Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang. Jagat Satra Tewas


__ADS_3

Kamandaka dan kedua adik seperguruannya. Tampak memperhatikan pertarungan Pengemis Gila dengan Datuk Prabang Kara dengan begitu seksama. Sesekali Kamandaka berteriak menyemangati Pengemis Gila.


"Hajar dia Kek..... Jangan diberi ampun. Aku mendukungmu!" teriak Kamandaka sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat Datuk Prabang Kara kerepotan menghadapi Dedengkot golongan putih yang berpakaian pengemis tersebut.


Wulan Ayu dan Tiga Elang pun ikut menyaksikan pertarungan. Tapi mereka tidak memperhatikan pertarungan Pengemis Gila dengan Datuk Prabang Kara. Namun mereka memperhatikan pertarungan Pendekar Naga Sakti dengan Manusia Singa Merah jelmaan Jagat Satra tersebut.


Pendekar Naga Sakti setelah memberikan obat pada Bidadari Pencabut Nyawa tadi langsung kembali berhadapan dengan Jagat Satra dan kembali bersiap dengan Jurus Pedang Sembilan Naga.


Setelah lebih dari sepuluh jurus dan mengadu kecepatan Manusia Singa Merah dan Pendekar Naga Sakti tampak saling melompat kebelakang. Kedua pendekar itu saling meningkatkan kekuatan. Pendekar Naga Sakti akhirnya memutuskan menggunakan 'Jurus Pedang Sembilan Naga'. tingkat tujuh Pedang Naga Bayangan.


Sementara itu Manusia Singa Merah jelmaan Jagat Satra mempersiapkan diri dengan 'Jurus Keris Neraka Merenggut Jiwa'. tingkat tujuh, Pijar Bunga Api Membakar Raga.


"Wulan Ayu, tampaknya Kak Anggala dan Jagat Satra akan melakukan pertarungan akhir, dilihat dari kekuatan yang mereka gunakan," ucap Dewi Arau sambil memperhatikan pertarungan Pendekar Naga Sakti dengan Jagat Satra itu.


"Ya, aku pun melihat itu, dilihat dari jurus yang kak Anggala gunakan, adalah jurus pedang sembilan naga tingkat tinggi, aku belum pernah melihat kak Anggala menggunakan jurus itu," sambung sang Bidadari Pencabut Nyawa tanpa mengalihkan perhatiannya.


Pedang di tangan Pendekar Naga Sakti kini berputar disekeliling tubuhnya. Kecepatan gerakan pedang itu begitu cepat. Sehingga yang terlihat hanya bayangan puluhan pedang bergerak disekeliling tubuh sang Pendekar Naga Sakti.


Jagat Satra pun tidak mau kalah, ia memainkan kerisnya disekitar dadanya, tusukan dan tikaman keris itu begitu cepat. Sehingga yang terlihat hanya bayangan puluhan keris didepan dadanya.


"Heaaa....!"


Jerit melengking keluar dari mulut Jagat Satra. Maka seketika itu juga tubuhnya melesat bagai kilat kearah Pendekar Naga Sakti.


"Hiyaaa....!"


Pendekar Naga Sakti pun melesat menyongsong. Kecepatan kedua pendekar itu bagai kilatan kilat yang saling bertemu. Suara benturan senjata mereka terdengar susul-menyusul. Cukup lama dua bayangan itu saling beradu. Udara panas terasa dari angin yang mulai mengitari pertarungan kedua pendekar itu.


Dewi Arau bersama kedua adiknya hampir tidak dapat melihat jalan pertarungan antara Pendekar Naga Sakti dengan Jagat Satra itu. Kerena angin yang berputar disekeliling keduanya mulai menutupi pandangan.


Tapi tidak bagi Bidadari Pencabut Nyawa. Gadis cantik berbaju biru itu menggunakan 'Jurus Mata Bidadari'. Sehingga ia masih melihat pertarungan itu dengan begitu jelas.


Cukup lama Pendekar Naga Sakti dengan Jagat Satra mengadu kecepatan. Dengan kecepatan yang sulit di lihat mata telanjang sebuah sambaran ujung pedang naga sakti berhasil mengenai dada sebelah kanan Jagat Satra.


Sret!

__ADS_1


"Aakh..! Hingga pada suatu waktu terdengar lenguhan kesakitan dari tengah pertarungan. terlihat Jagat Satra terlempar ketanah sambil berlutut. Tangan kiri Warok Singa Merah satu itu memegangi dadanya yang mengalir darah. Dari sela sela bibirnya mengalir darah segar.


"Huakh....!"


Jagat Satra memuntahkan darah segar. Tangan kanannya masih menggenggam keris hitam yang ujungnya tertancap ketanah sebagai penopang tubuhnya. Angin kencang yang berputar disekitar arena pertarungan mereka kini telah sirna.


Jagat Satra berusaha menoleh kearah Pendekar Naga Sakti walau agak lemah. Sementara itu Pendekar Naga Sakti hanya berdiri diam sekitar dua tombak didepan Jagat Satra tersebut.


"Kau... Kau memang hebat anak muda, Kau mampu mengalahkan Jurus Manusia Singa Merahku. Uhuak.... Uhuakh...!" kata Jagat Satra lemah. Darah segar menyembur dari mulutnya. Perlahan tubuh Jagat Satra jatuh tertelungkup ketanah. Akhirnya Jagat Satra tewas bermandikan darah. Tubuhnya pun telah kembali kewujud manusianya.


