Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Kepedulian Para Sahabat


__ADS_3

Awan terlihat berarak di bawah langit, matahari bersinar terang. Angin bertiup pelan membuat dedaunan bergoyang perlahan, hembusan angin menelisik mengurangi panas menjelang sore.


Desa Gragan tampak ramai dengan orang-orang berlalu lalang kembali dari aktivitas harian mereka.


Keadaan warung Ki Syarip yang tidak begitu ramai membuat Anggala dan Wulan Ayu dapat duduk di sebuah meja di sudut dalam warung.


"Kak, Kak Anggala kepikiran nggak sih masalah ramalan Kakek Peramal tentang kacaunya dunia persilatan dan hilangnya pendekar dari Lembah Naga?" Wulan Ayu mengeluarkan suara.


"Sebenarnya kakak sempat kepikiran juga Dinda, tapi ramalan itu belum tentu terjadi Dinda," jawab Anggala tenang sambil menghirup teh dari cangkir bambu.


"Dinda pernah mendengar cerita tentang Kakek Peramal itu, kata kakek Malaikat Pemarah ramalan kakek Peramal Sinting jarang meleset," kata Wulan Ayu agak cemas.


"Kan kakek Peramal Sinting cuma berpesan agar kakak hati-hati menghadapi dua orang tokoh silat golongan hitam yang merencanakan menguasai dunia persilatan Pulau Andalas, Dinda," jawab Anggala masih dengan ketenangannya.


"Bukankah pesan Pendekar Bangau Putih kakak di larang ikut pertemuan di puncak Gunung Kerinci?"


"Ya, Pendekar Bangau Putih dan Ki Sudrajat sempat meminta kakak tidak ikut pertemuan para pendekar di gunung kerinci empat purnama mendatang, tapi tidak mungkin'kan kakak tidak ikut. Jika kakak tidak ikut jelas mereka menganggap kakak pengecut!"


"Dinda tidak ingin terjadi suatu hal pada Kakak," kata Wulan Ayu menyiratkan kecemasan.


"Kan ada Dinda!" jawab Anggala sambil tersenyum.


"Ilmu dan kesaktian kakak jauh diatas dinda, Kakak mau ngandalin Dinda?" rungut Wulan Ayu.

__ADS_1


"Semua yang kita jalani dalam hidup ini adalah takdir, jika takdir kakak gugur dalam membela yang benar kakak rela," jawab Anggala.


"Kakak berniat ninggalin dinda?"


"Yang berniat ninggalin Dinda, Siapa? Kakak tidak akan bertemu lagi gadis secantik dan sehebat Bidadari Pencabut Nyawa? Bagaimana Dinda berpikir kakak mau ninggalin Dinda?"


"Kakak...," rungut manja Wulan Ayu, air mata gadis itu tampak meremang di pelupuk matanya.


"Dinda kenapa, apa kakak salah bicara?" ucap Anggala sambil menghapus air mata yang mulai mengalir di pipi kakasihnya itu.


"Tidak. Kakak tidak salah bicara, tapi dinda nggak sanggup bayangin hidup tanpa Kakak," jawab Wulan Ayu sambil menggenggam tangan Pendekar Naga Sakti itu.


"Kita serahkan pada Allah, Dinda. Biar yang kuasa menentukan, jika kita di takdirkan bersama. Tentu kita akan dapat melalui semua rintangan hidup kita bersama," jawab Anggala sambil tersenyum, jemari tangannya mengusap pipi gadis cantik di depannya itu.


"Tapi, dinda takut terjadi apa-apa, sama kakak. Dinda tidak ingin kehilangan kakak."


"Tidak apa-apa,'kan kakak sudah bilang, tidak ada yang akan memisahkan kita, kecuali kehendak Allah," jawab Anggala berusaha membujuk dan meyakinkan Wulan Ayu.


"Ya, dinda tahu itu," jawab Wulan Ayu berusaha tersenyum membalas senyum Anggala walau senyuman itu getir.


"Serius amat ceritanya," tiba-tiba Ki Syarif sudah berdiri di samping meja tempat Anggala dan Wulan Ayu duduk itu.


"Eh, Aki," kata Wulan Ayu tersipu malu.

__ADS_1


*********


Sementara itu kabar yang terus menyebar di kalangan pendekar dunia persilatan tentang desas-desus akan ada masalah besar melanda dunia persilatan Pulau Andalas dan di tambah lagi Partai Teratai Hitam terus mengirimkan orang-orang rekrutanya ke berbagai perguruan golongan putih.


Semua itu membuat beberapa perguruan dan tokoh silat golongan putih mengirim murid-murid pilihan mencari Anggala dan Wulan Ayu.


Seperti Singo bersaudara yang dalam perjalanan mencari Pendekar Naga Sakti bertemu Pendekar Srigala Putih.


Tiga Pendekar Tongkat Naga Emas pun telah ikut turun gunung atas perintah Pertapa Tongkat Naga Emas.


"Sudah cukup lama kita tidak mengetahui kemana Anggala dan Wulan Ayu pergi, namun yang jelas mereka berdua masih melakukan perjalanan mengejar Pendekar Naga Hitam," ujar Kamandaka sambil berjalan di depan kedua adiknya.


"Kemungkinan Anggala dan Wulan Ayu masih berada di wilayah Selatan, bukankah kita baru berpisah dengan mereka lima purnama yang lalu," jawab Raka Adiwangsa.


"Kak Raka, lima purnama bukanlah waktu yang sebentar, untuk sebuah perjalanan. Tapi mereka sering singgah di Desa-desa, jadi kita harus mencari dengan menyusuri desa-desa," timpal Aryaguna.


"Ya, kita lakukan pencarian seperti yang dikatakan Arya, tapi kita harus mencari kuda untuk perjalanan. Satu lagi kita harus memberi tahu Tiga Elang, bisa ngamuk mereka pada kita jika tidak memberi tahu tentang masalah yang merundung Anggala dan Wulan Ayu. Mereka bertiga'kan juga sahabat Anggala dan Wulan Ayu," kata Kamandaka.


"Kami setuju dengan pendapat Kakak," jawab Raka Adiwangsa dan Aryaguna serentak. Kebetulan mereka juga sudah lama tidak bertemu Tiga Elang, walau mereka sudah menjadi pasangan kekasih.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2