
Matahari hampir tenggelam di upuk barat, tamlpak di kejauhan Iring iringan prajurit datang dari arah utara hutan itu, ringgian kuda terdengar riuh, sekitar dua ribu pasukan berkuda dengan pakaian perang lengkap.
Tampak di depan Tiga orang yang tak asing bagi Anggala, yaitu Tiga Pendekar bersaudara, di belakang mereka ada sekitar sepuluh orang berpakaian kependekaran, mereka adalah para Senopati kerajaan Mandalika, dan sekitar dua puluh orang berpakaian rompi merah, mereka adalah kepala prajurit, pasukan Mandalika.
Anggala menunggu mereka di luar perkemahan,
Begitu mereka sampai, Tiga Pendekar bersama para Senopati lansung menemui Anggala
"Assalamu alaikum, Pangeran...!" ucap Liku Dana, sambil menunduk di depan Anggala.
"Walaikum salam..! Paman...!" jawab Anggala, ia lansung memegang bahu Liku Dana, dan memeluknya.
"Apa kabar paman..? Sehat...!?" tanya Anggala sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, Pangeran.. paman baik baik saja, seperti yang Pangeran lihat..!" jawab Liku Dana, sambil tersenyum lebar.
Anggala juga memeluk kedua adik Liku Dana, Resa Dana dan Jaka Dana, setelah itu ia menemui para Senopati dan Kepala Prajurit Pasukan Mandalika itu.
"Ayo... Paman Senopati dan Kepala Prajurit, Semua istirahat, kaliah pasti lelah, setelah berjalan jauh..," ujar Anggala sambil menunduk menghormati para Senopati dari Kerajaan Mandalika itu.
"Jangan begitu Pangeran, kami adalah para punggawa Pangeran..! Jangan menunduk di depan kami..!" ujar salah seorang Senopati.
"Paman, menghormari yang lebih tua, tak memandang harkat dan martabatnya, itu yang di ajarkan Agama kita..!" ujar Anggala sambil tersenyum.
"Pangeran memang rendah hati, dan berilmu tinggi..!" ujar Senopati itu memuji Anggala.
"Jangan terlalu di sanjung paman, nanti bahu Anggala naik sebelah...!" ujar Anggala sambil tertawa.
"Ayo..! Ajak semua prajurit kita beristirahat, kalau mau makan ke dapur umum, di sana ada Wulan Ayu dan yang lain..!" ujar Anggala, sambil mengajak ke Tiga Pendekar bersaudara ke kemah besar, di sana para Pendekar bersaudara berkenalan dengan para Punggawa Galuh Permata, termasuk Patih Jagat Geni,
Liku Dana dan ke dua adiknya tampak berBincang bincang dengan Lesmana, dan Pertapa Geni.
Sedangkan para Senopati Mandalika, tampak bercerita dengan AryabGeni dan Patih Jagat Geni.
Sedangkan para prajurit dan Kepala Prajurit Mandalika, pergi ke dapur umum, mereka makan dan istirahat di tenda prajurit Galuh Permata.
__ADS_1
Malam berangsur larut, Anggala dan Arya Geni bersama dengan para pendekar yang lain, mulai bergerak meninggalkan kemah mereka.
Para prajurit khusus menyusul di belakang dengan berkuda, Tiga pendekar dan para Senopati Mandalika pun ikut membantu.
Para Senopati dari kedua Kerajaan itu bersiap di tepian hutan, bersama pasukan khusus dari Galuh Permata, mereka bersembunyi di atas pohon.
Sementara Anggala dan Wulan Ayu beserta para pendekar kawakan golongan putih menyusup mendekati perkemahan pasukan Pangeran Roksa Galuh.
Anggala dan sang guru Lesmana bersama Pertapa Naga bergerak paling depan.
Senopati Arya Geni bersama dengan Jaka Kelana, bergerak di belakang Angala dan pertapa Naga.
