Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Keroyokan


__ADS_3

Langit tampak begitu cerah, awan berarak mulai menghitam menghiasi pemandangan. Suara petir dan kilat terdengar dan terlihat saling susul menyusul.


Udara yang mendung terasa begitu sejuk, tapi semua itu tidak di pedulikan oleh orang-orang yang ada di sekitar warung Ki Syarip itu.


Ledakan barusan membuat Wiguna yang di kenal dengan gelar Golok Gagak Kembar terpental hingga menabrak sebatang pohon, kedua goloknya kini tampak berserakan di tanah.


"Wiguna...!" tiba-tiba Sora Gambang melesat langsung membantu Wiguna yang tampak terbaring dengan pakaian bagian dada menghitam dan melepuh.


"Wiguna, Wiguna...!" suara Sora Gambang terdengar lirih, baru saja ia menguburkan salah seorang adik seperguruannya yang tewas akibat bertarung dengan kedua pendekar itu.


"Kak Sora... Maafkan aku, Kak. Ilmu kesaktian pendekar itu sangat tinggi. Ilmu 'Golok Terbang Membelah Bukit'. ku tidak mampu menghadapinya," ucap Wiguna terbata-bata, darah kehitaman tampak mengalir dari mulutnya.


"Kak, sebaiknya kakak tidak bertarung dengan pendekar itu. Dia sangat sakti, Kak, akgh...!" begitu menyelesaikan kata-katanya kepala Wiguna langsung terkulai lemah, mata Si Golok Gagak Kembar itu tampak terbeliak, namun nyawanya sudah terbang dari tubuhnya.


"Wiguna!" teriakan kesedihan Sora Gambang terdengar lantang menggema, wajah dan mata Gagak Setan Merah tampak memerah menahan amarah dan kesedihan. Kini dendam di hati Sora Gambang meluap-luap.


"Heaaah....!" Sora Gambang langsung melesat ke arah Pendekar Naga Sakti sambil melepaskan dua larik sinar merah menyala.


Wuss! Wuss!


Blaaarr.....!


Begitu sinar itu hampir mengenai Pendekar Naga Sakti, ia melentingkan tubuhnya ke udara sehingga kedua sinar itu langsung melesat dan menghantam sebatang pohon yang cukup besar.


Bruumm....!!


Pohon itu langsung patah menjadi dua dan langsung tumbang ke tanah. Anggala tampak berdiri tidak jauh dari tempat Sora Gambang berdiri, sedangkan adik-adik seperguruannya hanya diam memperhatikan.


Sret!


Sora Gambang akhirnya menghunus pedang yang tersampir di balik punggungnya. Sebuah pedang dengan ukiran gagak berwarna merah menyala.


Sinar hitam kemerahan tampak memancar dari mata pedang di tangan Sora Gambang itu. Si Gagak Setan Merah terkenal dengan jurus-jurus pedangnya cukup di segani di kalangan tokoh silat aliran hitam di wilayah selatan ini.


Jurus 'Pedang Gagak Pembelah Langit'. adalah salah satu jurus andalan Perguruan Gagak Hitam. Si Gagak Hitam yang terkenal dengan jurus-jurus Gagak Mata Langit, sudah menurunkan jurus pedang menakutkan itu pada sang murid.

__ADS_1


Tidak banyak yang berhasil menguasai jurus Pedang Gagak Pembelah Langit'. karena tenaga dalam mereka yang menguasai jurus pedang itu harus tinggi.


Pedang Gagak Merah adalah sebuah pedang yang di lumuri racun mematikan. Pedang itu di lumuri dengan racun ular king kobra yang berasal dari hutan larangan.


Besi pedang itu pun bukanlah besi biasa. Itulah sebabnya pedang gagak merah memiliki bobot yang sangat berat. Selain itu pedang gagak merah pun dapat menyedot tenaga dalam penggunanya jika yang memegang pedang gagak merah tidak menguasai jurus 'Gagak Pembelah Langit'.


"Kita harus membantu kak Sora, ilmu pendekar itu sangat tinggi," ujar Prasaja pada keempat temannya. Tiga orang murid Perguruan Gagak Hitam yang mengikuti Gagak Setan Merah mengubur saudara seperguruan mereka pun telah kembali.


"Ya, aku setuju dengan Prasaja. Ayo Lumbang Geni," ajak Wangsa menyetujui perkataan Prasaja. Lumbang Geni hanya mengangguk menyetujui keinginan Prasaja dan Wangsa tersebut.


