
Tidak terasa hampir sebulan Anggala dan Wulan Ayu berada di Kampung Jati Arum ini. Pertemuan para pendekar di puncak gunung pungur tinggal menunggu hari.
"Kak purnama tiga belas tinggal Tiga hari lagi, hari ini sudah tanggal sepuluh," Kata Wulan Ayu sambil duduk di samping Anggala yang lagi menikmati secangkir teh hangat dan cemilan yang di siapkan oleh Kemboja.
"Ya. Kakak tau Dinda, berarti kita harus meneruskan perjalanan kita ke puncak gunung pungur. Menurut Ki Suro kalau kita berjalan kaki mungkin selama tiga hari, namun jika naik kuda sekitar setengah hari, karna harus mendaki," Jawab Anggala sambil meminum teh nya.
"Jadi menurut Kakak kapan kita berangkat?" Tanya Wulan Ayu sambil mengambil sepotong ubi rebus di dalam piring tanah berlapiskan daun pisang di depan Anggala.
"Sebaiknya kita berangkat satu hari sebelum purnama tiga belas, jika kita berangkat terlalu cepat, takutnya para perampok itu masih datang mencari kita. Mereka akan melampiaskan kemarahan mereka pada orang-orang kampung," Jawab Anggala lagi.
"Yang di katakan Kak Anggala benar. Para perampok itu taunya kita di sini, jika mereka kesini dan tidak bertemu kita kemungkinan mereka akan melampiaskan kemarahan dan dendam pada orang-orang kampung ini," Ucap Dewi Arau dari belakang Wulan Ayu seraya mengambil tempat duduk di depan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Baiklah! Suara terbanyak pemenangnya," Jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Jadi Wulan keberatan nih?" Tanya Dewi Arau sambil tertawa kecil.
"Ya tidak lah, lagian di sini banyak teman dan orang-orang kampung ramah-ramah. Jadi saya cukup betah di sini," Jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.
Di tengah asyik mengobrol dan bercanda mereka di kejutkan oleh seorang anak kecil yang berumur sekitar delapan tahun berlari dengan tergesa-gesa memasuki warung Ki Suro itu.
"Paman! Paman....! Hah.. Hah...! Di dalam hutan sana ada saudagar sedang di rampok!" Ucap anak itu tampak terengah-engah.
"Di dalam hutan? Sebaiknya adik minum dulu baru bercerita," Kata Wulan Ayu sambil mengambilkan secangkir air minum dan memberikannya pada anak kecil itu.
Anak kecil itu langsung meminum habis air pemberian Wulan Ayu itu, setelah beberapa saat kemudian barulah ia membuka mulutnya dan berbicara.
"Kami sedang dalam perjalanan dari ladang, dan kami mendengar ada keributan begitu kami selidiki rupanya ada saudagar yang lagi di kepung para perampok Paman!" Ucap anak kecil itu menceritakan apa yang ia lihat di dalam hutan.
"Baiklah, Paman akan melihat kesana. Kau di sini dulu," Jawab Pendekar Naga Sakti sambil bangkit dari duduknya, "Kalian tetaplah di sini, takutnya mereka sengaja memancing kita ke hutan dan yang lain ke Kampung ini," Tambah Pendekar Naga Sakti lagi.
"Kak dinda ikut?" Pinta Wulan Ayu.
"Dinda tetaplah di sini, jika sampai makan siang Kakak belum kembali, baru susul ke hutan," Jawab Pendekar Naga Sakti sambil berjalan ke luar warung. Begitu sampai di luar warung Pendekar Naga Sakti langsung melesat bagai kilat menuju hutan.
Setelah cukup jauh memasuki hutan itu Pendekar Naga Sakti melompat ke atas pohon. Pendekar Naga Sakti berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya sampai ia melihat kerumunan.
Tampak di bawah sana ada sekelompok perampok yang sedang mengelilingi sebuah kereta kuda yang membawa banyak sekali karung.
"He he he..! Juragan, Kau mau menyerahkan hartanya atau menyerahkan nyawamu hah!" Bentak salah seorang perampok yang berkepala botak.
"Jangan Tuan, jangan bunuh saya Kalian boleh ambil semua per punya balang, tapi jangan sakiti per dan anak buah owe. Owe hanya pedagang biasa," Jawab Juragan itu dengar suara bergetar ketakutan. Ternyata pedagang itu berasal dari negeri cina, terdengar dari logat berbicaranya.