Dua Pendekar Pemarah pun bergerak mendekati perkemahan para pemberontak, target mereka adalah melumpuhkan para prajurit pemberontak yang berjaga malam itu.
Begitu tengah malam mereka berkelebat secepat kilat ke arah target mereka Masing masing.
Anggala berkelebat bagai kilat ke arah bangunan dari kayu yang di bikin prajurit pemberontak, sebagai rumah tahanan untuk prajurit Galuh permata yang mereka tawan.
Anggala melumpuhkan sekitar sepuluh orang prajurit penjaga yang menjaga bangunan penjara kayu itu, ia bergerak dengan ilmu lari cepat di gabungkan dengan 'Ilmu Langkah Malaikat'. sehingga para prajurit penjaga tak dapat melihat kecepatan Anggala yang bagai kilat itu.
Begitu pun dengan Pertapa Naga, bergerak secepat kilat hingga para penjaga tak sempat menyadari, mereka semua telah menjadi patung hidup, penjaga perkemahan.
Anggala membuka pintu kayu penjara kayu, tempat para prajurit Galuh di tahan.
"Cepat keluar... kita harus pergi dari sini secepatnya..!" bisik Anggala, mereka pun melarikan diri melewati para prajurit yang tertotok, dan bagai patunh itu.
Pertapa Naga menggunakan Ilmu Halimunan, sehingga pasukan prajurit pemberontak dan anggota Partai Teratai Hitam, tertidur pulas.
Arya Geni dan Pendekar Srigala Putih mengiringi para prajurit yang melarikan diri, mereka telah melewati padang rumput, dan mulai memasuki hutan tempat kuda di siapkan untuk mereka.
Para prajurit khusus dan para Senopati melesat turun dari pohon, mereka bersiap melindungi para prajurit mereka yang melarikan diri dari tahanan musuh.
Tampak Anggala dan para pendekar yang lain menyusul dari belakang, tampak di belakang para pendekar itu tak ada yang mengikuti.
Mereka di kejutkan dengan gelak tawa membahana di seantero padanh rumput itu.
__ADS_1
"HA. HA HA.... RUPANYA ORANG ORANG GOLONGAN PUTIH, BISA BERBUAT CURANG...!"
Sekelebat bayangan merah berkelebat ke arah para pendekar golongan putih yang terdiam mendengar suara tawa yang membahana tadi.
Bayangan Merah itu lansung menerjang ke arah Anggala, Anggala melompat menghadang serangan bayangan merah itu.
"Hiaaa.....!"
Tendangan bayangan merah itu beradu dengan telapak tangan Anggala yang berisi Jurus Tapak Naga tingkat tiga.
Desss....!
Bayangan merah itu bersalto ke belakang setelah tendangannya berhasil di hentikan Anggala.
Anggala lansung mengegoskan tubuhnya, dan mengirimkan tendangan bertenaga dalam tinggi kearah bayangan merah itu.
"Heh....!"
Bayangan merah itu terkejut karna Anggala begitu cepat menyerang balik ke arahnya.
Bayangan merah itu cepat melentingkan tubuhnya ke udara, sehingga tendangan Anggala mengenai angin.
Para pendekar golongan putih yang bersama Anggala memperhatikan pertarungan itu.
Lesmana dan Pertapa Naga bisa melihat wajah musuhnya dengan 'Ajian Mata Malaikat'. mereka.
"Anggala gunakan Ajian Mata Malaikat...!" ujar Lesmana mengirimkan suara telepati pada Anggala.
"Baik...! Guru...!" jawab Anggal dengan keras, sambil menerjang ke arah musuhnya dengan jurus tendangan Naga, bagian dari Jurus jurus Ilmu Tapak Naga.
Buat pembaca Pendekar Naga Sakti, jangan lupa baca novel Author yang lain.
SUNDAR ABHINETA: Acton, Romanca
Cinta Dua Zaman: Action, Romanca, fantasy
__ADS_1