
Kembali dengan Datuk Wangsaka yang juga di kenal dengan Sepasang Iblis Gunung Tujuh, yang sedang berhadapan dengan Pengemis Gila yang merupakan seorang pendekar golongan putih yang masih melanglang buana di rimba persilatan tanah Andalas ini.
Datuk Wangsaka yang tadinya berniat menantang ketua Perguruan Bambu Kuning yang merupakan kakak kandung dari Aruni yang merupakan seorang pendekar yang bergelar Pendekar Kelelawar Putih tersebut.
Datuk Wangsaka dan Pengemis Gila telah terlibat pertarungan cukup sengit. Datuk Wangsaka yang masih bertarung dengan tangan kosong di hadapi oleh Pengemis Gila dengan jurus tongkatnya yang ia selalu ada di tangan kanannya.
"He he he....! Wangsaka, sebaiknya kau kembali ke gunung tujuh dan memperdalam lagi kesaktianmu. Jika kau tidak keberatan sebaiknya kau bertobat sebelum terlambat, he he he....!" kekeh Pengemis Gila seraya berkelit cepat menghindari jemari Datuk Wangsaka yang mengandung racun yang cukup berbahaya itu.
"Aku akan bertobat setelah menguburmu mayatmu di puncak gunung Kerinci ini, Orang tua gila...!" sahut Datuk Wangsaka nyaring. Tentu saja perkataan Pengemis Gila tersebut membuat telinga Datuk Wangsaka terasa panas, bagaimana tidak ia yang merupakan seorang pendekar kawakan di anggap enteng oleh orang tua yang bergelar Pengemis Gila tersebut.
"He he he....,! Aku memang sudah tua, Wangsaka. Tapi kematianku tidak di tanganmu, karena ilmu kesaktian mu itu belum cukup untuk membunuhku....! He he he...!" tawa Pengemis Gila terkekeh.
"Bangsat! Kau belum tau siapa itu, Iblis Kembar Gunung Tujuh, orang gila...!" hardik Datuk Wangsaka seraya menghunus keris Selaksa Hijau yang ia ambil dari tuan tanah Surya Karya setelah kematiannya.
"He he he...! Wangsaka, kau kira aku takut dengan keris Selaksa Hijau itu, hah. Tongkat bututku ini masih mampu menghadapi keris rongsokan itu, he he he....!" Pengemis Gila tertawa terkekeh sambil mengacungkan tongkat hitam di tangan kanannya.
"Kau akan membayar penghinaanmu dengan nyawamu, Orang Tua Gila...!" bentak Datuk Wangsaka seraya melompat ke arah Pengemis Gila sambil menusukkan keris Selaksa Hijau dengan cukup cepat.
Trang!
"He he he...,!" tawa Pengemis Gila tidak terbendung melihat Datuk Wangsaka kehilangan kesabarannya. Tongkat kayu berwarna hitam di tangan Pengemis Gila itu begitu cepat menangkis setiap sabetan dan tikaman keris Selaksa Hijau di tangan Datuk Wangsaka itu.
"Hup!" Datuk Wangsaka melompat ke arah belakang dan merentangkan keris Selaksa Hijau di depan dadanya. Datuk Wangsaka lalu mengusap keris Selaksa Hijau dengan telapak tangan kirinya.
Asap tipis berwarna hitam tampak keluar dari keris Selaksa Hijau di tangan Datuk Wangsaka itu. Keris yang tadi berwarna hitam kehijauan kini berubah menjadi hijau kemerahan dengan bau anyir menusuk hidung.
"Hmm....! Dia menggunakan ilmu racun Selaksa Geni, rupanya Datuk sesat satu ini masih menyimpan ilmu iblis yang menakutkan itu. Akan ku hadapi dengan ilmu 'Tongkat Malaikat Membelah Awan'." gumam Pengemis Gila dalam hati.
__ADS_1
Pengemis Gila, ya sebuah gelar yang menggambarkan sikap dan perilaku orang tua itu, namun kenyataannya ia bukanlah orang gila sungguhan. Prilakunya yang tidak pernah serius dan selalu bertingkah anehlah dan pakaiannya yang ala pengemis itu, sehingga orang-orang dunia persilatan memberimya gelar Pengemis Gila.
Pengemis Gila lalu mengusap tongkat di tangan kanannya sambil komat-kamit membaca mantera. Kemudian tongkat yang tadi berwarna hitam kini berubah menjadi warna kemerahan.
