Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. bag, 2


__ADS_3

Burung berkicau menyambut pagi, cahaya mentari semburat di ufuk timur. Langit begitu cerah tanpa awan pagi ini, sebuah jalan kecil di tengah hutan tampak sepasang pendekar sedang berkelakar, bersenda gurau menyusuri jalanan.


"Kak, jika tidak bersama dinda, dinda yakin para murid Perguruan Mawar Putih pada berebut Kakak," celetuk Wulan Ayu sambil tersenyum.


"Dari mana Dinda tau?"


"Nebak ajha,"


"Yakin?"


"Yakin banget..!"


"Ye, suuzon Dinda tuh," sanggah Anggala sambil tertawa.


"Nggak suuzon, tapi melihat dari pandangan para gadis-gadis, murid Perguruan Mawar Putih," sahut Wulan Ayu.


"Jadi ada yang cemburu nih?"


"Hmmm...!" Wulan Ayu hanya memonyongkan bibirnya menjawab pertanyaan Pendekar Naga Sakti.


"Ya'kan, cemburu?" ledek Anggala mendekatkan dirinya pada Wulan Ayu.


"Pergi sana!" jawab Wulan Ayu sambil tersenyum lebar.


"Kirain marah?"


"Jika Kakak kecentilan, iya. Tapi dinda lihat, Kakak nggak pernah melirik suka pada gadis-gadis itu," tukas Wulan Ayu sambil memeluk lengan kiri Pendekar Naga Sakti.


"Jadi?"


"Apa?" tanya balik Wulan Ayu.


"Masih kurang yakin sama perasaan kakak?" gerutu Anggala.


"Ya, ya. Dinda yakin," jawab Wulan Ayu manja.


"Yakin, yakin... Tapi cemburunya jalan terus," sungut Anggala.


"Cemburu itu tanda sayang, Kakak!" terang Wulan Ayu sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.


"Iya sih, tapi kalau cemburu buta, keterlaluan tau," ketus Anggala.


"Jadi marah nih, sama Dinda?" tanya Wulan Ayu sambil menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Anggala.


"Nggak, Kakak nggak marah kok," jawab Anggala sambil tersenyum.


"He he...! Tapi Kakak serius amat?" kata Wulan Ayu memonyongkan bibirnya lagi.


"Ih...! Gemas tau," kata Anggala sambil mencubit lembut kedua pipi Wulan Ayu dan langsung lari kecil ke arah depan


"Aduh... Awas ya!" Wulan Ayu tersentak kaget dengan wajah memerah sambil mengejar dari belakang.


Mereka baru berhenti berlari ketika memasuki sebuah kampung, mereka jadi perhatian orang-orang kampung.


"Apa?" ketus Wulan Ayu sambil tersenyum melihat Anggala berhenti dan diam.

__ADS_1


"Mereka memperhatikan kita," sahut Anggala pelan.


"Eh, baru sadar dinda, Kak," kata Wulan Ayu sambil menutup mulut dengan telapak tangan kanannya.


"Kita cari warung yuk, Kak,"


"Boleh, lumayan lapar nih," sahut Anggala sambil berjalan.


"Tuh ada warung," tunjuk Wulan Ayu ke ujung kampung.


"Ayo kita kesana,"


"Ho oh..," jawab Wulan Ayu sambil bergantung di tangan kiri Anggala.


"Malu ah, sama orang kampung,"


"Biarin, Wulan sama kekasih Wulan, bukan kekasih mereka," sungut Bidadari Pencabut Nyawa itu, beberapa orang memandangi mereka berdua dari depan rumahnya.


"Permisi, Ki. Kami mau pesan makanan," ucap Anggala sambil duduk di sebuah meja di sudut warung itu.


"Eh, ada tamu, sebentar nak," sahut pemilik warung itu, tidak lama kemudian seorang laki-laki setengah baya dengan seorang wanita datang mengantarkan makanan dan air putih.


"Ada lagi, Nak?" tanya pemilik warung itu.


"Emang Aki menyediakan apa saja, Ki?"


"Kopi aren, Kopi jahe dan teh jahe, Nak," jawab Aki pemilik warung itu.


"Dinda apa? teh, Kopi?"


"Saya teh jahenya juga Ki," tambah Anggala.


"Kompak banget," kata pemilik warung itu sambil tersenyum, "Bentar nak ya, harus di bikinkan dulu," tambahnya.


