
Derasnya tetesan air hujan seakan tidak di rasa oleh tiga orang pendekar yang ada di tengah gelanggang di depan warung itu.
Derasnya hujan membuat anggota Penyamun Kala Hitam yang terluka masih tetap sadarkan diri walau mereka sudah hampir tidak sanggup berdiri.
Kala Sumba tampak bersiap dengan jurus-jurus andalannya, kedua telapak tangan pimpinan Penyamun Kala Hitam itu membentuk mirip sengat kala. Ia merapal jurus 'Kala Hitam Kematian.
"Heeaaahh....!" tanpa mempedulikan air hujan yang mengalir dan membasahi seluruh tubuhnya. Kala Sumba melompat dan melesat kearah Jaka Kelana dengan serangan pukulannya.
"Hup!" begitu tenang Pendekar Srigala Putih itu menyongsong serangan musuhnya dengan jurus-jurus 'Cakar Srigala Putih'.nya.
Pertarungan di tengah gegapnya hujan tampak terjadi dengan sengitnya. Singo Abang tidak ikut campur, namun pemuda dua puluh lima tahunan itu tampak berdiri tidak bergeming di tengah derasnya tetesan air hujan.
Hampir sepuluh jurus sudah berlalu, Kala Sumba masih terus berusaha mencerca Jaka Kelana dengan jurusnya yang mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi. Namun Pendekar Srigala Putih tampak hanya melayani tanpa mau memberikan serangan balik.
"Kisanak, Sebaiknya kau bawa anak buahmu pergi dari sini dan urungkan niatmu mencari Pendekar Naga Sakti, karena dia bukan lawanmu!" kata Jaka Kelana sambil menapaki serangan Kala Sumba, dengan begitu cepat Jaka Kelana bergerak dan mendorong tubuh pimpinan Penyamun Kala Hitam itu kebelakang.
Buak!
"Ah...!" Kala Sumba terhuyung kebelakan sekitar tujuh langkah, namun ia tidak mengalami luka dalam. Kerena Jaka Kelana tidak menggunakan tenaga dalam saat mendorongnya.
"Kau tidak bisa menggertakku, Anak Muda! Heaaah!" secepat kilat Kala Hitam menghunus kudok yang dari tadi masih tergantung di pinggangnya. Sebetan senjata itu terdengar mengaung di tengah hujan.
"Kau rupanya tidak bisa di beri peringatan!" geram Jaka Kelana sambil melesat menyongsong, pendekar dari bukit Kancah itu langsung mengeluarkan jurus 'Srigala Menerkam Mangsa'.
Crass! Srass!
"Argh....!" Kala Sumba langsung terhuyung dengan bahu dan pipi koyak dan bercucuran darah segar, darah di bahu dan di pipi Kala Sumba tambah mengalir deras karena air hujan.
"Argh...!" kudok di tangan pimpinan Penyamun Kala Hitam itu sampai terlepas, ia cepat menotok jalan darah di bahu dan di pipi kirinya untuk menghentikan darah yang bercucuran.
__ADS_1
"Kala Sumba, itu peringatan terakhir dariku, sebaiknya kau bertobat dari sekarang dan jangan coba-coba kembali menjadi penyamun. Jika di lain hari aku bertemu kau masih dengan kejahatanmu. Aku Pendekar Srigala Putih tidak akan mengampuni nyawamu lagi!" ujar Jaka Kelana terdengar datar, namun begitu tegas.
"Pen... Pendekar Srigala Putih, jadi kau Pendekar Srigala Putih? Maafkan aku pendekar," ucap Kala Sumba, "Terima kasih sudah mau mengampuni nyawaku. Aku berjanji tidak akan menjadi penyamun dan ikut campur urusan pendekar dunia persilatan lagi," tambahnya sambil menyusunkan telapak tangan di depan wajahnya.
Setelah meletakkan sekantong uang di tanah, Kala Sumba langsung membantu anak buahnya berdiri dan segera menaiki kuda mereka dan langsung memacu kuda di tengah derasnya hujan.
Jaka Kelana mengambil kantong uang yang di tinggalkan Kala Sumba dan berjalan mendekati Singo Abang, "Ayo, Sahabat. Kita masuk!" ajak Jaka Kelana.
