Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Tobatnya Begal Harimau Merah


__ADS_3

Suitan panjang pimpinan orang-orang berpakaian serba merah itu membuat anak buahnya tiba-tiba bergerak mundur. Jaka Kelana dan Singo Abang beserta kedua adiknya tampak agak bingung dan heran.


Keheranan para pendekar muda itu langsung sirna begitu dari balik pepohonan hutan muncul sekitar dua puluh orang dengan wajah di tutupi topeng tengkorak berwarna hitam.


"Hmm...! Rupanya ada yang lain," gumam Jaka Kelana menoleh ke arah Singo Abang, "Siapa kalian sebenarnya, Kisanak?" tanya Jaka Kelana menolehkan pandangannya pada pimpinan rombongan orang-orang berpakaian serba merah itu.


"Ha ha ha....! Apa kau sekarang mau menyerahkan kuda-kuda itu secara baik-baik tanpa harus di tukar dengan nyawamu, Anak Muda!" jawab laki-laki itu sambil tertawa pongah.


"Kau tau, kami adalah Penyamun Macan Merah yang menguasai daerah dan pinggiran hutan ini!" timpal laki-laki yang dari tadi berbicara, puluhan anak buahnya yang memakai topeng tengkorak merah tampak telah berkeliling mengepung dari segala arah.


"Siapa pun kalian. Kami tidak peduli, sebaiknya biarkan kami lewat. Kami tidak ingin menyakiti kalian!" jawab Jaka Kelana begitu tenang.


"Rupanya memang harus jadi makanan hewan-hewan di dasar jurang sana. Habisi mereka..!" teriak laki-laki itu memberi perintah. Puluhan orang-orang bertopeng tengkorak langsung berlompatan menyerang.


"Singo Abang, kita kalahkan mereka dengan cepat!" ujar Jaka Kelana sambil melesat menyongsong. Pendekar Srigala Putih itu tidak bermain-main lagi, dalam lesatannya dua orang musuh langsung jatuh terpental ke tanah terkena tendangan kakinya.


Singo Abang hanya mengangguk pelan sambil memandang kearah kedua adiknya. Mereka bertiga memang tidak melesat menyongsong, tapi mereka menyambut dengan telapak tangan berisi tenaga dalam tinggi.


Singo Abang dan kedua adiknya yang sebagai pendekar penguasa jurus silat harimau memang tampak begitu lemah gemulai meladeni musuh mereka. Tapi tenaga dalam yang begitu tinggi terkandung di telapak tangan tiga murid Datuk Panglima Hijau itu.


Sehingga setiap gerakan tiga orang pendekar kakak beradik itu yang mengenai tubuh para pengeroyok, saat itu juga musuhnya terpental ke tanah dengan luka dalam yang begitu parah.


Tidak jarang topeng yang mereka gunakan pecah dan hancur hanya terkena sambaran telapak tangan salah seorang murid Perguruan Tiga Harimau tersebut.


"Aaaa......!!!!"

__ADS_1


Hanya jerit kesakitan yang terdengar susul menyusul dari mulut orang-orang bertopeng merah dengan baju rompi merah itu. Orang-orang berpakaian merah itu tidak dapat berbuat banyak menghadapi kesaktian keempat pendekar muda tersebut.


Pimpinan mereka yang awalnya tersenyum sombong, kini berubah pucat sambil melangkah mundur. Pimpinan Jagal Harimau merah itu cukup terkejut melihat anak buah andalannya tidak berkutik dan dalam waktu singkat telah bergelimpangan ditanah.


"Siapa mereka, gerakan ketiga orang itu hampir di bilang biasa-biasa saja, tapi anak buahku tidak berdaya menghadapinya," desis laki-laki itu dalam hati.


Laki-laki yang tadi memberi perintah tampak berniat memutar tubuh untuk melarikan diri, namun langkahnya, tertahan karena Jaka Kelana sudah berada di belakangnya.


"Mau kemana, Kisanak. Apa sudah habis anak buahmu?" kata Jaka Kelana sambil bergerak menotok urat gerak laki-laki tersebut, sehingga ia bagaikan sebuah patung hidup.


