
Saat Setan Merah Pencabut Nyawa hendak mendekati Blabang Geni, sebuah senjata rahasia beterbangan ke arah Setan Merah Pencabut Nyawa.
Set! Set! Set!
"Heh...!"
Setan Merah Pencabut Nyawa terpaksa melentingkan tubuhnya ke udara menghindari serangan senjata rahasia yang berupa ranting itu.
"Siapa lagi yang berani membuat onar di Perguruan kami ini. Hah!" terdengar suara orang membentak, tidak lama kemudian muncul di hadapan Singa Rudra dan Blabang Geni dua orang kakek yang memiliki rambut berbeda, yang satunya memiliki rambut putih bak uban dan Yang satunya memiliki rambut merah bak api.
"Hmm...! Akhirnya kalian muncul juga, tua bangka!" kata Setan Merah Pencabut Nyawa.
"Ha ha ha...! Setan Merah Pencabut Nyawa! Rupanya kau belum jera di hajar tiga tahun yang lalu," tunjuk Pendekar Rambut Merah.
"Ha ha ha...! Tua bangka. Jika tidak karena kalian mengeroyokku dan memakai senjata pedang langit dan pedang bumi, aku belum tentu kalah," dengus Setan Merah Pencabut Nyawa.
Sedangkan Pendekar Naga Hitam tampak hanya diam memperhatikan.
"Sebaiknya kalian berikan pedang jagat pada kami, kami akan membiarkan kalian hidup tentram!" Fhatik yang mengeluarkan suara.
"Siapa kau, anak muda?" Datuk Rambut Putih menatap tajam ke arah Pendekar Naga Hitam.
"Kau terlalu piningit orang tua, sampai Pendekar Naga Hitam tidak kau kenali," ketus Setan Merah Pencabut Nyawa.
"O, rupanya dia adalah murid durhaka Pertapa Naga," ujar Datuk Rambut Merah menyadari.
"Sungguh seorang murid yang tidak punya harga diri, kau berubah cuma keinginan mu menguasai pedang naga sakti itu, anak muda," ujar Datuk Rambut Merah.
"Kau tidak usah banyak bacot, orang tua. Baumu sudah bau tanah, tapi kau masih sok bijak," jawab Fhatik dongkol.
"Ha ha ha...! Anak muda, bauku memang sudah bau tanah, namun aku bukan penghianat yang menghianati kepercayaan Guru ku sendiri," balas Datuk Rambut Merah.
"Kau!" murka Pendekar Naga Hitam, "Cepat serahkan pedang jagat, maka kau akan ku biarkan melihat matahari esok hari,"
"Kau kira kami hanya kakek peot yang bisa kalian anggap remeh, anak muda," jawab Datuk Rambut Putih datar.
"Kau memang banyak bacot! Heaaah..!" Fhatik langsung membuka serangan dengan jurus 'Cakar Naga Hitam'.
"Sha!"
Datuk Rambut Putih tidak tinggal diam, dengan begitu lincah ia menggeser tubuhnya ke samping menghindari cakaran jemari Pendekar Naga Hitam yang mencerca ke arah lehernya.
Plak!
Belakang tangan Datuk Rambut Putih langsung beradu dengan lengan Fhatik, namun Fhatik bukanlah seorang pendekar kemaren sore, dengan begitu cepat kaki kanannya menerjang ke arah pinggang Datuk Rambut Putih.
__ADS_1
Wuk!
"Hup!"
Namun sebagai pendekar yang puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan, Datuk Rambut Putih tidak mungkin di kalahkan hanya dengan serangan jurus-jurus awal Pendekar Naga Hitam.
"Hiyaaa...!" bentakan Datuk Rambut Putih sambil melakukan gerakan memutar sehingga tendangan kaki Fhatik hanya mengenai angin kosong.
"Sha!"
Datuk Rambut Putih langsung merapal jurus awal Tapak Jagat'. Setelah memutar telapak tangan kanan sang Datuk melesat cepat ke arah dada Pendekar Naga Hitam.
Tap!
Fhatik cepat menyorongkan telapak tangan kanannya menapaki serangan Datuk Rambut Putih itu. Adu tenaga dalam pun tidak terelakkan.
Dess!
Asap tipis berwarna putih tampak keluar dari telapak tangan kedua tokoh silat itu.