"Hiyaaat....!" Datuk Wangsaka melesat bagai bayangan dengan keris menusuk begitu cepat ke arah Pengemis Gila, sehingga wujud keris Selaksa Hijau itu bagaikan seribu keris yang berseliuran seakan siap menghabisi nyawa Pengemis Gila.
"Trang! Trang!
Pengemis Gila memutar tongkatnya bagaikan sebuah baling-baling di depan dadanya. Cahaya merah yang menyelubungi tongkat andalan Pengemis Gila itu membuat kulit orang yang ada di sekitarnya terasa panas dan perih belum lagi efek racun Selaksa Geni yang di gunakan oleh Datuk Wangsaka itu.
"Heaaah.....!" Datuk Wangsaka mengibaskan keris Selaksa Hijau setelah menjaga jarak sekitar tiga tombak dengan Pengemis Gila. Cahaya merah kehitaman meluncur deras sebanyak dua larik.
"Hup! Hiyaaa....!" Pengemis Gila pun mengayunkan tongkatnya. Sebuah cahaya merah sebesar kepala orang dewasa meluncur deras menghadang sinar dari keris Selaksa Hijau di tangan Datuk Wangsaka itu.
Wuss....!
Buuummmm......!!"
Ledakan keras membuat tanah dan debu berhamburan keudara. Beberapa orang anggota Partai Teratai Hitam yang berada di sekitar tempat itu tampak tercepat sambil memegangi leher mereka. Tidak lama kemudian orang-orang itu langsung jatuh berkelonjotan dengan tubuh membiru.
"Sungguh ilmu yang kau gunakan sangat keji, Wangsaka. Apa kau tidak lihat akibat ilmu iblismu itu. Hah...!" hardik Pengemis Gila yang merasa geram karena melihat korban dari racun yang di gunakan oleh Datuk Wangsaka itu.
"Kurang ajar! Tidak ku sangka orang tua gila ini sanggup menahan uap racun Selaksa Geni, Aku akan menambahkan racun Harimau Hitam di tangan kiriku!" gumam Datuk Wangsaka dalam hati.
Datuk Wangsaka berniat menggunakan dua kekuatan racun yang ia miliki untuk mengalahkan Pengemis Gila tanpa memikirkan resiko yang akan ia alami sendiri.
"Shaaa....! Datuk Wangsaka menyilangkan tangan kirinya di depan keris Selaksa Hijau yang menyilang dari kiri ke kanan. Telapak tangan kiri Datuk Wangsaka berubah menjadi hitam dan kuku-kukunya berubah panjang dan berwarna hitam kemerahan.
__ADS_1
"Racun Harimau Hitam! Sungguh manusia sesat! Aku tidak akan membiarkan korban berjatuhan lagi akibat ilmu sesatmu itu, Wangsaka!" geram Pengemis Gila.
Pengemis Gila pun mempersiapkan diri setelah menancapkan tongkatnya di tanah di depan ia berdiri. Pemgemis Gila mempersiapkan pukulan 'Malsikat Menepis Hujan'. dengan pengerahan tenaga dalam mencapai delapan puluh persen tenaga dalam yang ia miliki.
Ketika Pengemis Gila menyilangkan kedua telapak tangannya di depan dada, sepasang cahaya putih terlihat menyelubungi kedua telapak tangannya.
"Kau akan mati hari ini orang tua gila...!" bentak Datuk Wangsaka sembari menarik tangan kirinya ke belakang sehingga sejajar dada.
Pengemis Gila tidak ingin menghirup dua uap racun yang di gunakan Datuk Wangsaka terlalu banyak, ia juga tidak ingin racun itu merusak pernafasannya. Pengemis Gila menutup pernafasannya sejenak menggunakan tenaga dalam.
"Heaaa.....!" Datuk Wangsaka membentak nyaring menggema sebelum ia mengayunkan keris Selaksa Hijau yang di selubungi cahaya hijau kemerahan.
Wosss! Swuss!
Hawa panas bergelombang mengikuti luncuran cahaya hijau kemerahan yang keluar dari ujung keris Selaksa Hijau di tangan Datuk Wangsaka itu.
"Hiyaaa.....!" Pengemis Gila pun menyentakkan telapak tangannya yang di selubungi cahaya putih keperakan itu kedepan. Dua cahaya yang membentuk telapak tangan itu menderu menyongsong dua larik sinar dari pukulan Datuk Wangsaka itu.
Swoss! Swoss.....!
Desss!! Desss!!!
Blaaammm.......!!!
Burrrrr! Brolll.....!!
.
__ADS_1
Bersambung...