Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Teror Perguruan Belati Terbang


__ADS_3

Angin berhembus agak kencang, awan tampak hitam di langit, rambut panjang Bidadari Pencabut Nyawa tampak berkibar-kibar.


Wajah cantik nya tampak memerah karna menahan amarah. Tangan kanannya menunjuk ke arah orang-orang berbaju hitam itu.


Orang-orang berpakaian hitam itu pun lansung melompat keluar dari warung itu, dan berdiri tidak jauh dari Bidadari Pencabut Nyawa itu.


.


"He he he....! Neng cantik, kami hanya menawarkan uang banyak, kok malah mau cari penyakit," Ujar salah seorang dari Lima orang itu sambil tertawa terkekeh.


.


Bidadari Pencabut Nyawa hanya menyungging senyum tipis melihat orang-orang itu malah mentertawakan nya.


"Samba, beri dia pelajaran," Ujar orang yang tadi menggoda Wulan Ayu itu.


"Baik, Kak!" Jawab orang yang bernama Samba itu. Ia pun lansung melompat ke arah Wulan Ayu dengan sebuah tendangan yang cukup cepat.


"Hup...


Wut...!


Dengan menggeser sedikit tubuhnya ke samping Wulan Ayu menghindari tendangan Samba itu, dengan begitu cepat kaki kanannya melesat ke samping lansung menghantam dada orang yang bernama Samba itu.


Buak...!


"Aaakh...!"


Lenguhan tertahan keluar dari mulut Samba, maka seketika tubuhnya terpental sekitar dua tombak ke samping kawan kawannya, tampak darah segar mengalir di sela sela bibirnya.


"Bangsat! Habisi dia!" Perintah orang yang paling tua di antara ke empat orang berbaju hitam itu. Keempat anggotanya lansung melompat secara serentak ke arah Wulan Ayu dengan tendangan dan pukulan tangan kosong.


"Heaaa....!"


"Hup.....!"


Wulan Ayu alias Bidadari Pencabut Nyawa menarik tubuhnya kebelakang dengan begitu ringan, sehingga serangan ke empat orang berbaju hitam itu hanya mengenai angin. Senyum tipis menyungging di bibirnya.


Begitu kaki Wulan Ayu menjejak tanah, tubuhnya melesat begitu cepat ke depan, pukulan tangan kosongnya lansung menghajar dua orang yang paling dekat dengannya, dua orang itupun tidak ayal harus terpental ke tanah.


Dua orang lagi lansung menerjang ke arah Bidadari Pencabut Nyawa itu dengan tendangan beruntun. Namun dengan gesitnya Bidadari Pencabut Nyawa menghindari serangan itu, bahkan dengan begitu cepat ia memberikan serangan balasan ke arah dua orang musuh yang menyerangnya itu.


Tendangan kaki Bidadari Pencabut Nyawa yang begitu cepat tidak sempat di hindari dua orang berbaju hitam itu. Sehingga tendangan Bidadari Pencabut Nyawa itu telak menghantam dada kedua nya, tidak ayal lagi kedua orang itu harus terjerambat ke tanah.


"Hebat juga Kau gadis J4lang..!" Bentak laki laki yang tampaknya adalah senior dari ke empat orang yang dikalahkan Bidadari Pencabut Nyawa barusan. Laki-laki dengan cukup cepat ia melompat, sebuah tendangan yang mengandung tenaga dalam di lepaskan ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.


"Heaa...!"


Dik...!


Dengan sigap Bidadari Pencabut Nyawa menangkis tendangan orang itu dengan lengannya, sehingga orang itu terjajar dua langkah ke belakang, namun begitu menjejak kaki, laki-laki itu lansung mengusulkan sebuah serangan tangan kosong ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.

__ADS_1


Tap..!


Bidadari Pencabut Nyawa dengan sigap menangkap tinju laki laki itu.Bidadari Pencabut Nyawa dengan secepat kilat ia lansung melepaskan sebuah pukulan ke arah dada laki-laki itu, sehingga.


Buk.!


"Aaakh...!"


Laki-laki terhuyung ke belakang dengan memegangi dadanya, tampak bibirnya meringis menahan sakit yang mendera dadanya.


"Hanya itu yang Kalian punya Kisanak!" Ujar Bidadari Pencabut Nyawa dengan nada setengah mengejek.


Tiba-tiba ke empat orang itu melempar sesuatu ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.


Set..! Set...!


"Hup...!"


Bidadari Pencabut Nyawa dengan cepat berjumpalitan menghindari, senjata rahasia yang di lemparkan musuh-musuh itu, sehingga senjata rahasia yang berbentuk pisau itu hanya lewat di bawah tubuhnya.


Sret..!


