Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Penyamun Setan Merah


__ADS_3

Pertemuan para pendekar di Lembah Kematian semakin dekat, tinggal satu purnama ke depan, Anggala dan Wulan Ayu masih berada di Desa Lingkar Sari.


Sudah lebih sebulan Desa Lingkar Sari, tampak aman aman saja, Simbar Buana dan Ajeng Sekar, telah pergi lebih dari tiga minggu, begitu pun dengan Senopati Agung Kerajaan Galuh Permata, Arya Geni dan Sri Kemuning.


Anggala sehari hari membantu Ki Kusnadi dan istrinya, ke ladang, yang tidak jauh dari rumah Ki Kusnadi, begitu pun dengan Jaka Kelana dan Aruni, mereka tiap hari mencari ikan di sungai bersama Wulan Ayu, ikan yang mereka dapatkan, mereka jual secara murah kepada para Penduduk desa Lingkar Sari.


Semua orang Desa Lingkar Sari sangat senang dengan keberadaan Pendekar Naga Sakti, dan Para pendekar golongan putih,yang tinggal di Desa Lingkar Sari, banyak yang meminta Anggala dan Wulan Ayu beserta Jaka Kelana tetap tinggal di desa itu.


Anggala menolak secara halus permintaan para Penduduk desa Lingkar Sari, yang meminta mereka


untuk menetap di Desa Lingkar Sari.


Bila malam datang Anggala dan Jaka Kelana menemani para Penduduk meronda, ada beberapa orang pemuda Desa yang meminta di ajarkan ilmu silat pada Pendekar Naga Sakti dan Pendekar Srigala Putih Jaka Kelana.


Anggala menyarankan mereka yang ingin belajar ilmu silat, pergi ke Perguruan Bambu Kuning, yang di asuh oleh Kakaknya Aruni, Aruma Sakta.


Anggala dan Jaka Kelana memutuskan mengajarkan ilmu dasar olah kanuragan, yaitu melatih kuda kuda dan memberikan latihan awal ilmu silat, yang mereka miliki.


Para penduduk sangat senang dengan ketersediaan Anggala dan Jaka Kelana yang mau mengajarkan para pemuda Desa Lingkar Sari, latihan silat, Anggala meminta Ki Kusnadi mengajarkan silat pada para Penduduk.


Aki Kusnadi yang telah lama tidak bertarung dan memakai Ilmu silatnya, tentu sudah kaku dan sudah banyak jurus jurus yang ia telah lupa,


namun dengan bantuan Anggala Ki Kusnadi mau mengajarkan para Penduduk, ilmu silat yang ia punya.


Kini Perjalanan Anggala dan teman temannya, ke Lembah Kematian, tinggal menghitung hari Purnama semakin dekat, Anggala dan Wulan Ayu pun sering latihan bersama, Wulan Ayu mempelajari ilmu baju besi emas dari Anggala kekasih nya itu.


Namun pada suatu siang para Penduduk di kejutkan dengan datangnya kelompok Penyamun Setan Merah, yang di pimpin tiga orang laki laki yang bergelar Tiga Setan Merah, mereka adalah Soka, Loka dan Soma, sepak terjang mereka telah menggemparkan di dunia persilatan, mereka tinggal di Bukit Tiga Puluh.


Mereka memporak porandakan, warung Ki Banaja, karna Ki Banaja terlambat melayani mereka, beberapa orang penduduk mencoba mengadakan perlawanan, dengan Ilmu silat yang mereka pelajari dari Pendekar Naga Sakti dan Jaka Kelana.


Mereka berhasil menghadapi anak buah Tiga Setan Merah, namun mereka belum sanggup menghadapi


Tiga Penyamun bersaudara itu, mereka di buat babak belur oleh Tiga Setan Merah itu.

__ADS_1


Ki Somat yang tinggal tidak jauh dari warung Ki Banaja itu, cepat memberi tau Ki Kusnadi, dan Anggala.


"Ki...! Ki Kusnadi...!" Ujar Ki Banaja tampak terengah engah, di depan pintu rumah Ki Kusnadi, kebetulan hari ini Ki Kusnadi dan Istrinya sudah pulang dari ladang, mereka lagi asyik mengobrol dengan empat Pendekar.


"Ada apa lagi, Ki..?" tanya Ki Kusnadi, sambil berjalan ke arah pintu rumahnya, dan menemui Ki Somat.


"Anu Ki.! Aku Ki...!" Jawab Ki Somat, belum bisa mengatur napasnya.