"Kalian mau apa?" Sora Gambang cukup terkejut melihat adik-adik seperguruannya, maju ke sampingnya.


"Kami akan membantu kak Sora. Kami tidak ingin kakak bertarung sendirian!" jawab Wangsa tegas, "Sudah cukup Wiguna dan Dirga yang tewas di depan mata kami!"


"Huh, kalian hanya diam saat Wiguna bertarung tadi, seharusnya kalian bantu dia!" dengus Sora Gambang.


"Kak Wiguna melarang kami bertarung, katanya dia masih sanggup menghadapi pendekar itu dengan jurus 'Golok Terbang Membelah Bukit'. kak," jawab Wangsa lagi.


"Ha ha ha...! Setia kawan, atau kalian memang pengecut!" ejek Wulan Ayu sambil tersenyum tipis menyungging.


"Baiklah, aku akan membayar dengan nyawamu, bagaimana?" Wulan Ayu semakin membuat Wangsa naik pitam.


"Bangsat!" Ayo, Prasa!" bentak Wangsa sembari melompat cepat sambil mengibaskan golok di tangannya ke arah Wulan Ayu.


"He he he...! Tidak kena!" Wulan Ayu malah tertawa terkekeh sambil menarik tubuhnya ke samping menghindari cercaan golok di tangan Wangsa itu.


"Heaaah....!" Prasaja pun melompat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa sambil menikamkan sepasang trisula berukiran kepala burung gagak itu cukup cepat.


"Eit, main keroyokan ya?! He he...!" Wulan Ayu dengan cepat kembali menarik tubuhnya ke arah samping sehingga serangan Prasaja itu hanya mengenai angin kosong belaka.


"Kau bagianku, Banjingan!" bentak Sora Gambang menudingkan pedangnya ke arah Anggala. Sedangkan Anggala tampak tenang menatap ke arah Sora Gambang dan memperhatikan gerakan tangannya.


"Hati-hati, Kak. Pedang itu mengandung racun yang sangat jahat tampaknya," kata Wulan Ayu sambil terus melayani Wangsa dan Prasaja.


"Lumbang Geni, ajak yang lain bantu Wangsa dan Prasaja!" perintah Sora Gambang.

__ADS_1


"Baik, Kak," jawab Sora Gambang, "Ayo!" seru Sora Gambang pada lima orang lainnya. Tanpa pikir panjang lagi Sora Gambang langsung melompat menyusul kedua temannya yang dari tadi sudah mengeroyok Wulan Ayu.


Kini pertarungan itu tampak berjalan tidak seimbang, satu lawan tujuh orang yang bersenjata. Wulan Ayu akhirnya terpaksa melompat mundur dan segera menghunus pedang elang perak dari warangkanya.


Sring!


Cahaya putih keperakan tampak semburat keluar dari mata pedang pusaka pemberian sang guru Malaikat Pemarah itu.


"Sebaiknya kalian pikirkan baik-baik, sebelum nyawa kalian melayang!" ancam Wulan Ayu sambil menatap tajam ke arah tujuh orang musuh yang kini tampak beringas siap mencincangnya.


"Apa kau takut, gadis tengik. Sehingga kau berusaha menggertak kami bertujuh?" kata Wangsa dengan nada suara yang begitu percaya diri. Wangsa merasa dengan jumlah mereka saat ini akan dapat mengalahkan Bidadari Pencabut Nyawa.


"Kalian akan menyesalinya!" ucap Wulan Ayu sambil menatap tak berkedip.


"Habisi dia....!" perintah Wangsa sambil melompat menyerang, empat orang teman-temannya langsung menyusul sambil menyabetkan golok mereka.


"Hup! Hiyaaat....!" pekik melengking tinggi keluar dari mulut Bidadari Pencabut Nyawa, maka seketika itu juga tubuhnya melesat menyongsong serangan Wangsa dan kawan-kawannya.


Kelebat pedang elang perak yang di sertai jurus 'Pedang Kayangan'. tampak begitu cepat, ketujuh pengeroyok itu hampir tidak mampu melihat gerakan pedang di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Set! Set!


Trang! Trang! Trang!


Begitu cepat pedang elang perak memapas dan menebas putus delapan senjata yang mengarah padanya.


Sret! Crass! Bret!


"Aaaaa.............!!!"


.


.


Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2