"Ya, nggak apa-apa, Ki. Kami juga mau makan dulu," jawab Wulan Ayu.


"Kami tinggal nak, silahkan makan," kata pemilik warung itu ramah sambil berlalu.


Baru saja Anggala dan Wulan Ayu selesai makan, suasana warung yang tenang karena masih sepi pengunjung, berubah ramai.


Sekelompok orang-orang berpakaian merah hari datang dan memasuki warung itu.


"Kau tau, Perguruan Macan Kumbang takluk di bawah sesepuh kita," kata salah seorang laki-laki yang berwajah bundar dengan wajah penuh brewokan tak terurus.


"Yang lebih seru lagi, Perguruan kita sudah bergabung dengan Partai Teratai Hitam pimpinan Gema Lintar," tambah temannya.


"Heh kakek tua, kami mau makan. Cepat siapkan!" bentak salah seorang dari rombongan itu.


"Sebentar nak, masih di siapkan," jawab pemilik warung itu.


"Cepat Ki, kami lapar!" bentak yang satunya lagi.


"Iya, iya..," jawab pemilik warung itu gelagapan, laki-laki setengah baya itu tampak ketakutan di bentak orang-orang berpakaian merah hati itu.


"Ha ha ha...!" tawa orang-orang itu meledak tanpa mempedulikan Anggala dan Wulan Ayu. Begitu pula sebaliknya pasangan pendekar muda itu tampak cuek tidak mempedulikan orang-orang itu.

__ADS_1


Sedangkan para pengunjung yang tadi duduk di beberapa meja tampak mulai pergi ketakutan.


"Lama sekali Ki?" bentak salah seorang yang dari tadi diam, melihat dari bentuk wajahnya dia yang paling tua dan paling tinggi ilmunya di dalam rombongan itu.


"Maaf, Den. Harus di siapkan dulu," jawab Aki pemilik warung itu lembut, istri pemilik warung itu yang tadi berani mengantar makanan. Kini pura-pura sibuk menyiapkan makanan.


"Kami pesan kopi arennya satu teko, Ki," kata orang yang paling tua tadi.


"Ya, sebentar!" sahut aki pemilik warung itu.


"Pak, banyak sekali satu teko, apa bapak yakin mereka mau bayar?" gerutu istri pemilik warung itu pelan.


"Mau tidak mau bu, kalau tidak warung kita akan di rusak mereka seperti tempo hari," jawab Aki pemilik warung itu.


"Hmm...," wanita berumur empat puluh lima tahunan itu hanya bisa menggerutu dalam hati tanpa berani protes, protes malah akan jadi masalah buat mereka.


Orang-orang itu akan merusak warung mereka, bahkan menyakiti jika di mintai bayaran.


Setelah selesai makan mereka tanpa peduli langsung keluar dari warung tanpa membayar, malah tiga orang mendatangi meja kasir untuk minta uang.


"Heh... Kakek tua, kami butuh uang untuk membeli tuak, cepat berikan uang sepuluh kepeng," ujar laki-laki yang berwajah penuh brewokan itu.


"Maaf, Nak. Aki belum punya uang sepuluh kepeng," tolak pemilik warung itu dengan halus.


"Kau mau kami rusaki lagi warung ini, ya?" bentak laki-laki itu sambil menepuk meja dengan keras, sehingga istri pemilik warung itu terkejut dan memegang dadanya.


"Astaqhfirullahalaziim... Berikan saja Pak," desak wanita itu ketakutan.


"Dasar tidak tahu diri... Makan gratis... Minum gratis... Masih saja meminta uang! Dasar manusia tidak berotak!" tiba-tiba terdengar suara menggema di dalam ruangan warung itu.


"Heh... Siapa itu...? Keluar!!" bentak si brewok sambil mengedarkan pandangan. Pandangan mereka terhenti ketika melihat ke sudut warung di sebuah meja yang di tempati Anggala dan Wulan Ayu.


"Apa mereka?" tanya si brewok pada dua temannya.


"Entahlah? Tapi aku tidak melihat mereka bicara, aku memperhatikan mereka dari tadi," jawab salah seorang teman si brewok.


Si brewok langsung berjalan ke arah meja yang di tempati Anggala dan Wulan Ayu itu.


.


.


....


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Dan Votenya teman-teman.

__ADS_1


Terima kasih banyak.


__ADS_2