
Mereka memasuki halaman rumah yang tampak rapi dan bersih, dua buah obor memberi cahaya di depan rumah Ki Sarwala itu.
.
"Nyi, bangun Nyi..! Ada tamu ni..!" panggil Ki Sarwala sambil mengetuk pintu rumahnya itu.
.
"Ya Ki, sebentar..!" terdengar jawaban dari dalam rumah, tidak lama pintu rumah pun terbuka, tampak seorang wanita yang berumur hampir lima puluh tahunan membukakan pintu.
.
"Ayo masuk dulu nak, biar kuda kalian Aki bawa ke kandang kuda di belakang," ujar Ki Sarwala sambil mengambil sebuah obor dan membawa kuda Anggala dan Wulan Ayu ke belakang rumahnya.
.
"Ayo den, silahkan masuk," ajak istri Ki Sarwala pada kedua tamunya itu.
.
"Terima kasih banyak Nyi," ucap Pendekar Naga Sakti itu, mereka pun masuk ke dalam rumah Ki Sarwala.
.
"Lastri, ambilkan air minum untuk tamu kita!" seru istri Ki Sarwala.
"Iya mak, sebentar!" terdengar jawaban dari dalam kamar, tidak lama keluar seorang gadis cantik dari dalam kamar, dan segera berjalan ke dapur, beberapa saat kemudian ia muncul dengan sebuah nampan dari bambu yang berisi kendi dan dua buah cangkir dari potongan batang bambu.
.
"Silahkan minum dulu Den, apa Kalian sudah makan?" tanya istri Ki Sarwala pada kedua tamunya itu.
.
"Terima kasih banyak Nyi, jangan panggil kami Raden, panggil saja Anggala dan ini Wulan Ayu," ucap Anggala sambil memperkenalkan dirinya dan Wulan Ayu.
.
"Kalian pendekar pengembara ya?" nama Nyi Tarsih dan ini Putri kami Lastri,!" Nyi Tarsih memperkenalkan diri.
"Lastri Kau siapkan makanan untuk kedua tamu kita ini!" Pinta Nyi Tarsih pada Lastri.
"Baik, Mak!" Jawab Lastri. Ia lalu bangkit berdiri dan pergi ke dapur. Tidak lama ia pun kembali membawa secembung nasi dan semangkuk lauk dan dua buah piring.
.
Lastri lansung meletakkan tampah berisi cembung nasi dan lauk nya. " Silahkan pendekar makan, makanannya, Kalian pasti lapar, cuma ini yang kami punya!" Suruh Nyi Tarsih pada Anggala dan Wulan Ayu.
.
"Terima kasih banyak Nyi! Sudah mau menerima kami dan memberikan kami makanan dan tempat bermalam!" Ucap Pendekar Naga Sakti.
"Kami makan ya Nyi, Lastri!
"Silahkan Nak Anggala, Nak Wulan.!"
Anggala dan Wulan Ayu pun tanpa malu- malu lagi lansung memakan, makanan yang sudah di siapkan Lastri itu.
.
Nyi Tarsih dan Lastri menemani Anggala dan Wulan Ayu makan, tidak lama Ki Sarwala muncul dari luar rumah sambil tersenyum.
"Makanlah Nak Anggala, Nak Wulan, jangan malu- malu, anggaplah rumah sendiri.!"
"Terima kasih Ki, Aki tidak makan?"
"Aki sudah makan, sebelum pergi meronda tadi!" Jawab Ki Sarwala sambil duduk di samping istrinya, dan putrinya Lastri.
.
Setelah selesai makan mereka mengobrol dengan Nyi Tarsih dan Lastri. Wulan Ayu memberikan beberapa kepeñg uang emas pada Nyi Tarsih, tapi wanita separuh baya itu menolaknya.
.
"Tidak Nak, Mak tidak mau mengambil uang kalian, simpanlah untuk bekal perjalanan kalian nanti,"
__ADS_1
.
"Tapi Nyi, terimalah uang ini, kami tidak enak tidak memberikan satu kepeng pun, kami menginap dan makan di sini!" Pinta Wulan Ayu sambil tersenyum, ia menyodorkan uang emas itu ke tangan Nyi Tarsih.
.
"Mak punya uang Nak Wulan, simpanlah, jika Kalian ingin membayar, bayarlah dengan bantuan! Dan jangan panggil nyi, panggil saja mak, seperti panggilan Lastri!"
.
"Maksud Mak?" Tanya Wulan Ayu penasaran.
"Nak Wulan dan Anggala kan Pendekar? Mak ingin Kalian membantu Orang Desa ini mencari tau, kalau bisa memberantas orang bertopeng hitam yang meneror kampung Talang kuda ini!"
.
"Kalau masalah itu, Mak tidak usah meminta, kami akan membantu orang - orang Desa Talang kuda ini Mak!" Jawab Wulan Ayu sambil memegang tangan mak Tarsih.
.
"Setiap malam aku tidak bisa tidur Pendekar, aku takut orang- orang bertopeng hitam itu datang! Apalagi sekarang kami gadis remaja kampung ini tinggal Beberapa orang," Timpal Lastri wajah nya tampak sedih dan ketakutan.