"Tenang dulu Ki, masuk dan minum dulu," ujar Ki Kusnadi, Anggala mengambilkan Ki Somat secangkir air dan memberikannya pada Ki Somat, setelah minum barulah laki laki setengah baya itu agak tenang.


"Ki Banaja dan Para penduduk di hajar oleh orang orang yang mengaku sebagai Penyamun Setan Merah, Ki..!" kata Ki Somat, memberi penjelasan.


"Ya sudah, Ki Somat istirahat dulu di sini, biar kami yang akan ke sana sekarang," ujar Anggala, sambil memandang Wulan Ayu si Bidadari Pencabut Nyawa.


"Dinda..! Jaka..! Ayo kita lihat kesana..!" ajak Anggala, kepada Wulan Ayu dan Pendekar Srigala Putih.


"Baik Kak, ayo..! Aruni..," ajak Wulan Ayu, pada Aruni.


Anggala dan Jaka Kelana berkelebat bagai kilat, menuju ujung Desa, mereka mencemaskan keadaan para Penduduk, yang berhadapan dengan Penyamun Setan Merah.


Sementara itu.


"Ha ha ha.....! Mau cari mati kalian, mencoba melawan Tiga Setan Merah, hah...!" bentak Soka, Sebagai pimpinan penyamun Setan Merah.


"Panggil guru kalian kesini! Kalian belum pantas melawanku...!"


"Guru kami akan datang menghajar kalian," ujar salah seorang pemuda Desa Lingkar Sari, yang terbaring di tanah, karna di hajar Soma, adik bungsu Soka tadi.


"Cepat panggil gurumu...!" bentak Soma, sambil tertawa melihat para Penduduk telah jatuh ke tanah itu.


"Kami di sini, Kisanak..!"


Tiba tiba Pendekar Naga Sakti, sudah berada di depan para Penduduk yang di kalahkan Soma itu.

__ADS_1


Jaka Kelana membantu para Penduduk itu berdiri, dan meminta mereka meninggalkan tempat itu, tanpa di minta dua kali para Penduduk yang terluka itu segera mundur, kembali kerumah mereka.


"Siapa kalian? Apa kalian adalah guru para Penduduk itu.!?" bentak Soma, menunjuk ke arah Anggala dan Jaka Kelana.


"Ya..! Kami adalah guru mereka..!" jawab Anggala, sengit, matanya menatap tajam ke arah Soma, Anggala memandang ke arah warung Ki Banaja, yang tampak hancur di buat para penyamun Setan Merah itu.


"Ha ha ha...! Tidak ku sangka, guru mereka adalah anak muda ingusan seperti kalian..!" ujar Soma, sambil maju mendekati Anggala.


Anggala hanya tersenyum tipis, mendengar ejekan Soma, angota penyamun Setan Merah itu.


"Sebaiknya, Kau cepat berlutut, mohon ampun, mungkin aku akan membiarkan Kau hidup..! bentak Soma, dengan begitu sombong.


"Anggala, biar orang sombong ini, aku yang akan.memberinya pelajaran.," ujar Pendekar Srigala Putih, sambil maju ke depan Soma.


"Silahkan, Jaka!" Jawab Anggala, ia mundur beberapa langkah kebelakang, memberi ruang pada Jaka Kelana.


"Kau sudah bosan hidup ya, berani mencampuri urusan Tiga Setan Merah...!" bentak Soma, sambil melompat ke arah Pendekar Srigala Putih, dengan sebuah tendangan terbang, yang tidak berisi tenaga dalam tinggi, ia hanya memakai sedikit tenaga dalamnya.


Dik...!


Jaka Kelana menangkis serangan Soma dengan sebuah tinjuan kearah telapak sepatu Soma.


"Hih...!"


Soma terpaksa melompat kebelakang, dan bersalto dua kali ke belakang, begitu menginjakkan kaki di tanah, ia kembali melompat menyusulkan sebuah serangan bertenaga dalam tinggi ke arah Jaka Kelana.


Jaka Kelana pun tidak tinggal diam, ia pun menyongsong serangan Soma itu, dengan 'Jurus Cakar Srigala Putih'. sehingga.


Desss....!


Telapak tangan Soma beradu dengan cakar Jaka Kelana, ia terjajar ke belakang, dengan tangan bergetar, pertanda tenaga dalamnya kalah dengan tenaga dalam milik Jaka Kelana.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2