Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepak Terjang Tiga Pendekar Mesum. 05


__ADS_3

"Hup!" Pendekar Naga Sakti melompat ke atas dahan pohon yang cukup tinggi begitu melihat sebuah bangunan besar yang di kelilingi pagar terbuat dari kayu bersusun rapi. Wulan Ayu dengan Kenanga pun ikut melompat ke atas dahan pohon untuk melihat keadaan.


Terlihat dari atas ini, keadaan di dalam pagar kayu bersusun dengan ujung membentuk runcing menghadap ke atas.


Sekitar dua puluh orang berpakaian merah dengan golok di pinggang hilir mudik di dalam area rumah besar di dalam pagar itu.


"Penyamun Beruang Merah! Kenapa mereka di sini?" bisik Kenanga bagai bertanya pada dirinya sendiri. Mata gadis itu menatap tajam ke arah bangunan besar yang di kelilingi pagar kayu dengan begitu tepat itu.


"Siapa itu Penyamun Beruang Merah, Kenanga?" tanya Wulan Ayu tanpa mengalihkan pandangannya.


"Penyamun Beruang Merah itu adalah para penyamun yang menguasai daerah lembah yang bergandengan dengan sungai musi ini, mereka sangat terkenal kekejaman dan kesadisan mereka dalam meneror orang dan para juragan kaya yang melewati tempat ini," jelas Kenanga.


"Jadi Pendekar Mesum itu kaki tangan mereka atau sebaliknya?"


"Itulah yang belum ku mengerti, Wulan. Tapi yang jelas mereka ada hubungan dengan Tiga Pendekar Mesum itu," jawab Kenanga. Sementara Anggala tanpa bersuara menatap tajam ke arah bangunan yang berjarak sekitar lima puluh tombak di depan mereka itu.


"Ayo!"


Setelah mengajak Pendekar Naga Sakti melesat bagai kilat ke arah bangunan besar itu. Sebuah pukulan bertenaga dalam tinggi dari di arahkan ke gerbang depan bangunan itu.


Buuummm....!


Braaakk...!


Pintu gertbang terbuat dari susunan kayu sebesar kepala orang dewasa itu langsung hancur berkeping-keping. Dua orang penjaga di bagian sisi kanan dan kiri tampak ternganga tanpa mampu berkata apa-apa.


Setelah Pendekar Naga Sakti menjejak tanah di depan mereka, barulah keduanya sadar.


"Heh... Siapa kau? Berani merusak pintu gerbang rumah Ujang Akra!" bentak pengawal pintu itu walau ia sebenarnya agak ragu, tapi daripada nanti di bunuh Beruang Merah. Ia terpaksa pasang lagak.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku! Aku datang mencari Ujang Akra!" jawab Pendekar Naga Sakti sengit.


"Kau cari mati. Hah!"


Dua orang pengawal itu langsung menghunus golok besar dari pinggang mereka, tanpa banyak bicara keduanya langsung melompat menyerang Anggala.


"Hih..!"


Begitu cepat, tanpa di sadari kedua laki-laki berpakaian merah itu. Tiba-tiba saja mereka sudah terpental ke tanah.

__ADS_1


Bruk!


"Aaa...!"


Hanya jeritan dalam keterkejutan keduanya yang terdengar di susul tubuh mereka nyungsep di tanah.


Sekitar dua puluh orang laki-laki berpakaian merah dengan wajah hitam dan penuh brewokan tak terurus, muncul dari arah rumah besar di tengah pagar itu.


"Ha ha ha...! Kak Anggala, tampaknya ada sasaran empuk tuh," cibir Wulan Ayu sambil menatap ke arah orang-orang berpakaian merah itu. Wulan Ayu dan Kenanga baru saja menjejak kaki di belakang Pendekar Naga Sakti itu.


"Mereka anak buah Beruang Merah, begitu mudah di kalahkan," gumam Kenanga seperti berkata pada dirinya sendiri.


Dewi Selendang Kuning itu tampak terkesima melihat dua orang anggota Penyamun Beruang Merah itu di hajar dengan begitu mudahnya oleh Pendekar Naga Sakti. Diam-diam gadis cantik berbaju biru dengan selendang kuning itu menatap kagum ke arah Anggala.


