
"Huh...! Siapa kau? Berani mencampuri urusanku, hah..!" bentak Merak Sati gusar.
"Aku adiknya kak Wulan Ayu, apa kalian tidak malu mengeroyok satu orang. Kalian mengaku pendekar, tapi perbuatan kalian sungguh pengecut!" sahut Cindai Mata dengan senyum sinis membuat kuping Merak Sati terasa panas.
"Cindai, gadis itu bagian kakak," kata Wulan Ayu sambil menepuk pelan bahu Cindai Mata.
"Aku akan menghajar si gendut itu, Kak. Kita hadapi mereka dua orang masing-masing!" kata Cindai Mata sambil tersenyum.
"Kau harus hati-hati, Cindai. Ilmu si gendut itu cukup tinggi, lagian cakar kedua jemarinya mengandung racun," kata Wulan Ayu memperingati.
"Ya aku tau, Kak. Orang golongan hitam seperti mereka tidak boleh di anggap enteng," sahut Cindai Mata.
"Kau akan menyesal berani berurusan dengan Tiga Iblis Botak dari goa tengkorak, gadis tengil!" geram Bongsor.
"Aku akan membantumu mengahadapi gadis tengil itu, Kak!" ujar Brata.
"Buat dia menyesal karena meremehkan tiga Iblis Botak Goa Tengkorak!" timpal Bongsor lagi.
"Kau Barja, bantu adik Sati menghabisi Bidadari Pencabut Nyawa itu, sebelum kalian mengalahkan dia, jangan ikut campur urusan gadis manis itu!" kata Bongsor pada Barja.
"Baik, Kak. Aku akan membantu adik Sati," sahut Barja.
Sementara itu Anggala yang telah berhadapan dengan Fhatik telah terlibat pertarungan tingkat tinggi. Fhatik telah merapal jurus 'Naga Hitam'. hingga tingkat lima.
Sedangkan Anggala masih menghadapi dengan jurus 'Tapak Naga'. tingkat empatnya. Namun pengalaman Fhatik dalam bertarung masih mampu mengimbangi setiap jurus-jurus yang di gunakan oleh Pendekar Naga Sakti.
"Hup!" Saga Lintar yang dari tadi memperhatikan pertarungan antara pendekar dari Lembah Naga itu. Saga Lintar tidak tanggung-tanggung ia langsung menggunakan ilmu 'Cakar Kelelawar Iblis Mengurai Bukit'. sebuah ilmu yang cukup tinggi, apalagi dengan kemampuan peringan tubuh dan tenaga dalam yang mencapai tingkat delapan puluh persen.
"Hiyaaaat....!" Anggala cepat melentingkan tubuhnya ke arah belakang, dengan menggabungkan ilmu 'Delapan Langkah Malaikat,'. dan ilmu Delapan Langkah Mata Angin'. Anggala masih mampu menghadapi kecepatan serangan kedua orang tokoh golongan hitam yang sulit di cari tandingannya itu.
"Lintar, kenapa kau begitu cepat ikut campur? Aku masih ingin bermain-main dengan keponakanku itu!" kata Fhatik gusar merasa tidak senang Setan Merah Pencabut Nyawa ikut campur tanpa meminta persetujuannya.
"Maafkan aku, Sahabat. Tapi sudah berapa jurus yang kau gunakan? Sejauh ini kau belum mampu mendesak murid Lesmana itu!" sahut Saga Lintar.
__ADS_1
"Tapi aku masih mampu menghadapinya!"
"Aku tau, Fhatik. Tapi kita harus mengalahkan dia dengan cepat, bila pedang Naga Sakti itu bisa kau miliki dengan cepat, maka semua pendekar golongan putih yang ada di puncak gunung kerinci ini akan tunduk kepada Partai Teratai Hitam," sahut Saga Linta.
Sret!
Sring!
Saga Lintar dan Fhatik tanpa basa-basi langsung mencabut sepasang pedang Jagat yang mereka rampas secara paksa dari Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah. Pedang Langit dan Pedang Bumi terlihat mengeluarkan cahaya biru yang semburat.
"Anggala....! Hancurkan pedang itu dengan pedang Naga Sakti, hanya pusaka naga yang mampu menghadapi kedua pusaka itu," sebuah suara batin terdengar jelas di telinga Pendekar Naga Sakti.
Tidak jauh dari tempat itu terlihat Singa Rudra dan beberapa orang adik seperguruannya sedang bertarung dengan orang-orang Partai Teratai Hitam.
