
Matahari hampir menghilang di upuk barat, suara cacing dan jangkrik bak bernyanyi menandakan malam hampir datang. Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa memutuskan berjaga jaga di ujung desa. Mereka bersembunyi di atas sebatang pohon yang cukup rindang. Sehingga mereka berdua bisa melihat siapa saja yang datang memasuki desa Talang kuda itu.
.
"Kak, apa kita datangi saja Perguruan Belati Terbang itu? Dinda takut mereka datang lagi dan menyerang saat kita lengah, seperti tadi pagi, tiga orang penduduk tewas, dan lima buah rumah hangus karna di bakar orang orang Perguruan Belati Terbang itu," Ujar Wulan Ayu tampak geram, ia bebicara setengah berbisik.
.
"Kita bisa saja mendatangi Perguruan Belati Terbang itu, yang Kakak takutkan adalah kita kesana? Dan mereka kesini, kita beda arah perjalanan, penduduk akan lebih banyak yang jadi korban, bukan hanya seorang dua orang saja Dinda, bisa-bisa satu kampung ini mereka bantai srmua. Kita akan lebih merasa bersalah lagi Dinda jika semua itu terjadi?" Jawab Anggala dengan begitu bijak.
.
"Iya ya Kak, jika semua itu terjadi penduduk desa tidak akan bisa berbuat apa-apa? Kakak memang seorang pangeran, sangat bijaksana memikirkan banyak orang, bukan hanya amarah kebencian pada orang-orang jahat itu," Puji Wulan Ayu sambil tersenyum. Di peluknya lengan tangan Pendekar Naga Sakti kekasihnya itu.
.
Anggala hanya tersenyum menatap wajah cantik di samping nya itu, "Dinda, kali ini jika mereka datang malam hari gunakan senjata rahasia dari kipas elang perak Dinda itu, sedapat mungkin jangan biarkan mereka meneruskan niat mereka," Tegas Anggala.
.
"Biasa nya yang emosian dinda, kenapa sekarang Kakak yang tidak sabaran?" Balas Wulan Ayu sambil tertawa.
.
"Kakak hanya geram dengan kepengecutan orang-orang Perguruan Belati Terbang itu, mereka marah pada kita, malah penduduk jadi sasaran kemarahan mereka! Dasar tokoh-tokoh hitam yang tidak punya rasa kesatriaan,"
.
"Hmm.. Yang jahat orang Perguruan Belati Terbang itu, yang dapat rengutannya dinda?" Rungut Wulan Ayu berusaha menggoda Anggala yang tampak agak emosi.
.
"Siapa juga yang rengutin Dinda!" Tiba tiba Anggala mencium pipi si cantik Wulan Ayu.
.
"Hmm.. Berani nyuri cium ya?" Tawa si Bidadari Pencabut Nyawa dengan wajah memerah menahan malu dan terkejut di cium secara tiba-tiba itu. Wulan Ayu malah memeluk lengan Anggala lebih erat, bibirnya menyungging senyum bahagia.
.
Baru saja hari mulai gelap tampak puluhan kuda berlari kencang di dalam hutan menuju tempat itu, tampak di sana ada Kala Pati, nyi laras santang, nyi Saweti dan Sarmada si Kapak Iblis dan Kindar Saka di sana.
.
"Dinda tampak nya mereka datang dengan kekuatan besar!" Ujar Pendekar Naga Sakti sambil memperhatikan rombongan itu dengan 'Jurus Mata Malaikatnya. Wulan Ayu pun menggunakan 'Jurus Tatapan Bidadari'. nya sehingga ia bisa jelas melihat musuh dalam remang-remang senja itu.
.
"Lansung kita hadang Kak?" Tanya si Bidadari Pencabut Nyawa itu. Anggala hanya mengangguk. Begitu rombongan Kala Pati sampai di depan mereka. Kedua pendekar itu lansung melompat menghadang.
.
__ADS_1
Kuda-kuda mereka meringkik terkejut karna tiba-tiba di hadang, tampak Anggala dan Wulan Ayu berdiri tegak menghadang jalan.
.
"Ha ha ha..! Kalian datang mengantarkan nyawa! Kami memang mencari Kalian!" Bentak Kala Pati dengan suara sangarnya di iringi tawa menyeramkan.
.
"Siapa yang mengantarkan nyawa? Kita akan melihatnya Ki!" Jawab Pendekar Naga Sakti sengit.
.
"Jadi mereka Kedua pendekar itu Kanda?" Tanya nyi Saweti sambil mendatar kan kudanya di samping kuda milik Kala Pati.
.
"Ya, mereka berdua Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa itu," Jawab Kala Pati.
.