Bidadari Pencabut Nyawa lansung mengeluarkan kipas elang perak yang ada di balik baju birunya itu.


"Kipas Elang Perak!"


Laki yang di panggil Kakak oleh Samba dan kawan-Kawannya itu, tampak terperanjat melihat kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


"Kita serang dia bersama-sama," Ujar laki-laki itu setengah bergumam.


"Baik, Kak," Jawab kelima kawan nya, maka secara beruntun mereka melempar pisau belati ke arah Wulan Ayu atau Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Set..! Set....!


Trang...! Trang...!


Pisau-pisau belati itu berjatuhan ke tanah begitu mengenai daun kipas elang perak ditangan Bidadari Pencabut Nyawa itu. Secepat kilat Bidadari Pencabut Nyawa mengibaskan Kipas Elang Perak kearah lima musuhnya itu, maka seketika berluncuran senjata rahasia berupa jarum keluar dari ujung Kipas itu.


Kelima orang itu tidak menyangka, jika Bidadari Pencabut Nyawa akan melepaskan senjata rahasia, di tambah kecepatan luncurkan senjata rahasia itu jauh di atas kecepatan belati terbang milik mereka, sehingga mereka tidak sempat menghindar.


"Aaaa....!"


Ke empat orang itu lansung jatuh sambil memegangi bagian tubuh nya yang terkena senjata rahasia dari kipas elang perak itu, sedangkan laki laki yang jadi pimpinan ke empat orang itu sempat berkelit, sehingga senjata rahasia berupa jarum itu hanya menyerempet tangan dan perutnya, Dengan tertatih Laki-laki itu berusaha melarikan diri.


Bidadari Pencabut Nyawa yang sudah terlanjur murka itu tidak memberi kesempatan bagi musuhnya, dengan sigap di pungutnya dua buah pisau belati yang berserakan di tanah, dan secepat kilat di lemparkan ke arah parang berbaju hitam yang berusaha melarikan diri itu.


Set...! Set...!


"Aakh..!"


Jerit terakhir keluar dari mulut laki-laki berpakaian hitam itu, yang tampaknya adalah orang-orang dari perguruan Belati Terbang itu, Bersamaan tubuhnya terpental dan jatuh tertelungkup di tanah. Dua buah pisau belati senjata andalannya sendiri, tertancap di punggungnya.

__ADS_1


.


"Rupanya Orang-orang PerguBelati Terbang telah begitu merajalela," Guman Wulan Ayu dalam hati, ia pun berjalan kembali ke arah warung, yang di sana menunggu Anggala si Pendekar Naga Sakti, kipas elang perak masih tergenggam di tangannya.


.


"Syukurlah, Pendekar itu membiasakan mereka, jadi agak berkurang juga orang-orang Perguruan Belati Terbang itu," Kata Aki pemilik warung itu, setengah berguman. Anggala yang lagi duduk menyantap ubi rebus dan kopi pesanannya, sempat mendengar perkataan Aki empunya warung itu.


.


"Memangnya seberapa parah sepak terjang orang orang Perguruan Belati Terbang itu Ki?" Tanya Anggala.


"Eh, Aden!" Aki empunya warung itu tampak terkejut, "Cukup parah Den, mereka semena-memacu pada penduduk, mereka kalau makan, tidak mau bayar, dan mereka suka mengganggu para wanita, apalagi kalau wanita muda, mereka akan menggoda, bahkan mengusirnya,"


"Jadi sepak terjang mereka tidak hanya sebatas di dunia persilatan saja meresahkan ya Ki?"


.


"Begitulah Den," Jawab Aki itu singkat, ia langsung menyambut Wulan Ayu, "Den putri mau pesan apa?"


"Saya pesan minuman saja dulu Ki," Jawab Wulan Ayu sambil duduk di depan Anggala.


"Baru di tinggal sebentar, sudah berantem," Goda Anggala sambil tertawa kecil, sambil memandang wajah cantik di depannya itu.


"Habis mereka menganggap Dinda gadis murahan," Rutuk Wulan Ayu sambil merengut di goda kekasihnya itu.


"Tadi sempat berpikir mau bantu! Eh.. Bidadari Pencabut Nyawa udah ngamuk! Nggak jadi deh!" Ucap Anggala tampak semakin menggoda Bidadari cantik dari barat itu.


"Hmm..! Mulai, ledekin Dinda!" Jawab Wulan Ayu sambil tersenyum, di cubitnya tangan Anggala, seraya mengambil ubi rebus di dalam piring.


.


Tanpa di minta orang orang kampung itu berdatangan. Mereka secara bergotong royong mengangkat mayat orang-orang Perguruan Belati Terbang itu. Mereka lalu menguburkan mayat-mayat itu di dalam hutan di tepi desa.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Untuk dukung novel ini.

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2