"Apa kau tidak menginginkan pusaka Langit dan Bumi itu, Rudra?" tanya Anggala membatin dan mengirimkan melalui telepati pada Singa Rudra.
"Aku tidak berjodoh dengan pedang itu, Sahabat. Kedua guruku meminta kau menghancurkan pusaka Langit dan Bumi agar tidak menyebabkan kekacauan akibat kedua pusaka itu di salahgunakan," sahut Singa Rudra membatin.
"Bangsat! Cepat sekali gerakan pemuda ini, wajar jika Fhatik belum mampu mendesaknya sejauh ini," Saga Lintar membatin. Padahal Setan Merah Pencabut Nyawa sudah mengerahkan lebih dari tujuh puluh persen tenaga dalam dan ilmu peringan tubuh yang ia miliki.
"Heaaah...!" Fhatik pun langsung melesat menyusul sambil menyabetkan pedang Bumi ke arah dada Pendekar Naga Sakti. Namun dengan ilmu 'Delapan Langkah Malaikat'. Anggala masih sempat menarik tubuhnya ke belakang.
Sring!
Anggala dengan begitu cepat menyibak kain putih pemnalut pedang Naga Sakti yang terselip di balik punggung kanannya. Semburat cahaya biru keputihan semerbak menyilaukan mata. Saga Lintar dan Fhatik terpaksa melintang pedang mereka di depan mata untuk mengurangi silau yang menerpa mata mereka.
Sementara itu Singa Rudra yang berhadapan dengan Macan Jenggi tampak telah terlibat pertarungan yang cukup sengit, walau pertarungan mereka masih cukup seimbang.
Singa Rudra memang tadi sempat menunggu Macan Jenggi untuk mengobati luka dalam yang ia derita akibat adu pukulan dengan Pendekar Naga Sakti tadi.
"Heaaa....!"
Trang! Trang!
__ADS_1
Blabang Geni yang berhadapan dengan Macan Kuning tampak cukup kerepotan menghadapi serangan pedang di tangan salah satu dari Tiga Macan itu. Namun Blabang Geni tampak berusaha tenang menghadapi serangan tokoh hitam yang jelas mempunyai pengalaman dan ilmu beberapa tingkat di atasnya.
Berbekal keuletan dalam berlatih Blabang Geni tampak menghadapi serangan Macan Kuning yang tampak sangat bernafsu untuk mengalahkannya.
"He he he....! Anak Muda. Sebaiknya kau menyatakan diri bergabung dengan Partai Teratai Hitam, maka aku tidak akan menghabisi mu!" tawar Macan Kuning sambil tetap menyerang ke arah Blabang Geni.
"Selama nyawa masih di kandung badan, jangan kau harap aku mengikuti niat jahat kalian dengan dunia persilatan tanah Andalas ini, Macan Kuning!" sahut Blabang Geni sengit.
"Jika itu maumu, aku akan mempercepat kematianmu, Anak Muda! Hiyaaaa.....!" teriakan nyaring Macan Kuning terdengar lantang, laki laki setengah baya yang suka dengan pakaian serba kuning itu meningkatkan daya serangannya.
Trang! Trang!
Berkali-kali bunga api terlihat memercik di pergesekan senjata keduanya. Macan Kuning yang tidak ingin kalah pamor dengan orang Perguruan Alam Jagat itu mengerahkan jurus-jurus pedang andalannya.
Sret!
"Akgh...!" Blabang Geni mengeluh tertahan ketika sambaran ujung pedang Macan Kuning berhasil menyerempet bahunya. Blabang Geni terlihat terhuyung mundur sambil memegangi bahu kirinya yang mengucur darah segar.
"Mati kau....!"
Kali ini Blabang Geni terpaksa pasrah, namun tak rela. Macan Kuning melesat cepat sambil mengarahkan ujung pedangnya ke arah dada Blabang Geni.
"Mati aku....!" desis Blabang Geni dalam hati pasrah, racun dari pedang Macan Kuning mulai membuat pandangannya berkunang-kunang. Blabang Geni berusaha mempokuskan pandangannya tapi penglihatan pemuda itu semakin pudar dan semakin kelam.
Trang!
Di saat yang genting sebuah bayangan bergerak bagai kilat menangkis pedang Macan Kuning yang hampir menusuk dada Blabang Geni itu.
.
.
Bersambung....
__ADS_1