Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Bag 2


__ADS_3

Setelah mendengar penuturan kakek Wiratama yang panjang lebar Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa memutuskan membantu sang kakek. Mereka berangkat menggunakan kuda. Wulan Ayu meminjamkan kudanya pada Sesepuh Pikun. Sedangkan ia sendiri berkuda dengan Anggala.


Setelah hampir seharian meraka berkuda. Hari pun sudah hampir malam. Kakek Wiratama mengajak mereka beristirahat dipinggir sebuaj sungai kecil. Rupanya sungai tersebut merupakan hulu sungai yang mengalir ke kampung kakek Wiratama.


"Kita istirahat disini nak, kampung kakek sudah cukup dekat. Disini kita bisa beristirahat dan mencari ikan untuk makan malam kita," kata kakek Wiratama sambil mengikat tali kuda pada sebatang pohon kecil.


"Terserah Kakek deh, kami ikut saja," jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum. Bidadari Pencabut Nyawa hanya mengangguk tanda setuju.


"Kakek dan Wulan bikin api, biar saya yang mencari ikan," kata Pendekar Naga Sakti seraya pergi kearah sungai. Wulan Ayu tanpa basa-basi lagi langsung mengambil ranting yang berserakan di bawah pohon dan membuat api unggun kecil sebagai penerangan dan untuk membakar ikan.


Tidak begitu lama Pendekar Naga Sakti pergi ke sungai, ia telah kembali dengan serenteng ikan yang besar-besar. Ikan itu telah Pendekar Naga Sakti bersihkan, sehingga mereka tinggal menanggungnya kebara api yang telah disiapkan.


"Kek. Ayo kita makan, bau ikannya harum, kakek tentu lapar," kata Wulan Ayu sambil menyodorkan sepitan ikan yang cukup besar yang telah matang.


"Terima kasih banyak nak Wulan," ucap kakek Wiratama. Kakek tua itu tampak agak lesu.


"Ada apa Kek? Kakek bisa cerita pada kami, tapi ikannya dimakan," kata Wulan Ayu tersenyum ramah.


"Iya Kek, kita sudah hampir seharian berkuda tentu lelah dan perut mulai kosong, sebaiknya Kakek makan," pinta Anggala sambil duduk disamping kakek Wiratama.


"Sebenarnya kakek ingat pada cucu kakek. dia sudah seminggu kakek tinggal. Kakek jadi kepikiran dia, apa sudah makan apa belum?" tutur kakek Wiratama tampak menerawang.


"Bukankah Kakek pergi mewakili orang kampung. Orang-orang disana tidak akan membiarkan cucu Kakek kelaparan," timpal Pendekar Naga Sakti sambil memegang lembut lengan kiri kakek Wiratama.


"Terima kasih nak Anggala. Tidak salah saya memilih minta bantuan kalian," ungkap kakek Wiratama berusaha tersenyum. Laki-laki tua tersebut akhirnya mempreteli ikan panggang di tangannya sedikit demi sedikit.


Belum habis ikan ditangan mereka. Tiba-tiba seombongan orang-orang berpakaian hitam berjumlah sekitar sepuluh orang mengepung mereka. Diantara orang-orang itu ada seorang yang memakai rompi ungu.


"Hahaha...! Kebetulan sekali kami memang sedang lapar. Cepat serahkan ikan bakar kalian atau kami ambil secara paksa!" bentak Laki-laki berompi ungu itu.


"Heh! Bergola Ungu, sungguh tercela hidupmu. mau merebut ikan yang ada ditangan orang!" hardik kakek Wiratama sambil berdiri dan mengacungkan sepitan ikan ditangan kirinya. Sedangkan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa hanya bersikap cuek, mereka tetap menyantap ikan yang telah mereka panggang atau dibakar itu.

__ADS_1


"Hahaha...! Kakek Pikun, pantasan Kau menghilang beberapa hari ini, rupanya Kau mau mencari korban baru lagi. Hahaha....!" tawa Bergola Ungu tampak merendahkan kakek Wiratama.


"Hehehe..! Kalian boleh pongah. Tapi kali ini kalian akan kena batunya, ingat itu," balas kakek Wiratama. Kakek Wiratama hendak berjalan kedepan. Namun Bidadari Pencabut Nyawa cepat berdiri dan mencegahnya.


"Tenang Kek, biarkan saja anjing menggonggong kafilah tetap berlalu," ucap Wulan Ayu setengah mengejek kearah Bergola Ungu beserta anak buahnya.


"Kurang ajar! Kita dianggap seperti anjing! Habisi dia!" perintah Bergola Ungu. Tanpa diperintah kedua kalinya anak buah Bergola Ungu langsung melompat menyerang kearah Bidadari Pencabut Nyawa.


"Eit! Tunggu dulu!" potong Bidadari Pencabut Nyawa sambil memajukan kedua tangannya kedepan, tangan kirinya masih memegang jepitan ikan. Anak buah Bergola Ungu jadi tertegun dan menahan serangannya.


