
Tidak lama kemudian seorang gadis cantik memasuki warung, gadis itu tampak kelelahan karena melakukan perjalanan jauh. Gadis itu memakai baju biru dengan sehelai selendang berwarna kuning tersampir di bahunya, gadis cantik itu duduk di sebelah Anggala dan Wulan Ayu.
"Ki!" panggil gadis cantik berbaju biru itu pada pemilik warung. Pemilik warung itu langsung mendatangi meja tempat gadis itu duduk.
"Ya. Nisanak mau pesan apa?" Aki pemilik warung itu langsung pada intinya.
"Saya perlu makanan, Ki," jawab gadis itu ramah.
"Nini mau pesan makanan apa?"
"Apa saja, Ki. Yang penting mengenyangkan, saya sudah kelaparan berhari-hari belum makan," jawab gadis itu. Kalau di perhatikan gadis berbaju biru denga selendang kuning itu sebenarnya cantik. Namun karena ia tampak kelelahan rambut nya di biarkan acak-acakan, wajahnya tampak kusam karena kelelahan.
Aki pemilik warung itu langsung mengambilkan secembung nasi dan beberapa piring lauk ikan dan sayuran, ayam kampung bakar pun ada. Tanpa basa basi gadis itu langsung makan dengan lahapnya, nasi secembung itu hampir habis, dua piring ikan panggang tampak bersih, sepiring daun ubi gulai pun beres. Gadis itu benar-benar kelaparan.
"Berapa, Ki?" tanya gadis itu pada aki pemilik warung.
Aki pemilik warung tampak hitung-hitung, tidak lama kemudian ia baru menoleh ke arah gadis berbaju biru selendang kuning itu, Dua puluh kepeng, Nak,"
Gadis itu langsung mengeluarkan sekantong uang emas dan memberikan satu keping pada empunya warung.
"Ini terlalu banyak, Nak," kata Aki pemilik warung itu.
"Tidak apa-apa, Ki, sekalian kalau bisa saya mau menginap saya lelah," jawab gadis itu.
"O. Nisanak mau menginap, sebentar kamarnya akan di siapkan," kata pemilik Warung.
"Ki tunggu,"
"Ada apa lagi, Nini?"
"Apa Aki pernah mendengar tentang Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa?"
"Pernah dengar, Nak. Sepasang pendekar dari barat yang jadi momok pembicaraan orang-orang itu, kan?"
"Ya. Apa, Aki tahu bagaimana ciri-ciri kedua pendekar itu, Ki?" tanya gadis itu lagi.
"Kalau ciri-cirinya sih, aki tidak tau, Nak. Aki belum pernah bertemu mereka langsung," jawab Aki pemilik warung itu.
"Ya sudah, Nak. Aki tinggal dulu, aki akan menyuruh, putri Aki menyiapkan kamar untuk Nisanak,"
"Maaf, Nisanak. Saya dengar, Nisanak sedang mencari Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa, ada perlu apa ya sama mereka?" tanya Wulan Ayu setelah aki pemilik Warung itu ke belakang.
"Eh.. Maaf, saya tadi terlalu lapar, jadi saya tidak memperhatikan orang di sekeliling saya," sentak gadis itu tampak kaget di sapa Wulan Ayu.
"Saya Kenanga, dari Perguruan Mawar Putih," gadis itu memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Saya Wulan Ayu dan ini kekasih saya Anggala,"
"Tadi Nisanak menanyakan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa, Apa Nini ada urusan dengan mereka berdua?" sambung Wulan Ayu.
"Tidak, Nisanak. Saya tidak ada urusan dengan kedua pendekar dari barat itu, tapi saya sedang mencari mereka," jawab Kenanga.
"Ada perlu apa, Nisanak mencari kedua pendekar itu?"
"Saya di perintahkan guru saya meminta bantuan kedua pendekar itu untuk membebaskan tiga orang adik seperguruan saya yang di culik Tiga Pendekar Mesum," jawab Kenanga.
"Tiga Pendekar Mesum? Aneh sekali gelar pendekar itu, Nisanak?" Wulan Ayu mengerenyitkan keningnya.
"Mereka terkenal dengan kejahatan mereka terhadap para gadis-gadis kampung, sekarang malah meneror perguruan kami," tutur Kenanga.
"Apa kalian berdua kenal dua orang pendekar itu? tanya Kenanga.
