehe...! Kau benar Tantri, dengan adanya Anggala dan Wulan Ayu, ku rasa kemenangan di pihak kita," jawab kakek Wiratama sambil melesat menghadang salah satu dari enam Iblis Perak yang mengepung mereka.


Pendekar Naga Sakti tampak meningkatkan tenaga dalamnya dan mempersiapkan diri dengan 'Jurus Sembilan Matahari Cakar Elang '. dan 'Ilmu Langkah Malaikat'.


"Apa hubunganmu dengan Lesmana anak muda?" tanya Kelabang Merah dengan tatapan seramnya.


"Aku muridnya," jawab Pendekar Naga Sakti dingin.


"Sebaiknya cepat tinggalkan tempat ini. Jika Kau masih ingin menikmati hidupmu!" gertak Kelabang Merah sambil meningkatkan kekuatannya. Tangannya tampak berubah hitam, ia bersiap dengan 'Jurus Cakar Kelabang Api'.nya.


"Guruku pernah berkata Kisanak, musuh jangan dicari, kalau bertemu jangan lari!" jawab Pendekar Naga Sakti sengit.


"Huh! Rupanya Kau sudah bosan hidup anak muda! Heaaah!" selesai berucap Kelabang Merah melesat kearah Pendekar Naga Sakti dengan kedua tangan didepan dan membentuk cakar.


"Hup!" Pendekar Naga Sakti pun tidak tinggal diam dengan cukup cepat ia menyongsong serangan Iblis Kelabang Merah itu.


Dess..!


Dua kekuatan tenaga dalam dari pukulan kedua pendekar itu membuat tanah berterbangan. Angin kencang berputar disekitar mereka membentuk angin puyuh yang mengelilingi keduanya. Kedua pendekar itu tampak hanya bayangan yang saling bergerak cepat. dan saling berbenturan.


Duaaaarrr......!!!


Ledakan menggema akibat benturan tenaga dalam tinggi. Debu dan tanah berhamburan menutupi pemandangan. Beberapa saat kemudian tampak Iblis Kelabang Merah melompat keluar dari kumpulan debu itu. Begitu pun dengan Pendekar Naga Sakti bersalto dua kali kebelakang.


"Hebat! tenaga dalam yang dimiliki anak muda ini begitu tinggi!" guman Iblis Kelabang Merah sambil menggenggamkan telapak tangannya yang terasa nyeri. Iblis Kelabang Merah mengalirkan hawa murni kearah telapak tangannya untuk menghilangkan nyeri, yang ia rasakan.


"Cukup tinggi ilmu tokoh hitam satu ini!" guman Pendekar Naga Sakti merasakan telapak tangannya kesemutan akibat adu cakar dengan Iblis Kelabang Merah tadi berkali-kali.


Kita Kembali Ke Bidadari Pencabut Nyawa yang berhadapan dengan Kalabangg Ungu.


"Rupanya kelompok Iblis Perak ada yang wanita. Cantik-cantik kok jadi penjahat," kata Bidadari Pencabut Nyawa dengan senyum tipis menyungging.

__ADS_1


"Apa Kau yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa hah?" bentak Mekar Suri dengan tatapan tajam.


"Ya, Kau tidak salah aku Bidadari Pencabut Nyawa dari barat!" jawab Wulan Ayu dengan begitu tenang namun nada suaranya cukup tinggi.


"Kalau begitu Kau harus mati hari ini! Heaaah!" Bentakan Kelabang Ungu itu mengawali lesatan tubuhnya dengan kedua tangan membentuk cakar. Kelabang Ungu menyerang dengan 'Jurus Kelabang Beracun'.


Bidadari Pencabut Nyawa hanya menanti serangan Kelabang Ungu dengan begitu tenang. Namun matanya menatap tajam dan membaca kemana arah serangan musuhnya.


"Hih!" Bidadari Pencabut Nyawa hanya menarik tubuhnya dengan begitu gesit, ketika telapak tangan Kelabang Ungu yang membentuk cakar dan mengandung hawa dingin itu hampir mengenai wajahnya.


"Hiyaaa...!" sambil menarik tubuhnya kebelakang. Bidadari Pencabut Nyawa dengan begitu cepat memberikan sebuah serangan balasan berbentuk tendangan dari arah bawah mengarah kedagu Kelabang Ungu.


"Heh!" Kelabang Ungu terkejut bukan kepalang dengan tergesa-gesa ia menyilangkan tangannya didepan dada menangkis tendangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Duk!


Buak!


"Akhh...!" Kelabang Ungu terjajar mundur sekitar tiga tombak kebelakang sambil memegangi dadanya, dengan telapak tangan kirinya. Kelabang Ungu tadi berhasil menangkis tendangan kaki kanan Bidadari Pencabut Nyawa. Namun ia tidak menduga jika serangan berikutnya dari Bidadari Pencabut Nyawa juga tendangan. Rupanya Bidadari Pencabut Nyawa sudah membaca gerakan Kelabang Ungu. Sehingga dengan cukup mudah ia memberikan serangan balasan.


"Hup!" dengan begitu ringan Bidadari Pencabut Nyawa bersalto kebelakang. ia menjejak kaki ditanah dengan begitu ringan.


"Bagaimana Cantik! kita lanjutkan?" Ujar Bidadari Pencabut Nyawa dengan senyum tipis mengejek. Tentu saja perlakuan Bidadari Pencabut Nyawa itu membuat Kelabang Ungu naik pitam.


"Bangsat! Kau harus mati!" teriak Kelabang Ungu dengan wajah memerah menahan amarah.


"Hiaaaa....!" bentakan Kelabang Ungu nyaring sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Kedua tangannya membentuk cakar. Tidak lama kemudian kedua telapak tangan Kelabang Ungu mengeluarkan asap hitam. Begitu asap hitam itu sirna, tangan Kelabang Ungu berubah menjadi merah kehitaman dan kesepuluh kukunya berubah panjang berwarna hitam dan runcing-runcing.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2