.
"Lastri tidak usah takut, kami akan melindungi Lastri, dan gadis lainnya di Desa ini," Jawab Wulan Ayu sambil mendekati Lastri.
.
"Baiklah Nak Anggala, Nak Wulan, Aki kembali ke pos ronda dulu, tidak enak terlalu lama meninggalkan kawan-kawan Aki terlalu lama!" Kata Ki Sarwala sambil bangkit dari duduknya.
.
"Ki, Bagaimana kalau Saya ikut meronda juga?" Pinta Pendekar Naga Sakti, sambil ikut berdiri.
.
"Nak Anggala beristirahat lah di rumah, sekalia jaga rumah aki takut Kelompok Topeng Hitam itu lansung datang kesini! Jika Kalian di rumah, aki bisa lebih tenang!" Jawab Ki Sarwala sambil berusaha tersenyum, ada kekhawatiran di wajah laki-laki setengah baya itu.
.
"Iya nak Anggala, Anak tentu lelah setelah berjalan jauh, sebaiknya beristirahat di rumah saja!" Timpal mak Tarsih.
.
.
"Lastri tidak usah takut, malam ini Saya akan tidur bersama Lastri!" Kata Wulan Ayu berusaha menenangkan ketakutan Lastri.
"Wulan, tidak tidur dengan Anggala?" Tanya Lastri dengan wajah kurang enak hati.
"Tidaklah! Kami kan bukan suami istri!" Jawab Wulan Ayu sambil tertawa kecil.
"Jadi Kalian bukan suami istri?"
"Bukan, kami cuma sepasang kekasih!"
"Kalian cocok, yang laki laki tampan dan yang wanita cantik!" Puji Lastri sambil tersenyum.
"Lastri juga cantik!"
"Cantik apanya, sampai sekarang Lastri belum punya kekasih!" Jawab Lastri dengan wajah lesu.
"Belum saja, sabar, esok tentu Lastri dapat kekasih bahkan suami yang tampan!" Kata Wulan Ayu memberi semangat.
.
Anggala hanya tersenyum mendengar celoteh dua orang gadis itu, ia membaringkan tubuhnya di lantai dipan itu, pedang Naga Sakti yang terbalut kain putih di letakkan di sampingnya.
.
Mak Tarsih masuk ke dalam mengambil sebuah bantal dan memberikan pada Anggala.
.
"Nak Anggala beristirahatlah dulu, o iya Lastri ajak nak Wulan masuk ke kamarmu beristirahat!"
__ADS_1
.
"Baik Mak!" Jawab Lastri singkat, ia dan Wulan Ayu beranjak menuju kamar Lastri.
"Kak, Dinda ke kamar Lastri ya?"
"Ya Dinda!"
Anggala tampak berusaha memejamkan mata, Wulan Ayu dan Lastri pun menghilang di balik pintu kamar.
.
Karna lelah setelah berjalan jauh, Anggala pun tertidur. Ketika malam telah mendekati pagi, sekelebat bayangan hitam mendekati rumah Ki Sarwala itu.
.
Bayangan hitam itu bergerak begitu cepat dan begitu ringan, mereka berlompatan di atas atap rumah penduduk tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
.
Tampaknya mereka adalah orang-orang yang menamakan diri Kelompok Topeng Hitam itu, karna orang orang itu semuanya memakai topeng berwarna hitam.
.
Mereka lansung mengepung rumah Ki Sarwala itu. Salah seorang dari mereka menuju pintu depan rumah.
.
Srek....!
Anggota Kelompok Topeng Hitam itu membuka pintu rumah Ki Sarwala itu dengan perlahan, ia agak bingung rumah itu di bagian depan gelap, rupanya pelita yang ada di ruangan itu di matikan oleh Anggala.
.
Orang bertopeng itu berniat menuju pintu kamar Lastri, ia tidak menyadari ada Anggala di dekat dipan ruang depan, yang dari tadi terbangun mendengar ada gerakan di sekeliling rumah Ki Sarwala itu.
.
Anggala yang tidak ingin teledor, sengaja memakai Jurus Telinga Malaikat'. sehingga suara sekecil apa pun akan membuatnya terbangun.
.
Tuk..! Tuk...!
Anggala berhasil menotok jalan darah orang yang mengendap ngendap itu, dengan begitu cepat. Dengan menggunakan 'Jurus Langkah Malaikat'. nya, sehingga musuhnya tidak sempat melihat gerakan Anggala.
.
Teman-temannya tampak bingung hampir setengah jam, yang masuk kerumah itu, belum juga keluar.
.
"Hei! Kau sebaiknya periksa ke dalam, apa yang terjadi dengan Jarsa?" Perintah salah seorang Anggota bertopeng itu, sepertinya ia adalah pemimpin kelompok itu.
.
"Baik!" Jawab orang yang di perintah itu ia pun mengambil obor, dan bergerak menuju pintu rumah Ki Sarwala itu.
.
Begitu orang itu membuka pintu. Tiba tiba.
.
Buak....!
.
"Aaakh....!"
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like, Koment dan favorit ya..
Terima kasih....