Angin kencang tiba-tiba berhembus memutari kedua orang yang mengadu kekuatan tenaga dalam itu.
Dalam sekejap kedua pendekar itu sudah berpindah tempat gerakan mereka begitu cepat hingga sulit di ikuti mata manusia biasa.
Singa Rudra dan Blabang Geni tampak berusaha menjauhi arena pertarungan dua tokoh silat tingkat tinggi itu.
"Mudah-mudahan kakek guru bisa mengatasi kedua pendekar itu, Kak,"
"Ya, aku juga berharap begitu Geni," sahut Singa Rudra, "Ilmu kita memang tidak ada apa-apanya jika di banding kesaktian mereka, beruntung mereka tidak berniat membunuh kita," sambung Singa Rudra lagi.
"Kau benar, Kak Rudra," imbuh Blabang Geni, beberapa murid Perguruan Alam Jagat tampak juga ikut menjauhi arena latihan yang di jadikan tempat bertarung itu.
Sementara Setan Merah Pencabut Nyawa tampak masih saling menatap tanpa bergeming dengan Datuk Rambut Merah.
"Sekarang giliran kita, Tua bangka!" tantang Setan Merah Pencabut Nyawa.
"Akan ku layani keinginanmu itu, anak muda," sahut Datuk Rambut Merah dengan nada suara datar.
"Kau akan merasakan jurus-jurus Setan Merah hari ini orang tua! Hiyaaa...!" bentakan Setan Merah Pencabut Nyawa itu mengawali tubuhnya melesat cepat bagai kilat ke arah Datuk Rambut Merah.
Tap!
Datuk Rambut Merah dengan sigap menahan tendangan kaki kanan Setan Merah Pencabut Nyawa dengan kepalan tinju tangan kanannya.
"Haa..!"
__ADS_1
Setan Merah Pencabut Nyawa cepat melentingkan tubuhnya ke udara dan berputar cepat lalu dengan begitu cepat tokoh hitam murid Kelelawar Iblis itu meluruk ke arah Datuk Rambut Merah.
Crek!
Suara jemari tangan kanan Setan Merah Pencabut Nyawa yang langsung membentuk cakar terdengar jelas. Begitu cepat gerakan Setan Merah Pencabut Nyawa, dalam sekejap mata ia sudah berada di depan Datuk Rambut Merah dengan tangan mencerca ke arah titik lemah orang tua berambut merah itu.
Tap! Tap!
Datuk Rambut Merah menyadari kekuatan dan bahaya cakar jemari Setan Merah Pencabut Nyawa itu, dengan sigap kakek tua berambut merah itu menapaki serangan Setan Merah Pencabut Nyawa dengan menapaki lengan kedua tangan musuhnya itu.
Pertarungan kedua pasang pendekar itu berjalan cepat, keduanya bergerak kesana kemari bagai kilat yang berpindah-pindah.
Para murid Perguruan Alam Jagat tampak memperhatikan jalan pertarungan kedua sesepuh Perguruan mereka, dengan kedua tamu tak di undang itu dengan hati deg-degkan.
"Kak Rudra, sebaiknya kita sambil meditasi mengobati luka dalam, Kak," kata Blabang Geni.
"Kau benar, Geni," jawab Singa Rudra. Kedua murid tertua Perguruan Alam Jagat itu lalu mengambil posisi semedi untuk mengobati luka dalam mereka.
Sementara itu pertarungan kedua sesepuh Perguruan Alam Jagat dengan kedua tokoh hitam itu semakin sengit, sudah lebih dari dua puluh jurus yang mereka gunakan. Namun belum tampak siapa yang akan keluar sebagai pemenang pertarungan itu.
"Ha ha ha..! Kau memang hebat Datuk, tapi aku datang kesini dengan tujuan, aku tidak ingin pulang sebelum mencapai tujuanku itu," ujar Setan Merah Pencabut Nyawa sambil melompat mundur sekitar tiga tombak ke belakang.
Datuk Rambut Merah tampak hanya diam menanggapi ucapan Setan Merah Pencabut Nyawa tersebut.
"Ajian Setan Merah, Mengacau Neraka!"
"Ajian Setan Merah, Mengacau Neraka?" Datuk Rambut Merah tampak terkesiap.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.