
Kini mereka yang belum terluka tampak ragu hendak menyerang, namun mereka masih tetap mengepung dari segala penjuru.
"Mundur kalian manusia tidak berguna!"
Bentakan membahana tiba-tiba terdengar.
Tidak lama kemudian dari rumah yang cukup besar itu melayang dua orang yang berpakaian serba merah dengan bagian dalaman baju mereka berwarna kuning muda.
Kedua orang itu adalah Ujang Seta dan gurunya Cakra Bima, kedua orang itu menapakkan kaki dengan begitu ringan di depan Anggala dan Wulan Ayu sekitar dua tombak.
"Ha ha ha...! Rupanya Lesmana sudah mempunyai murid yang mulai menggetarkan dunia persilatan, tapi kau salah berurusan denganku, anak muda," kata Cakra Bima sambil tertawa terkekeh.
"Hmm...!" Anggala hanya membalas dengan dehaman, kata Pendekar Naga Sakti menatap tajam ke arah laki-laki tua yang sudah mempunyai rambut putih itu.
"Apa kau tuli, anak muda. Sehingga kau tidak menjawab ucapanku, hah!" bentak Cakra Bima,"Kau sungguh berani membunuhi murid-muridku, berarti kau memang cari mati!"
"Kau yang sudah tua dan bau tanah masih membela murid-murid mesummu itu, berarti kau sama saja dengan para murid bejat mu itu," jawab Anggala dengan begitu tenang.
"Ha ha ha...! Anak muda, mulut mu itu memang harus di sumbal, agar tidak selalu memceramahi orang. Nyawamu hanya sampai di sini. Kau masih mau sesumbar," jawab Cakra Bima sambil tertawa mengejek.
"Soal mati, siapa yang tau orang tua, buah kelapa selalu jatuh sebelum waktunya," balas Pendekar Naga Sakti datar.
"Untuk apa banyak bicara, Guru. Kita habisi saja cecunguk ini di sini, kita persembahkan kepalanya ke kuburan Ujang Komar dan Kuyung Akra," ujar Ujang Seta geram.
"Hiyaaa...!" teriakan melengking Ujang Seta terdengar nyaring, saat itu tubuhnya melesat ke arah Wulan Ayu terlebih dulu. Sedangkan Cakra Bima sedang berhadapan dengan Anggala, laki-laki tua itu menatap tajam ke arah Pendekar Naga Sakti.
"Pemuda ini memakai ilmu 'Penutup Batin'. Sehingga aku tidak bisa mengukur seberapa tinggi tenaga dalamnya," Cakra Bima membatin.
Sementara orang-orang berpakaian merah ala ninja itu tampak masih berhadapan dengan murid-murid Perguruan Mawar Putih yang di pimpin oleh Kenanga.
"Kalian urus para gadis itu, jika kalian sanggup mengalahkan mereka, aku akan menghadiahkan gadis-gadis itu untuk kalian malam ini," bentak Cakra Bima pada orang-orang berpakaian merah itu.
"Baik, Ketua!" jawab orang-orang berpakaian merah itu serentak.
Orang-orang berpakaian merah itu segera bergerak mengepung Kenanga dan ketiga adik sepergurunanya.
"Jadi, kita di anggap remeh ni Kak," kata Seruni sambil tertawa.
"Jangan mengeluh dulu, orang-orang ini cukup tangguh untuk kita," kata Kenanga sambil tersenyum.
"Ya, mereka bagian kita. Kita hadapi saja dulu, dari pada ganggur," jawab Ambara Wati.
Sret!
__ADS_1
Ujang Seta menghunus dua klewang andalannya dari balik punggung.
"Ha ha ha...! Katanya pendekar tangguh, belum bertarung sudah menghunus senjata," ejek Wulan Ayu sambil mengambil kipas elang perak dari balik bajunya.
"Kau akan mati hari ini!" geram Ujang Seta sambil memainkan jurus-jurus klewang andalannya.
"Cobalah kalau kau mampu!" tantang Wulan Ayu sengit.
"Heeaaah.....!" jeritan melengking Ujang Seta, maka tubuhnya melesat cepat menerjang sambil menyabet dan menebaskan sepasang klewang di kedua tangannya.
Wut! Set!
Trang! Trang!
Begitu sigap dan gesitnya Wulan Ayu menangkis setiap serangan Ujang Seta yang mengincar tubuhnya.