Nyi Saweti dan nyi laras santang lansung melompat dari kudanya ke depan Wulan Ayu. Kedua wanita itu lansung mengambil ancang-ancang mengepung si Bidadari Pencabut Nyawa itu. Sedangkan yang di kepung masih tampak begitu tenang.
.
"Sarmada kita balas kematian paman Kala Ireng dan kanda Damar Suta padanya!" Setelah berkata Kindar Saka lansung melompat ke depan Pendekar Naga Sakti. Si Kapak Iblis pun segera menyusul, mereka berdua lansung mengepung Pendekar Naga Sakti dari dua arah.
.
.
"Pendekar Naga Sakti, Kau akan membayar kematian Kakak dan pamanku malam ini," Ucap Kindar Saka dengan penuh n4fsu membunuh yang begitu tinggi, matanya menatap lekat ke arah Anggala dengan penuh kebencian.
.
"Kematian dan kehidupan bagai dua telapak tangan Kisanak, di mana ada kehidupan di situ ada kematian, demi membela orang-orang yang lemah aku tidak takut akan kematian!" Jawab Anggala dengan cukup sengit dan bernada dingin, Pendekar Naga Sakti diam-diam meningkatkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya, ia menyiapkan 'Jurus Pukulan Tinju Halilintar'. Tingkat Tiga nya.
.
Sret..!
Sring..!
Si Pedang Terbang dan Si Kapak Iblis menghunus senjata andalannya. Kindar Saka menghunus pedangnya, dan Sarmada menghunus Kapak besar bermata dua dari balik punggungnya.
.
Mereka berdua mulai bergerak mengelilingi Pendekar Naga Sakti dari dua arah. Jarak kedua sepupu itu dengan Pendekar Naga Sakti hanya tinggal sekitar satu setengah tombak lagi.
Pendekar Naga Sakti tidak mau kecolongan, ia pun mempersiapkan 'Ilmu Baju Besi Emas'. Tingkat delapan belasnya.
.
__ADS_1
Pendekar Naga Sakti yang tampak memendam kemarahan atas perlakuan Damar Suta dan Kindar Saka tadi pagi, tampak berniat lansung menghabisi tokoh golongan hitam dari Perguruan Belati Terbang itu.
.
Ilmu Pukulan Tinju Halilintar bukanlah ilmu kesaktian biasa apalagi di gunakan dengan tenaga dalam tinggi, kepalan tinju pemakainya akan mengandung aliran seperti listrik yang bisa membunuh orang yang bersentuhan dengan nya.
.
Si Kapak Iblis pun berniat menghabisi Anggala, ia lansung menggunakan 'Jurus Kapak Iblis Pembelah Gunung'. Tingkat tertinggi yang ia kuasai. Cahaya merah menyala menyelubungi Kapak bermata dua di tangannya. Sarmada mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi, mungkin di tingkatan tujuh puluh sampai delapan puluh persen. Kapak bermata dua itu begitu ringan di tangannya, ia memegangnya begitu enteng bagai memegang sebuah ranting.
.
Si Pedang Terbang pun mempersiapkan jurus andalannya, yaitu 'Jurus Pedang Seribu Kematian,
mereka tampak berniat menghabisi Pendekar Naga Sakti di awal serangan mereka itu. Namun orang yang bakal mereka serang tampak begitu tenang, walau hatinya menyimpan kemarahan.
.
"Heaaa...!
Jerit melengking keluar dari mulut si Kapak Iblis, maka seketika itu tibuhnya melesat cepat ke arah Pendekar Naga Sakti. Kapak besar bermata dua itu mengayun ke arah kepala Pendekar Naga Sakti.
.
Wut..!
Trang..!
Si Kapak maut terkejut bukan kepalang, karna begitu kapak besar bertenaga dalam tingginya tidak mampu melukai tubuh Pendekar Naga Sakti itu. Sedangkan Pendekar Naga Sakti hanya menangkis serangannya dengan lengan tangan kiri. Yang lebih mengejutkannya lagi kapak nya seperti mengenanai sebuah gumpalan besi. Belum hilang keterkejutan Sarmada itu, Pendekar Naga Sakti tiba tiba menyerang dengan pukulan tinju tangan kanannya.
.
Si Kapak Iblis terpaksa menarik tubuhnya ke belakang, dan segera melompat mundur beberapa tombak, jika tidak tubuhnya akan gosong terkena sambaran lidah petir yang keluar dari tinju tangan Kanan Pendekar Naga Sakti itu.
.
Ctar.! Ctar! Ctar..!
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like
Koment
Vote
Dan Favorit nya ya.
__ADS_1
Terima kasih banyak. Tanks.