"Sungguh tragis, Seorang dedengkot dunia persilatan golongan Hitam, harus tewas menggenaskan," ucap Pendekar Naga Sakti sambil menyarungkan pedang naga sakti kedalam warangka yang ada di balik punggungnya.


"Kak Anggala! Kakak tidak apa-apa?" tanya Bidadari Pencabut Nyawa yang sudah berada disampingnya.


"Alhamdulillah.. Kakak tidak apa-apa, Dinda," jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum, "Bagaimana dengan luka dalam Dinda?" ujar Pendekar Naga Sakti balik bertanya.


"Luka dalam dinda sudah sembuh, setelah menelan obat pemberian Kakak tadi," jawab Bidadari Pencabut Nyawa sambil tersenyum manis, tanpa malu-malu ia lansung memeluk Pendekar Naga Sakti dengan mesra.


"Malu... Ah... Ada Tiga Elang tuh," kata Pendekar Naga Sakti sambil tertawa.


"Eh, iya... Kakek Pengemis Gila, mana?" tanya Pendekar Naga Sakti.


"Kakek Pengemis Gila sedang bertarung dengan tokoh hitam yang dia panggil Prabang Kara, Tokoh hitam itu menggunakan ilmu Barong Hitam," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum manja.


Mereka akhirnya memutuskan untuk melihat pertarungan Pengemis Gila dengan Datuk Prabang Kara yang telah berubah menjadi Barong Hitam.


Pertarungan kedua dedengkot tokoh silat itu berlangsung begitu sengit. Kecepatan dan kekuatan tenaga dalam mereka kini menjadi penentu siapa pemenang dari pertarungan itu.


"Hehehe...! Prabang Kara, ilmu Barongmu ini hanya bisa membuat takut anak kecil, bukan aku yang sudah tua bangka ini, hehehe...!" tawa Pengemis Gila sambil terkekeh sambil berkelit menghindari cakaran kuku hitam BarongHitam jelmaan Datuk Prabang Kara tersebut.


"Hoaarr....!"


Barong Hitam jelmaan Datuk Prabang Kara mengembor marah, ia semakin mempercepat serangannya. Namun dengan gesitnya Pengemis Gila menangkis serangan cakar Datuk Prabang Kara itu dengan tongkat rotan semabunya.


Plak! Dik! Serangan cakar Datuk Prabang Kara yang berbentuk cakar kuku berwarna hitam itu tidak mampu menembus pertahanan Pengemis Gila yang tampak cukup santai menghadapi serangan itu.

__ADS_1


"Heh!" Datuk Prabang Kara bersalto dua kali kebelakang. Setelah menjejakkan kakinya ditanah. Datuk Prabang Kara mempersiapkan sebuah pukulan kesaktian yang menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi. Datuk Prabang Kara dalam wujud Barong Hitamnya mempersiapkan ' Pukulan Barong Hitam Membakar Bumi'. Sebuah pukulan yang hanya bisa ia gunakan dalam wujud Barong Hitam itu.


"Hehehe...! Prabang Kara ilmu apa lagi yang Kau punya heh! Kau mau adu kesaktian denganku, boleh...Hehehe...!" tawa Pengemis Gila terkekeh. Namun ia juga mempersiapkan diri dengan sebuah pukulan yang cukup tinggi. 'Pukulan Dewa Mabuk Menembus Awan'.


"Heaaa.....!!" Barong Hitam jelmaan Datuk Prabang Kara merapatkan kedua telapak tangannya yang berkuku panjang itu, di depan dada. Telapak tangan kanannya diatas, dan telapak tangan kirinya di bawah. Perlahan Barong Hitam merenggangkan dua telapak tangannya. Sebuah cahaya merah kehitaman muncul di tengah-tengah kedua telapak tangannya.


Cahaya merah kehitaman itu makin membesar, sehingga melebihi besar buah kelapa. Cahaya merah itu perlahan disorongkan kedepan dadanya dengan perlahan.


Sementara pengemis gila merapatkan telapak tangannya disamping pinggang kanannya. Cahaya putih bersinar menyelubungi tangan pendekar tua itu. Cahaya itu menyelubungi kedua telapak tangannya sampai kepangkal siku.


"Mati Kau Pengemis Gila! Heaaa...!"


Bentakan Barong Hitam terdengar parau, ia menghentakkan telapak tangannya kedepan. Cahaya merah itu meluncur cepat bagaikan kilat kearah Pengemis Gila. Pengemis Gila pun tidak tinggal diam.


"Heaaa...!"


Cahaya putih yang menyelubungi kedua telapak tangan Pengemis Gila tersebut meluncur cepat menghadang cahaya merah kehitaman dari tangan Barong Hitam jelmaan Datuk Prabang Kara.


Desss....!! Desss....!


Duaaaaarrrr.......!!"


.


.


Bersambung...


Jangan lupa, tetap dukung novel ini ya teman-teman, like, Koment dan Votenya. Sebagai dukungan untuk kelanjutan novel ini.


Terima kasih banyak.


.


.

__ADS_1


__ADS_2