Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Misteri Istana Kematian. Menjajal Istana Kematian


__ADS_3

"Kakiku, Anggala. Sakit sekali," keluh kakek Deja Wantara bergetar, tampak tubuhnya mulai membiru. Tanpa pikir panjang lagi, Anggala mempercepat pertolongan pada kakek Deja Wantara. Pendekar Naga Sakti mencoba menarik benda yang tertancap separuh di dalam kaki orang tua itu.


"Aaakhh... Sakit, Anggala," jerit kakek Deja Wantara sambil memegangi kakinya erat-erat. Anggala tidak mempedulikan jeritan kakek tua itu. Anggala terus saja menarik benda tajam sepanjang jengkalan orang dewasa itu dari kaki kakek Deja Wantara.


Setelah berusaha cukup lama Anggala berhasil mencabut benda itu dari dalam luka kaki kakek Deja Wantara. Setelah mencabut Anggala langsung mengalirkan hawa murni kearah luka kaki kakek Deja Wantara. Orang tua itu semakin menjerit kesakitan. Ketika lukanya mulai mengeluarkan darah berwarna hitam bercampur warna hijau tua, pertanda racun yang ada di dalam luka itu mulai berangsur keluar.


Anggala cepat memberikan sebuah pil obat pada kakek Deja Wantara. Orang tua itu menelan obat pemberian Anggala sambil meringis kesakitan. Tubuh orang tua itu bergetar dan berkeringat sebesar biji jagung.


Setelah membatukkan darah berwarna merah kehitaman bercampur buih hijau, akhirnya kakek Deja Wantara terkulai lemah alias pingsan. Untungnya para penyerang itu langsung melarikan diri setelah berhasil melukai kakek Deja Wantara.


"Huh...!"


Anggala menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Pemuda tampak berbaju biru putih itu duduk bersandar di beton dinding istana kematian, di samping kakek Deja Wantara.


Srek! Srek!


Terdengar suara kerusakan di dalam semak-semak, di tengah kegelapan malam, bulan yang bersinar hampir membuat cahaya samar-samar menyinari malam.


"Hup!"


Pendekar Naga Sakti melesat ke arah semak-semak yang bergoyang itu. Dengan begitu cepat gerakannya Anggala telah menangkap seseorang dari dalam rerimbunan semak itu.


"Apa? Kau Sarsih kan?"


Pendekar Naga Sakti hampir saja mengibaskan tangannya hendak menyerang orang yang ada di depannya itu.


"I... Iya, aku Sarsih," jawab gadis itu terbata-bata.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Anggala singkat.


"Aku mencari ayahku, aku mencemaskanya," jawab Sarsih tampak ketakutan.


"Hmmm... Ayahmu ada bersamaku, tapi beliau terluka terkena senjata rahasia orang-orang bertopeng hitam," kata Anggala.


"Dimana dia, Pendekar?"


"Dia ada di sana," tunjuk Anggala, tapi begitu terkejutnya Anggala begitu melihat ke arah tempat ia dan kakek Deja Wantara tadi. Orang tua itu sudah tidak ada di sana. Padahal Anggala meninggalkan kakek Deja Wantara dalam keadaan pingsan.


"Kemana dia, padahal tadi ada disini," kata Anggala seperti berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Dimana ayahku, Pendekar?" tanya Sarsih hampir menangis.


"Huh.. Gara-gara, kau!" dengus Anggala, kesal.


"Kok, aku...?" Sarsih tampak bingung dan keheranan, Pendekar Naga Sakti menyalahinya.


"Jika kau tidak krasak-krusuk di semak itu tadi, kakek tidak akan hilang," desah Anggala tampak menyesal.


"Maaf, maafkan aku, Pendekar. Aku hanya mencemaskan ayahku, jadi aku mencarinya sampai ke sini," ucap Sarsih tampak menyesal.


"Kenapa kau mencari kakek, bukankah Wulan Ayu bersamamu di rumah?"


"Ya, Wulan Ayu berada di rumah, orang suruhan Baginda Raja Kalingga Jaya tidak membolehkan Wulan Ayu keluar rumah, sampai Pendekar kembali," jawab Sarsih lagi.


"Orang suruhan Baginda Kalingga Jaya Karta?"


"Ya, seorang prajurit mengaku suruhan Baginda Raja, melarang kami berkeliaran," tambah Sarsih lagi.


"Sekarang, kau pulanglah. Aku akan mencari Kakek Deja Wantara sampai dapat, aku janji padamu, katakan pada Wulan Ayu, sampai ada kabar dariku, jangan tinggalkan rumahmu," pinta Pendekar Naga Sakti. Sarsih hanya mengangguk perlahan, dan gadis itu pun meninggalkan tempat itu dalam kegelapan malam, yang ada hanya sinar rembulan.


