Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang. Kelemahan


__ADS_3

Dewi Aurora tampak terbatuk. Ada darah yang mengalir dari sela-sela bibirnya ranumnya. Dewi Aurora cepat mengusap darah dari sela bibirnya dan segera bersiap kembali, untuk bertarung.


"Aurora, jangan paksakan diri. Kita hadapi ilmu iblis itu bersama-sama!" ucap Bidadari Pencabut Nyawa sambil memegangi bahu Elang Hijau yang hampir terhuyung. Sementara itu yang terjadi dengan Jagat Alam juga sama, walau tidak membatukkan darah. Namun tampak darah merah kehitaman mengalir dari sudut bibir hitam Jagat Alam.


"Terima kasih Kak Wulan," ucap Dewi Aurora sambil berusaha tersenyum. Dewi Arau dan Dewi Pingai pun telah berdiri di sampingnya.


"Sama-sama, kita hadapi dia bersama-sama. Aku yakin dia punya kelemahan!" kata Bidadari Pencabut Nyawa sambil tersenyum. Pedang elang perak telah tergenggam ditangan kanannya.


"Ilmu Iblis Warok Singa Merah itu ternyata sulit juga dihadapi, pantasan mereka bisa menjadi raja para perampok di wilayah gunung pungur ini," gerutu Wulan Ayu.


"Ya, kesaktian mereka yang satu ini membuat kita cukup kerepotan," tambah Dewi Arau sambil bersiap kembali dengan 'Jurus Pedang Elang Menembus Awan'.


"Kita coba serang dari atas dan bawah, Arau dan Pingai dari bawah, aku dengan Aurora dari atas secara serentak," usul Bidadari Pencabut Nyawa. Ketiga murid Elang Hitam tersebut, hanya mengangguk menyetujui.


"Baiklah, kalau kalian sudah setuju," ucap Sang murid Malaikat Pemarah dan Bidadari Galak, ia berusaha tersenyum walau masih ada noda darah di sudut bibirnya. Keempat pendekar wanita itu bersiap dengan jurus andalan mereka masing-masing.


"Hup!"


"Hiyaaa...!"


Bidadari Pencabut Nyawa melompat keudara dengan 'Jurus Pedang Kayangan tingkat lima. Setelah berada di udara beberapa saat. Bidadari menukik tajam dengan kecepatan tinggi. Dewi Aurora cepat menyusul di samping Wulan Ayu dengan ' Jurus Elang Menembus Awan.


"Heaaa...!"


Jagat Alam dengan ilmu singa merahnya menyongsong serangan empat gadis cantik itu. Gerakan tokoh hitam gunung pungur itu cukup cepat.


Trang! Trang!


"Hehehe...! Pedang kalian belum mampu melukaiku gadis-gadis!" ejek Jagat Alam sambil menapaki serangan pedang Dewi Pingai dan Dewi Arau. Serangan Dewi Aurora dan Wulan Ayu tidak sempat ia hindari.


Trang! Trang!


Wut! Wut!


Bidadari Pencabut Nyawa dan Elang Hijau cepat melentingkan tubuh mereka keudara. Kepala Jagat Alam yang terkena serangan pedang mereka tidak mengalami apa-apa. Bahkan Jagat Alam sambil tertawa terkekeh balik menyerang dengan cakar singanya.


Buak!

__ADS_1


"Aakh.!"


Warok Singa Merah ketiga tersebut terjajar mundur ke belakang sekitar satu tombak terkena tendangan Dewi Arau. Elang Merah dan Elang Kuning segera melompat mundur.


"Pingai, Wulan. Kelemahan Ilmu Singa Merah Jagat Alam tampaknya di bagian tubuh. Tandanya dia terpukul mundur saat ku tendang tadi," ucap Dewi Arau.


"Ya. Aku juga sempat melihat, dia melindungi bagian tubuhnya. Tampaknya taktik serangan kita tadi cukup berhasil. Kali ini kita ubah pola setangan kita. Kalian menyerang dari atas terlebih dulu, baru kami berdua dari bawah menyusul," usul Bidadari Pencabut Nyawa.


"Baiklah...! Kali ini kita harus dapat melukai tubuhnya. Namun kita harus berhati-hati, jangan sampai cakar singanya mengenai titik lemah ditubuh kita," bisik Dewi Arau dengan pelan.


"Baik! Kak!" jawab Dewi Pingai dan Dewi Aurora berbarengan. Sedangkan Bidadari Pencabut Nyawa hanya menganggukkan kepala sambil mempersiapkan diri, dengan jurus andalannya.


"Bangsat! Para gadis ini memakai taktik keroyokan dua arah. Aku harus berhati-hati, jangan sampai pedang elang perak itu mengenai tubuhku," guman Jagat Alam membathin. Amarahnya yang tadi menggebu tampaknya harus di tahan jika tidak ingin tewas seperti kakaknya Jagat Pati.