Singo Abang hanya mengangguk sambil mengusap air hujan yang mengalir di wajahnya. Mereka pun berjalan menuju warung tempat mereka istirahat makan barusan.
..........#####********####.......
Angin berhembus sepoi-sepoi, daun-daunan bergoyang perlahan mengikuti hembusan angin. Udara begitu segar, cuaca mendung membuat udara semakin sejuk.
"Wah, dingin ya. Udara Lembah Elang? Apalagi udara mendung begini," kata Raka Adiwangsa sambil menggosok-gosok telapak tangannya.
"Ya, dingin sekali," timpal Aryaguna sambil memandang keseliling tempat itu. Sedangkan Kamandaka hanya tersenyum mendengar celotehan dua adik seperguruannya itu. Mereka memang bukanlah kakak beradik kandung, namun keakraban dan kedekatan mereka melebihi saudara.
Tidak jauh dari tempat itu sebuah bangunan cukup besar di kelilingi pagar kayu tersusun rapi, sebuah rumah terbuat dari kayu tampak bersih dan begitu rapi. Bunga-bunga terlihat bermekaran di depan rumah kayu sederhana itu.
"Arai, Arau, Aurora! Apa kalian tidak mendengar langkah kaki menuju tempat ini?" ujar Datuk Balung yang di kenal dengan gelar Elang Hitam tanpa membuka matanya, laki-laki tua yang rambutnya sudah memutih itu masih duduk bersemedi di teras rumahnya.
"Maaf, Kakek Guru. Kami belum mampu mendengar suara langkah yang Kakek Guru katakan," jawab Dewi Arau sambil menjura memberi hormat.
"He he he....! Menurut penglihatan batinku, dan suara langkah yang begitu tenang dan sangat ringan itu rasanya aku tidak salah lagi," kata Datuk Balung sambil tertawa terkekeh. Namun matanya tetap tertutup dengan posisi tetap duduk bersemedi.
"Siapa yang datang, Kakek Guru?" Ketiga Elang tampak penasaran.
"He he he...! Siapa lagi kalau bukan murid Pendekar Tongkat Naga Emas, He he he...!" tawa Datuk Balung terkekeh.
__ADS_1
"Benarkah, Siapa yang datang, Kakek Guru? Kamandaka, Raka, atau Arya?" ketiga muridnya serentak bertanya.
"He he...! Itu rahasia, sebaiknya kalian mandi. Apa kalian tidak malu pada mereka, jika kalian belum mandi hari ini karena sibuk mengurus rumah dan berlatih?"
"Iya, ya. Kita belum mandi hari ini. Ayo kita mandi!" ajak Dewi Arau langsung melesat ke arah belakang rumah mereka. Dewi Pingai dan Dewi Aurora langsung menyusul setelah saling pandang dan tersenyum senang.
"Kak, semangat sekali nih?" kata Dewi Pingai sambil menceburkan diri ke dalam air sungai di ikuti Dewi Aurora.
"Memangnya kau tidak semangat, Raka datang?" Elang Merah balik bertanya.
"Kakak," Dewi Pingai tersipu malu. Sedangkan Dewi Aurora hanya senyam-senyum, "Semangat sih, semangat. Tapi sekali lihat yang datang orang lain, pasti pada lesu," kata Dewi Aurora sambil mandi dan menggosok badannya.
"Jangan bilang orang, sempat Aryaguna yang nggak hadir, ada yang manyun. Nggak mau di tegur," ledek Dewi Arau sambil tertawa.
"Namanya juga rindu, ya'kan Aurora?" sela Dewi Pingai.
"Iya tuh, Kau Arau. Kalau kak Kamandaka yang tidak datang, kita yang di marahi," timpal Aurora sambil tersenyum.
"Kompak ya, kalian berdua meledek kakak!" kata Dewi Arau sambil menyiramkan air dengan telapak tangannya ke arah Dewi Pingai dan Dewi Aurora.
"Auuu......! Ha ha ha....!" pekik dan tawa mereka bertiga terdengar riuh sambil saling menyimburkan air ke satu sama lainnya.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Readers, jejak yang kalian tinggalkan adalah penyemangat author dalam berkarya...
__ADS_1
Terima kasih banyak...🙏🙏🙏🙏