"Seandainya di sini tidak ada Wulan Ayu. Aku sudah pasti jatuh hati padamu, Pendekar Naga Sakti," bisik Kenanga dalam hati.


"Siapa dia? Dia begitu mudah menghancurkan gerbang itu?" bisik salah seorang anggota Penyamun Beruang Merah itu. Seorang laki-laki berbadan kekar denga baju rompi merah berjalan menyibak kedua puluh orang laki-laki berpakaian merah itu.


"Ho ho ho...! Rupanya ada yang mengantarkan nyawanya kesini!" terdengar mengaum suara laki-laki berbaju rompi merah itu. Suaranya di keluarkan dengan tekanan tenaga dalam yang cukup tinggi.


Anggala hanya tersenyum tipis sambil menatap tajam ke arah orang-orang yang ada di depannya itu. Wulan Ayu tampak begitu tenang memandang ke arah orang-orang berpakaian merah, berwajah seram tersebut.


"Hi hi..! Aku malah kasian padamu, kisanak. Katanya Penyamun Beruang Merah itu begitu terkenal di daerah ini, tapi kenapa kalian malah menjadi penjaga rumah para pendekar mesum itu," yang menjawab adalah Wulan Ayu denga nada mengejek.


"Kurang ajar. Dia berani mengejek Penyamun Beruang Merah! Habisi mereka...!"


Begitu perintah keluar. Dua puluh orang berpakaian merah dengan menghunus golok besat mereka, mereka langsung mengadakan serangan ke arah Anggala, Wulan Ayu dan Kenanga. Kenanga tampak agak ragu-ragu karena ia mengetahui sepak terjang Penyamun Beruang Merah itu.


"Hiyaaa...!"


Lain dengan Wulan Ayu dan Anggala, kedua pendekar muda itu langsung menyongsong maju. Dalam beberapa gerakan yang sangat cepat, sulit di ikuti mata biasa. Hampir separuh dari dua puluh orang anak buah Beruang Merah itu bergelimpangan di tanah.


Mereka meringis kesakitan dengan darah mengalir dari bibir mereka. Kenanga tampak tercengang, setengah tidak percaya melihat dua puluh orang penyamun yang terkenal kejam dan sadis itu begitu mudah di kalahkan.


Kenanga baru ingat jika yang bersamanya adalah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa. Barulah gadis itu merasa lega, ia sendiri tampak menganggur karena kedua puluh anak buah Beruang Merah itu bergelimpangan tidak ada yang dapat melewati Anggala dan Wulan Ayu.


Set! Set!


Para anggota Penyamun Beruang Merah itu mulai mengatur penyerangan. Mereka memainkan jurus-jurus golok besar mereka sambil bergerak ke samping. Kini Anggala dan Wulan Ayu telah tergepung dari segala arah. Namun Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa tampak tersenyum memandang ke arah para pengepung mereka itu.

__ADS_1


"Heaaa...!"


Para Penyamun Beruang Merah itu langsung melompat dengan taktik serangan bergantian, sabetan dan tebasan golok mereka saling silih berganti. Serangan mereka pun susul menyusul.


"Hiyaaa...!"


Wulan Ayu melesat cepat dengan memakai ilmu 'Baju Besi tingkat dua belas'. gadis itu melengkapi serangannya dengan jurus 'Tapak Dewa'. pemberian kakek Sura Jaya yang kini telah menganggap mereka berdua sebagai murid.


Gerakan Bidadari Pencabut Nyawa begitu cepat dan begitu lincah. Setiap kibasan golok yang mengarah padanya di hindari dengan gesit. Sambil bergerak menghindar Wulan Ayu menyempatkan diri menyorongkan telapak tangannya ke arah tubuh para penyamun yang ada di dekatnya.


"Aaaa.....!"


Setiap gerakan lesatan telapak tangan gadis cantik berbaju serba biru itu mengenai tubuh lawannya. Setiap itu pula anak buah Beruang Merah itu terpental ke tanah dan tidak mampu bangun lagi. Jangankan untuk bangun berdiri kebanyakan mereka langsung tewas seketika.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Favorit


Dan Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2