"Hiyaaa....!"


Elang Merah dan Elang Kuning melompat kearah Jagat Alam dari dua sisi berlawanan. Melihat serangan dua gadis itu dari arah atas Jagat Alam hanya tersenyum tipis. Jagat Alam tidak menyadari jika Wulan Ayu dan Dewi Aurora juga bersiap menyerangnya.


"Heaaa...!"


Wut! Dewi Arau langsung menyusulkan sebuah tendangan bawah kearah dada Jagat Alam. Namun dengan cepat Jagat Alam menggeser tangan kanannya kebawah menapaki tendangan Dewi Arau dan Dewi Pingai yang susul menyusul itu.


Dik! Dik!


Jagat Alam hanya terjajar mundur sekitar dua langkah kebelakang sambil membuang hempasan tenaga tendangan Dewi Arau dan Dewi Pingai.


"Hup! Hiyaaat...!"


Bidadari Pencabut Nyawa dan Dewi Aurora melesat cepat dari arah bawah. Bidadari Pencabut Nyawa dari arah kanan dan Dewi Aurora dari arah kiri.


Set! Wut!


"Heh!"


Jagat Alam terkejut setengah mati, ketika Bidadari Pencabut Nyawa tiba-tiba telah berada cukup dekat dengannya. Bidadari Pencabut Nyawa yang berniat mengecoh Jagat Alam menggunakan pukulan tenaga dalam ditangan sebelah kirinya.


Tap! Dess...! Jagat Alam cepat menangkis serangan tangan kiri Bidadari Pencabut Nyawa dengan Lengan kanannya. Bidadari Pencabut Nyawa tersenyum tipis karena berhasil membuka arah serangan selanjutnya.

__ADS_1


Creb!


"Aaakh...!"


Jagat Alam meringis kesakitan. Ketika dada kanannya tertembus pedang elang perak yang bergerak begitu cepat. Jagat Alam berusaha mengayunkan cakar tangan kirinya kearah wajah Wulan Ayu.


Dik! Dewi Aurora bergerak cepat menahan gerakan tangan kiri Jagat Alam itu. Dewi Aurora langsung menghujamkan pedang di tangan kanannya kearah perut Jagat Alam.


Cress!


"Aakh..!"


Untuk kedua kalinya Jagat Alam melenguh kesakitan. Darah segar kehitaman menyembur dari mulutnya ketika tendangan kaki Bidadari Pencabut Nyawa telak menghantam ulu hati Jagat Alam. Tubuh Warok Singa Merah ketiga tersebut harus terlempar sekitar lima tombak kebelakang.


Beberapa saat Jagat Alam tampak menggelepar. Tubuhnya berkelonjotan sebelum akhirnya diam tidak berkutik. Jagat Alam pun tewas dengan mata melotot dan tubuh bersimbah darah. Dari mulutnya mengalir darah segar kehitaman.


"Huakh..!"


Dewi Arau jatuh berlutut sambil memegangi dadanya. Darah mengalir dari sudut bibirnya.


"Kak Arau..!" ucap Dewi Pingai cepat membantu sang kakak, "Aku tidak apa-apa, hanya luka dalamku belum sempat pulih, sudah dipaksa menggunakan tenaga dalam," jawab Elang Merah berusaha menenangkan sang adik. Ia menyarungkan sepasang pedangnya, kewarangka yang ada dibalik punggungnya.


"Kau harus mengobati luka dalammu, Arau. Sebaiknya kita cepat mengobati luka dalam kita, nanti kelamaan," usul Bidadari Pencabut Nyawa memberi saran.


"Wulan Ayu benar, cepat kalian obati luka dalam kalian, kami juga akan mengobati luka dalam kami," perintah Dewi Arau pada kedua adik-adiknya.


"Baik! Kak," jawab Dewi Pingai dan Dewi Aurora berbarengan. Keduanya langsung duduk bersemedi mengikuti kemauan sang kakak. Bidadari Pencabut Nyawa pun langsung bersemedi mengobati luka dalamnya. Begitupun dengan Dewi Arau.


Sementara itu Kamandaka dan kedua adik seperguruannya. Hampir menyelesaikan orang-orang berpakaian ninja itu. Puluhan orang-orang berpakaian ninja itu kini bergelimpangan ditanah. Melihat banyak teman-teman mereka tewas orang-orang berpakaian ninja itu yang masih hidup memilih melarikan diri.


"Hehehe..! Itu bagus, kalian masih punya keinginan untuk hidup," kata Kamandaka sambil tertawa terkekeh. Sedangkan Aryaguna dan Raka Adiwangsa hanya ikut menggertak, membuat orang-orang berpakaian ninja itu tambah mempercepat larinya.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2