Sret!
Ujung kipas elang perak langsung menyembul pisau kecil yang begitu runcing.
"Heaaa...!"
Srag!
Klewang di tangan Ujang Seta terasa bergetar terhantam kibasan kipas elang perak, Ujang Seta sampai tersurut mundur tiga langkah ke belakang.
Ujang Seta mengembor kesal, ia menyilangkan kedua klewangnya ke arah depan, dua cahaya berbentuk mata klewang melesat berwarna kuning.
"Hup!"
Wulan Ayu melenting ke udara sambil mengibaskan kipas elang perak, angin kencang menderu ke arah Ujang Seta.
Wuss!
Ujang Seta cepat memperkuat kuda-kudanya untuk menghadapi hembusan angin kencang itu, Serangan Wulan Ayu itu tampak tidak berbahaya. Namun angin kencang itu mampu menghentikan dua laris sinar kuning dari sepasang klewang Ujang Seta.
"Hup!"
Setelah menjejak tanah, Bidadari Pencabut Nyawa itu melipat kipas elang perak dan menyimpannya ke balik bajunya.
Sring!
Pedang elang perak keluar dari warangkanya, sinar putih keperakan menyilaukan mata memantulkan sinar mentari.
__ADS_1
Wulan Ayu langsung memainkan jurus-jurus 'Pedang Kayangan'. Pedang elang perak berubah bagai puluhan pedang mengelilingi tubuh Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Jurus 'Pedang Membelah Bumi'.!"
Teriak Ujang Seta sambil menyilangkan kedua klewangnya di depan wajah, kedua klewang tampak mengeluarkan sinar merah menyala, jurus ini adalah sebuah jurus simpanan Cakra Bima. Untuk membalas dendam sang guru menurunkan ilmu itu pada sang murid yang tinggal satu-satunya.
"Kau punya jurus andalan juga manusia b3jat!" kata Bidadari Pencabut Nyawa itu sambil meningkatkan tenaga dalamnya.
Wulan Ayu yang dari semula berniat menghabisi nyawa Ujang Seta tampak meningkatkan tenaga dalamnya. Gadis cantik berpakaian serba biru itu langsung merapal jurus 'Pedang Kayangan'. tingkat tujuh Pedang Pemecah Sukma'.
Selama turun gunung Wulan Ayu boleh di bilang belum pernah secara langsung menggunakan jurus ini, karena jurus ini selain mematikan juga cukup menguras tenaga dalam. Jurus Pedang Kayangan dari tingkat tujuh hingga sembilan adalah jurus pamungkas dari ilmu pedang Kayangan.
"Hup!"
Wulan Ayu membentangkan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan dengan telapak tangan kiri menggenggam, dua jari tengah dan telunjuk menunjuk ke samping kiri, perlahan tubuhnya melayang ke udara.
Setelah tiba di udara tangan kanan Wulan Ayu memainkan pedang elang perak di depan tubuhnya, tidak lama kemudian bayangan puluhan pedang tampak mengitari tubuh sang Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Heaaa....!"
Bentakan Ujang Seta sambil mengayunkan dua klewangnya ke depan, cahaya merah membentuk dua mata pedang bersilang menderu ke arah depan.
"Hiyaaat......!" jerit melengking juga terdengar dari mulut sang Bidadari Pencabut Nyawa, seketika itu puluhan cahaya putih yang membentuk pedang itu melesat cepat menyongsong dua cahaya yang membentuk sepasang pedang bersilang dari dua klewang di tangan Ujang Seta.
Swoss! Swoss!
Set! Set! Set!
Baaamm......!!"
Ledakan mengguncang, dua cahaya saling beradu menjadi gumpalan api yang berpijar dan meledak bagai sebuah bom, gumpalan asap membubung, hempasan udara panas menekan ke segala arah.
Crab! Crab!
"Aakgh....!"
Ujang Seta mengeluh panjang sekitar sepuluh buah cahaya putih membentuk mata pedang kini menghantam tubuhnya, Ujang Seta tersudut mundur sekitar tiga langkah ke belakang. Mata pemuda itu memandangi tubuhnya sambil mendekap dada yang terasa hancur.
"Uhuakh..!"
Ujang Seta memuntahkan darah segar dari mulutnya, darah merah segar mengalir dari sela-sela bibir pemuda itu.
"Seta...!"
__ADS_1
.
.