
Suara burung berkicau, cahaya matahari telah mulai condong ke barat, bangunan rumah besar yang megah di tengah hutan Lembah Kematian kini hancur berantakan.
.
Hanya mayat - mayat yang berserakan di dalam pagar yang mengelilingi bangunan rumah besar itu, termasuk mayat Iblis Kematian Rambut Putih.
.
Bau anyir darah mulai menusuk hidung, Pendekar Naga Sakti dan para pendekar yang lain mengajak murid Perguruan Harimau Putih dan anggota Penyamun Setan Merah yang masih berada di sana, menguburkan mayat - mayat anggota Partai Lembah Kematian yang telah menjadi mayat itu.
.
Setelah selesai menguburkan mayat Iblis Kematian Rambut Putih dan para anggotanya, para pendekar golongan putih itu pun meninggalkan Lembah Kematian.
.
Matahari hampir tenggelam di upuk barat, para pendekar itu telah sampai di persimpangan ke arah Desa Lingkar Sari, mereka pun berpisah jalan di sana.
.
Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa meneruskan petualangan mereka mencari keberadaan Pendekar Naga hitam dan Pendekar Naga Terbang.
.
Sedangkan Pendekar Srigala Putih, Jaka Kelana dan Aruni si Pendekar Kelelawar putih Aruni menuju Lembah Srigala.
.
Senopati Agung Kerajaan Galuh Permata Arya Geni dan Senopati Sri Kemuning menuju jalan ke arah kerajaan Galuh Permata.
.
__ADS_1
"Putri kami akan kembali ke istana Galuh Permata, jika Putri dan Pangeran memerlukan bantuan, kami siap membantu kapan pun," ucap Arya Geni alias Pendekar Pedang Terbang sambil menunduk memberi hormat pada Wulan Ayu, di ikuti Sri Kemuning.
.
"Terima kasih banyak Kak Senopati, kami akan mengirimkan kabar, jika kami mengalami masalah yang berat! O iya jangan lupa kirim undangan pernikahan kalian, kami akan menjadi tamu di hari bahagia itu!" ujar Wulan Ayu sambil tersenyum ke arah dua senopati itu.
.
"Kami akan mengirimkan kabar melalui merpati pengirim pesan! Jangan sampai tidak datang Putri, Pangeran!" jawab Arya Geni sambil mengubah kudanya menuju arah jalan ke Desa Lingkar Sari yang satu arah dengan arah kotaraja Galuh Permata.
.
"Jika punya waktu mampir lah ke Perguruan Pedang Suci Pendekar Naga Sakti, Wulan Ayu!" ajak Pendekar Pedang Kilat, si Barutama Ketua Perguruan Pedang Suci itu.
.
"Terima kasih Ki, jika esok kami lewat di daerah Perguruan Pedang Suci, kami akan mampir di sana," ucap Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.
.
.
"Sampai jumpa semuanya, jika kalian ke arah barat mampir lah ke Perguruan Harimau Putih, Kami akan senang jika kalian mampir, Assalamualaikum!"
.
Ucap Sokananta sambil mengubah kudanya, meninggalkan tempat itu, mereka menuju arah barat mengikuti arah Arya Geni dan Sri Kemuning tadi.
.
"Waalaikumsalam....!!!" jawab semua orang yang berada di tempat itu.
__ADS_1
.
"Sampai bertemu lagi Pendekar Naga Sakti, Bidadari Pencabut Nyawa! Mampir lah ke Bukit Tiga puluh...!!" seru Loka sambil mengubah kudanya mengikuti Sokananta dan kedua Kakaknya.
.
"Terima kasih Ki Loka, suatu hari kami akan mampir kesana!" sahut Bidadari Pencabut Nyawa atau Wulan Ayu, sambil melambaikan tangan ke arah Loka, Penyamun lucu dari Bukit Tiga puluh itu.
.
"Ayo Pendekar berdua, kami duluan," ujar Barutama sambil mengebah kudanya dengan cepat meninggalkan tempat itu, di ikuti para anggota Perguruan Pedang Suci yang lainnya, sambil melambaikan tangan mereka.
.
"Ya.. Ki.!" jawab Anggala sambil membalas lambaian tangan Barutama dan para muridnya itu.
Kini tinggallah dua pendekar muda itu berdua, mereka tampak saling pandang dan saling melempar senyuman.
.
"Kenapa senyum senyum? "
"Siapa juga yang senyum!" balas Wulan Ayu sambil merengut.
"Ayo hari hampir gelap, apa mau bermalam di hutan ini?" ujar Anggala sambil menarik tangan Wulan Ayu dan mengebah kudanya pelan.
"Kakak tunggu!!" celetuk Wulan Ayu malah menarik tangan kiri Anggala yang berusaha menariknya, sehingga kuda mereka berjalan sejajar.
Bersambung.....
Jangan lupa like, Koment dan favorit ya...
__ADS_1
Terima kasih..