"Bangsat! Lepaskan aku..!" bentaknya dengan mata mendelik melotot ke arah Jaka Kelana. Sedangkan Jaka Kelana hanya tersenyum tipis membalas bentakan laki-laki itu.


"Kisanak, coba lihat ke sekeliling. Anak buah andalanmu sudah tidak ada yang berdiri, Kau masih berani membentakku. Apa kau tidak takut kalau aku akan menelanjangimu," jawab Jaka Kelana sambil tertawa.


"Ha ha ha...! Aku tidak berniat membuatmu malu di depan puluhan anak buahmu itu. Aku hanya ingin bertanya kenapa kalian jadi begal menguasai daerah ini?" tanya Jaka Kelana.


Sementara itu Singo Abang dan kedua adiknya baru bergerak mendekati Jaka Kelana yang lagi mengintrogasi pimpinan begal Harimau Merah itu.


"Kehidupan kami di desa sangat sulit, Anak Muda. Kami terpaksa merampok dan membegal orang yang lewat untuk menutupi kebutuhan kami," jawab pimpinan Begal Harimau Merah itu.


Jaka Kelana hanya menggelengkan kepala mendengar penuturan pimpinan Begal Harimau Merah tersebut, "Kisanak, kalian punya tubuh dan hutan ini luas, sungai masih banyak. Kalian bisa hidup bertani dan berburu di hutan, jika hanya untuk hidup tentu bisa, Kisanak. Lain kali aku tidak akan mengampuni kalian lagi, jika bertemu dengan kalian masih jadi begal," kata Jaka Kelana.


"Baik, Kisanak. Kami berjanji tidak akan membegal dan menyamun lagi, jika kisanak bertemu kami masih jadi begal nyawa kami jadi taruhannya," jawab pimpinan Begal Harimau Merah memelas.


"Sahabat Jaka memang sangat bijak, kami kagum pada, Sahabat," puji Singo Abang sambil tersenyum.

__ADS_1


"Saya tidak sebijak yang sahabat katakan," jawab Jaka Kelana sambil tersenyum, ia langsung menotok kembali jalan darah pimpinan Begal Harimau Merah untuk melepaskan totokan.


#########***************#########


Nun jauh dari tempat itu, suasana siang yang mulai terasa menyengat kulit. membuat para penduduk dan para pelancong banyak yang mencari tempat istirahat sekalian makan siang.


Warung Ki Syarip tampak begitu ramai akan pengunjung, tampak Ki Syarif dan mak Ripah sibuk melayani pengunjung warung


Di tengah keramaian itu Anggala dan Wulan Ayu yang tampak juga sibuk membantu pekerjaan Mak Ripah dan Aki Syarip tidak menyadari ada orang di tepi hutan memperhatikan mereka.


"Itu orangnya, Tuan. Pemuda dan gadis berpakaian biru itu," tunjuk murid Perguruan Gagak Hitam pada pimpinan Tujuh Pedang Pembunuh.


"Baik, aku melihatnya. Kau mau ikut kami atau mau kembali?" tanya Khemkhaeng.


"Aku akan kembali ke markas Partai Teratai Hitam, Tuan. Melaporkan bahwa tuan sudah bertemu dengan Pendekar Naga Sakti," jawab murid Perguruan Gagak Hitam itu.


"Baiklah, kami akan segera membawakan kepala Pendekar Naga Sakti itu ke markas Partai Teratai Hitam," kata Khemkhaeng sambil mengebah kudanya perlahan menuju warung Ki Syarip.


Sementara itu murid Perguruan Gagak Hitam itu mengebah kudanya dengan cukup cepat meninggalkan tempat itu, sebenarnya ia ingin melihat pertarungan yang akan terjadi antara Pendekar Naga Sakti dengan tujuh orang anggota pembunuh bayaran dari Negeri Muathai itu. Namun ia cukup takut jika tujuh orang itu kalah, ia tidak akan di lepaskan oleh Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2