"Apa?" bentak anak buah Bergola Ungu penasaran.


"Aku mau menghabiskan ikan panggangku dulu," kata Bidadari Pencabut Nyawa seakan tidak bersalah.


"Bangsat!" Bukan main marahnya anak buah Bergola Ungu merasa dipermainkan, dengan cukup cepat ia mengayunkan goloknya kearah kepala Bidadari Pencabut Nyawa. Namun dengan begitu gesit tangan kirinya menahan pergelangan tangan anak buah Bergola Ungu tersebut.


"Heaaa...!"


Buak!


"Aakh...! Anak buah Bergola Ungu itu melenguh tertahan ketika tubuhnya terhempas ketanah. Begitu cepat kaki kanan Bidadari Pencabut Nyawa menendang tekuk laki-laki tersebut, sehingga ia jatuh pingsan.


"Heh!" Anak buah Bergola Ungu yang lain segera melompat mencecar tubuh Bidadari Pencabut Nyawa dengan golok ditangan mereka dati segala arah. Namun dengan begitu cepat bagaikan kilat Bidadari Pencabut Nyawa melentingkan tubuhnya keudara. Setelah bersalto dua kali diudaraBidadari Pencabut Nyawa langsung menjejak kaki didepan Bergola Ungu.


"Hah!" Mulut Bergola Ungu seakan tertahan, mulutnya menganga hampir tidak percaya melihat Wulan Ayu telah berdiri Di depannya. Jarak mereka tinggal beberapa langkah. Anak buah Bergola Ungu tampak terkejut melihat musuh, sudah didepan pimpinan mereka.


"Bangsat!" bentak Bergola Ungu langsung melompat menyerang Wulan Ayu dengan sebuah tendangan.


"Eit!" lagi-lagi Wulan Ayu hanya berkelit dengan cukup cepat, sehingga serangan Bergola Ungu hanya mengenai angin kosong. Sebuah tendangan dilepaskan kearah punggung Bergola Ungu.


Buak!

__ADS_1


"Akh..!" Bergola Ungu melenguh tertahan. Sebelum tubuhnya jatuh tertelungkup didepan Pendekar Naga Sakti yang masih asyik menyantap ikan bakarnya. Bergola Ungu berusaha bangun, namun tongkat kakek Wiratama telah menahan punggungnya. Bergola Ungu berusaha berontak tapi tidak berhasil, tubuhnya seakan ditimpa batu besar. Sehingga Bergola Ungu tidak mampu untuk bangun.


"Hehehe...! Bergola Ungu. Kan sudah aku katakan tadi, mereka bukan tandinganmu!" bentak kakek Wiratama.


"Si... Siapa mereka Kek?" tanya Bergola Ungu sambil mengap-mengap menahan beban yang ia rasakan.


"Hehehe...! Tanyalah sendiri Bergola Ungu," jawab kakek Wiratama seraya melepaskan himpitan tongkatnya dari tubuh Bergola Ungu. Anak buah Bergola Ungu tampak tertegun melihat pimpinan mereka dijadikan mainan dalam sekali gerakan.


Bergola Ungu berusaha berdiri sambil meraba punggungnya yang terasa nyeri akibat tendangan Wulan Ayu tadi.


Sret!


"Kau harus membayar perbuatanmu, Nisanak!" geram Bergola Ungu sambil memainkan golok besarnya didepan dada. Suara ayunan goloknya menimbulkan suara mendengung, pertanda Bergola Ungu telah mengerahkan tenaga dalamnya.


"Haha..! Diberi hati. Kau minta jantung Bergola Ungu!" jawab Bidadari Pencabut Nyawa dingin.


"Heaaa...!" Bentakan Bergola Ungu mengawali serangannya. Ayunan golok besar Bergola Ungu menderu cepat mencecar ke arah titik mematikan ditubuh Bidadari Pencabut Nyawa. Namun gadis cantik berbaju biru itu hanya menyunggingkan senyum tipis sambil memperhatikan arah serangan Bergola Ungu itu.


Tap!


"Hah!" Bergola Ungu terperangah melihat tangan kanannya ditangkap dengan begitu cepat oleh Bidadari Pencabut Nyawa. Belum hilang keterkejutan Bergola Ungu sebuah pukulan bertenaga dalam tinggi telak menghantam dadanya.


Buak!


"Aaakh...!" terdengar pelan lenguhan kesakitan dari mulut Bergola Ungu sebelum tubuhnya terpental entah beberapa tombak kebelakang. Bergola Ungu jatuh tertelungkup ditanah, goloknya telah lepas dari genggaman tangan kanannya.


Perlahan Bergola Ungu berusaha mengangkat wajahnya. Tampak darah mengalir dari sudut bibirnya. Tidak lama kemudian Bergola Ungu kembali jatuh dan diam tidak berkutik.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2