Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Bantuan Dari Senopati Arya Geni, part 2


__ADS_3

Perjalanan Ke empat Pendekar, akhirnya memasuki


Desa Lingkar Sari, mereka singgah di warung ujung Desa.


"Maap ki, boleh Saya bertanya, apa ada dua Pendekar muda, singgah di Desa ini...??" tanya Pendekar Pedang Terbang.


"Ada Den.! Mereka sekarang di tempat aki Kusnadi, di pangkal Desa..!" Jawab aki pemilik Warung.


"Terimakasih Ki, tapi Kami pesan makanan dulu ki..!" Ujar Senopati Agung Arya Geni itu.


"Baik Den, silahkan duduk dulu, aki siapkan makanan untuk Kalian..!" Jawab aki pemilik Warung itu.


"Ayo Semuanya, kita makan dulu, setelah itu baru kita ke tempat Anggala, dan Tuan Putri Wulan Ayu..!" Ujar Senopati Agung Arya Geni.


"Baik Kak, jawab Sri Kemuning, Aruni dan Jaka Kelana hanya mengangguk, mendengar ajakan Senopati Arya Geni itu.


Mereka istirahat dan makan di warung di ujung Desa dengan lahap, maklum mereka telah berjalan cukup jauh setengah hari naik kuda, bukan lah jarak yang dekat.


"Maaf, Aden Aden ini ada keperluan apa ya, mencari Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa Palsu dari barat itu..?" Tanya aki pemilik Warung.


"Kami teman mereka ki," jawab Arya Geni, sambil menyantap makanannya.


"O.. Perkenalkan nama aki Banaja, panggil saja aki Naja..," Ujar pemilik warung itu.

__ADS_1


"Saya Arya Geni ki, ini yang baju kuning, Sri Kemuning, pendekar yang berbaju putih ini, Jaka Kelana, dan Aruni..," Jawab Arya Geni.


"Arya Geni.! Senopati Agung Kerajaan Mandalika itu..?" tanya ki Banaja.


"Iya ki, itu Saya..," Jawab Arya Geni.


"Maafkan Hamba, Tuan Senopati..," Ki Banaja tampak ketakutan.


"Tidak Usah takut ki, Saya juga seorang Pendekar, dan Saya juga tidak melakukan perjalanan Kerajaan..!" Jawab Arya Geni.


"O.. Iya ki, Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa, penahan ke warung ini..?" Tanya Arya Geni.


"Kemarin, Nak, boleh Saya panggil Aden anak..?" Tanya ki Banaja lagi.


"Boleh ki, Kemarin ya ki..??"


"Jadi Orang orang Partai Lembah Kematian itu, memang sudah merajalela di dunia persilatan sebelah timur ini ya ki..?"


"Iya nak, mereka sempat mau merekrut pemuda kampung Lingkar Sari ini, tapi tidak ada yang mau,"


"Ya mereka, membunuh yang tidak mau da mengadakan perlawanan..," Jawab ki Banaja.


"Terimakasih penjelasannya ki..," Ujar Arya Geni, ketiga pendekar lain pun sudah selesai, menyantap makanan mereka.

__ADS_1


Arya Geni membayar makanannya, dan segera meninggalkan warung ki Banaja, menuju rumah aki Kusnadi, dengan di antar ki Banaja.


Sesampainya di depan rumah aki Kusnadi.


"Ini rumah aki Kusnadi nak Arya, sekalian aki mau pamit, kembali ke warung," Ucap ki Banaja, sambil menunduk di depan Arya Geni, dan lansung meninggalkan tempat itu.


"Assalamu alaikum..! Permisi..!" Ucap Senopati Arya Geni, atau Pendekar Pedang Terbang itu.


"Waalaikumsalam..!" terdengar jawaban dari dalam rumah, tidak lama tampak Anggala nongol dari baik pintu rumah aki Kusnadi.


"Kak Arya Geni, Kak Sri Kemuning, Jaka, dan Aruni, Kalian bisa sampai kesini..?" Tanya Pendekar Naga Sakti, mendengar nama nama yang tidak asing, Wulan Ayu pun ikut keluar dari kamar tidur, rumah aki Kusnadi.


Singkat Cerita mereka pun saling bercerita, Arya Geni menjelaskan maksud kedatangannya, dan Jaka Kelana bersama Aruni, beserta Sri Kemuning.


"Jadi Kakak mu terluka, di buat Iblis Kematian Rambut Putih itu Aruni..?" Tanya Wulan Ayu alias Bidadari Pencabut Nyawa.


"Ya Tuan Putri..!" Jawab Aruni si Pendekar Kelelawar Putih itu.


"Jadi sekarang kita harus bagaimana, Anggala..?" Tanya Arya Geni, sedangkan Jaka Kelana dari tadi hanya diam, jadi pendengar setia pembicaraan Anggala, Wulan Ayu, beserta Aruni, begitu pun dengan Sri Kemuning, ia hanya diam, sambil menikmati singkong rebus pemberian aki Kusnadi dan Istrinya.


"Kita harus menunggu tiga purnama ke depan, kita akan ikut ke Lembah Kematian itu, sebagai wakil dari Perguruan Bambu Kuning, Kak Arya..!" Jawab Anggala.


"Jadi kita akan tinggal di sini sampai tiga purnama ke depan..?" Tanya Arya Geni.

__ADS_1


"Ya, Kak Arya, kebetulan Aki Kusnadi adalah bekas prajurit Galuh Permata, jadi kita bisa tinggal di sini," Ujar Wulan Ayu, menyela percakapan itu.


"Kita fi sini sambil menunggu kedatangan Orang orang Partai Lembah Kematian itu, mereka sering membuat susah penduduk..!" Ujar Anggala.


__ADS_2