"Kau sudah berani melarikan diri dari kami, berarti Kau harus membayar dengan nyawamu, habisi dia!" Perintah Si botak. Tanpa di perintah dua kali anak buah si botak langsung mengayunkan goloknya ke arah leher juragan cina itu.
__ADS_1
Set..!
Crang!
"Aakh...!"
Di saat golok perampok hampir mengenai leher juragan cina itu sebuah ranting kayu melesat bagai kilat menghantam batang golok itu. Perampok itu terkejut sehingga goloknya jatuh ke tanah.
"Bangsat! Siapa yang berani ikut campur urusanku! Siapa pun di sana Keluar!" Bentak Si Botak sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
"Aku di sini Kisanak!" Ujar Pendekar Naga Sakti yang tiba-tiba sudah berada tidak jauh dari kerumunan para perampok itu.
"Heh! Rupanya ada yang mau mengantarkan pada Perampok Hutan Kematian! Anak-anak habisi!" Perintah Si Botak.
"Heaaa...!"
Sekitar sepuluh orang anggota Perampok Hutan Kematian langsung melompat mengepung Pendekar Naga Sakti. Sekitar dua orang langsung melompat menyerang.
Wut!
Wung!"
Suara golok besar Perampok Hutan Kematian itu memecah udara. Mereka tidak tanggung-tanggung, sabetan dan ayunan golok mereka langsung mengincar kepala dan dada Pendekar Naga Sakti.
"Hup!"
Set!
Sut!
Pendekar Naga Sakti kali ini tidak menghindari dengan sigapnya ia menahan gerakan para perampok itu dengan menangkap pergelangan tangan mereka.
Tap! Tap!
"Hah!"
Kedua perampok itu tampak terperanjat, serangan mereka yang mereka rasa sudah begitu cepat dapat di tahan dengan begitu mudahnya.
Buk! Duak!
"Aaakh...!"
Belum hilang keterkejutan mereka kaki Pendekar Naga Sakti bergerak cepat memberikan tendangan beruntun ke arah perut dua orang perampok itu. Lenguhan tertahan keluar dari mulut dua orang perampok itu di iringi tubuhnya mereka terpental ke tanah.
__ADS_1
Bruk!
Dua orang perampok itu langsung kehilangan kesadaran alias pingsan. Melihat dua temannya jatuh yang lain jadi marah dan langsung melompat mengeroyok Pendekar Naga Sakti.
"Heaaa...!!"
Delapan mata golok mengayun cepat ke arah tubuh Pendekar Naga Sakti dari segala penjuru. Pendekar Naga Sakti hanya menyunggingkan senyum tipis menghadapi keroyokan itu.
Wut! Wut!
Trang!
"Hah...!"
Kedelapan anggota Perampok Hutan Kematian itu tampak ternganga. Mereka hampir tidak percaya melihat golok mereka tidak ada satupun yang melukai tubuh Pendekar Naga Sakti. Belum sempat mereka menyadari Pendekar telah menyentakkan tangannya ke samping.
"Hiaaa...!"
"Aaaa.....!!"
Para perampok itu berterbangan bagai daun tertiup angin. Mereka berserakan di tanah dengan mengalami luka dalam yang cukup parah.
"Bangsat! Rupanya Kau mau pamer di depanku anak muda! Heaaa...!"
Bentakan nyaring pimpinan Perampok Hutan Kematian itu, mengiringi tubuhnya melompat dari atas kudanya dan langsung memberikan sebuah tendangan yang mengandung tenaga dalam tinggi.
Desss....!
Tendangan Si Botak itu langsung di tangkis dengan sigap oleh Pendekar Naga Sakti. Si Botak terpaksa bersalto dua kali kebelakang sebelum menjejakkan kaki ke tanah.
"He he he...! Anak muda ternyata ilmu kedikjayaan mu boleh juga, Aku sudah lama tidak bertemu musuh yang berilmu tinggi. He he he...," Si Botak malaj tertawa terkekeh, " Perkenalkan Aku Si Botak yang Bergelar Si Payan Kembar, kebetulan payanku sudah lama tidak memakan korban! He he he...!" Tambah Si Botak lagi.
Sret!
Si Botak menghunus sepasang payan dari balik punggungnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like Koment dan favorit ya teman-teman.
Terima kasih banyak.