"Huh..! Kemana aku harus mencari kakek?" batin Pendekar Naga Sakti, Akhirnya pemuda itu melompat ke atas dahan sebatang pohon yang ia rasa cukup tinggi, menunggu pagi untuk melanjutkan pencarian.


Kicau burung menyambut pagi membuat Anggala terjaga dari tidurnya. Pemuda itu tertidur di atas dahan sebatang pohon tempat ia menunggu pagi malam ini. Anggala bisa saja membuat api untuk jadi temannya tadi malam.


Tapi Anggala tidak membuat api, ia sengaja menunngu di atas pohon, sambil berharap orang-orang bertopeng hitam itu kembali ke tempat itu. Namun harapan Pendekar Naga Sakti itu nihil.


"Hup!"


Anggala melompat turun dari atas dahan pohon tempat ia istirahat tadi malam, dengan begitu ringan dan sangat cepat. Pemuda berbaju biru putih itu berjalan pelan ke arah pintu depan istana kematian itu.


Pendekar Naga Sakti tidak ingin ada orang yang akan membokongnya. Pemuda itu mengerahkan ilmu 'Baju Besi Emas Tingkat Delapan Belas'. Pelan namun pasti langkah Anggala makin jauh masuk keistana yang terbengkalai itu. Hawa dingin tiba-tiba menusuk hidung.


"Hawa racun, ini kan, hawa racun yang ada di ujung senjata rahasia orang-orang bertopeng itu," batin Anggala. Pendekar Naga Sakti itu cepat menutup aura penciumannya dengan menggunakan kekuatan aura tenaga dalam.


"Hmm.. Jika orang yang masuk kesini kurang peka, atau masih kurang persiapan pasti akan terluka dan mengalami kelumpuhan oleh hawa racun itu," desis murid Lesmana itu.


Baru beberapa langkah Anggala memasuki sebuah ruangan yang cukup besar, namun tidak ada pencahayaan di dalam ruangan itu. Pendekar Naga Sakti langsung merapal sebuah kesaktian, pemberian kakek gurunya. Yaitu ilmu 'Mata Malaikat'. sehingga Anggala bisa melihat dengan jelas walau dalam kegelapan sekali pun.


Trak!

__ADS_1


Set... Set..... Set..!


Anggala menginjak sebuah pecahan batu, rupanya batu itu adalah tombol perangkap. Beberapa batang tombak dengan mata yang begitu tajam meluncur deras dari dalam dinding istana kematian itu.


"Hup!"


Anggala cepat menegoskan tubuhnya ke udara dan berputar beberapa kali, sambil menghindari senjata perangkap yang mengarah kepadanya itu.


"Kurang ajar, banyak sekali perangkap. Pantas istana ini di sebut istana kematian, jika aku tidak menggunakan kesaktian dari kakek Pertapa Naga. Aku juga sudah mati oleh perangkap-perangkap ini," gerutu Anggala.


Anggala terus melangkahkan kakinya memasuki istana itu semakin jauh kedalam. Begitu Anggala memasuki sebuah lorong yang cukup besar yang merupakan penghubung ruang depan istana itu dengan ruang utama.


Set! Set!


Tiba-tiba dari arah depan di dalam kegelapan itu meluncur dua batang senjata rahasia sebesar jempol orang dewasa, sepanjang satu jengkal. Senjata Rahasia itu meluncur begitu deras mengincar dada dan leher Pendekar Naga Sakti.


"Hup!"


Tap! Tap!


Anggala bergerak begitu cepat sambil berputar. Tangan kanannya secepat kilat menangkap dua batang senjata rahasia itu. Secepat kilat pula Pendekar Naga Sakti mengibaskan tangannya, senjata rahasia yang tadi sempat ia tangkap. Kembali di lemparkannya ke arah depan dengan sangat cepat,secepat kilat.


Set! Set!


Senjata Rahasia itu meluncur jauh lebih deras, dari pada saat meluncur ke arah Anggala tadi. Bahkan kecepatannya mungkin dua kali lipat daripada sebelumnya.


"Aaaa.....!"


"Aaaa......!"


Dua kali terdengar jeritan nyaring menyayat hati, di iringi dua orang tampak jatuh terpental dengan tubuh tertembus senjata rahasia benda tajam sepanjang sejengkalan itu, darah merah kehitaman tampak mengalir dari mulut keduanya.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa Rate, Like, Koment, dan Votenya ya, teman-teman.Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2