"Kamilah orang yang nisanak cari," jawab Wulan Ayu memasang wajah serius.
"Benarkah?" wajah Kenanga langsung berubah cerah matanya tampak berbinar kesenangan, "Jadi yang ada di depan saya ini Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa?"
Wulan Ayu dan Anggala hanya menganggukkan kepala.
"Syukurlah..," ucap Kenanga.
"Kenapa, Kenanga?" tanya Wulan Ayu.
"Jadi Ketiga pendekar mesum itu sudah menculik adik seperguruan, Kenanga?" tanya Anggala menyelidik.
"Iya Pendekar, dua hari yang lalu mereka mendatangi perguruan kami. Sempat terjadi pertarungan, tapi kepandaian meraka bertiga sulit kami tandingi. Guru kami saja mengalami luka dalam yang cukup parah terkena pukulan mereka," tutur Kenanga.
"Sebaiknya kita cepat bergerak, saya takut adik seperguruanmu sudah di habisi mereka," kata Wulan Ayu, Anggala hanya mengangguk menyetujui.
"Kenanga tahu di mana pendekar mesum itu tinggal?"
"Saya dengar kabar dia tinggal di hutan jati di tepi sungai musi," jawab Kenanga.
"Baiklah... Kau istirahat dulu setengah hari ini, setelah itu kita berangkat ke perguruanmu," timpal Anggala.
**********
Setelah Kenanga beristirahat, Mereka pun melanjutkan perjalanan ke PerguruanMawar Putih. Perjalanan mereka bertiga memakai dua kuda kepunyaan Wulan Ayu dan Anggala, karena Kenanga tidak memiliki kuda Wulan Ayu terpaksa naik kuda bersama dengan Anggala, dan Kenanga menunggang kuda milik Wulan Ayu.
Setengah hari perjalanan mereka naik kuda maka sampailah mereka di Perguruan Mawar Putih itu. Kedatangan Anggala dan Wulan Ayu di sambut langsung oleh Dewi Permani sebagai Ketua Perguruan Mawar Putih itu.
"Terima kasih, Pendekar. Sudah sudi datang ke Perguruan kami ini," ucap Dewi Mawar setelah mempersilahkan Anggala dan Wulan Ayu masuk ke kediamannya di tengah Perguruan Mawar Putih itu.
__ADS_1
"Sama-sama, Nini. Kami senang bisa membantu," jawab Anggala dan Wulan Ayu hampir berbarengan.
"Beberapa orang muridku di culik oleh Tiga Pendekar Mesum itu, Pendekar.. Aku sudah mencoba mengadakan perlawanan. Namun aku gagal," kata Dewi Mawar tampak penuh penyesalan.
"Mungkin karena aku sudah terlalu tua, di tambah mereka bertiga mempunyai ilmu dan tenaga dalam yang begitu tinggi," tambah wanita setengah baya itu lagi.
"Sebaiknya kita mengadakan pengejaran secepatnya, Ni Dewi. Takutnya ketiga murid Ni Dewi itu sudah jadi korban n4fsu bejat mereka," kata Wulan Ayu.
"Baiklah... Hati-hati, Pendekar. Pendekar golongan hitam terkenal dengan keculasannya," jawab Dewi Mawar memperingatkankan.
"Kami berangkat, Guru..," pamit Dewi Selendang Kuning pada sang guru di depan gerbang Perguruan Mawar Putih itu. Puluhan adik-adik seperguruan Kenanga juga ada di sana melepas kepergian mereka bertiga.
Hampir malam mereka sudah mendekati tempat tinggal Tiga Pendekar Mesum tersebut.
"Pendekar, tempat tinggal mereka ada di tengah lembah sana," kata Kenanga sambil memperlambat laju kudanya.
"Kita akan meninggalkan kuda kita di sini, Kenanga. Kita mendekat dengan jalan kaki saja," jawab Wulan Ayu. Sedangkan Anggala hanya mengangguk menyetujui.
Setelah mengikatkan kuda mereka di balik semak-semak. Mereka segera menuju tempat yang di tunjuk Kenanga itu.
"Hup!" Pendekar Naga Sakti melompat ke atas dahan pohon yang cukup tinggi begitu melihat sebuah bangunan besar yang di kelilingi pagar terbuat dari kayu bersusun rapi. Wulan Ayu dengan Kenanga pun ikut melompat ke atas dahan pohon untuk melihat keadaan.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
Dan Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.