
Seorang gadis berpakaian serba biru berjalan sendirian menuju puncak gunung kerinci. Hanya kain yang terlilit di pinggangnya saja berwarna kuning muda.
Gadis itu terlihat berjalan begitu ringan di belakangnya tiga orang berpenampilan seram dengan kepala botak seperti menjadi pengawal sang gadis.
"Adik Merak Sati sebaiknya kita beristirahat sebentar," pinta salah seorang dari tiga orang yang berkepala botak. Laki-laki yang berbicara mempunyai tubuh paling besar di antara tiga orang itu.
"Kak Bongsor, jika kau ingin istirahat silahkan. Aku akan melanjutkan perjalanan sendiri," sahut Merak Sati kalem tanpa menghentikan langkahnya.
Tiga orang botak yang ada di belakang Merak Sati adalah kakak seperguruan Merak Sati dari goa tengkorak. Tiga orang itu di kenal dengan gelar Tiga Iblis Botak.
Seperti yang kita ketahui, Merak Sati adalah seorang pendekar golongan hitam yang pernah di kalahkan oleh Bidadari Pencabut Nyawa.
Merak Sati sendiri pernah memampaatkan nama Bidadari Pencabut Nyawa. Merak Sati mengaku Bidadari Pencabut Nyawa. ( Lebih jelasnya baca Bidadari Pencabut Nyawa palsu- Dendam Merak Sati ).
Tiga Iblis Botak adalah murid tertua Iblis Goa Tengkorak yang merupakan kakak dari ayahnya Merak Sati.
"Ayolah, Adik. Nafas tuaku tidak seperti dirimu. Kau mau kakakmu ini kehabisan nafas," ujar Bongsor sambil menghentikan langkahnya. Bagaimana tidak pendakian ke puncak gunung kerinci harus menempuh jalan mendaki yang cukup terjal.
Dua orang lainnya hanya menggeleng kepala melihat tingkah si Bongsor yang merupakan kakak tertua mereka. Mereka bisa saja menggunakan ilmu peringan tubuh dalam mendaki, tapi mereka harus menghemat tenaga.
"Huh...! Makanya Kak, jangan kebanyakan makan tadi!" gerutu Merak Sati sambil duduk di tempat yang agak datar.
"Pertemuan masih dua hari dari sekarang. Tapi kau seperti sudah ketinggalan acara saja , Adik," kata Bongsor merenggut.
"Ya sudah, tapi kakak harus membantuku mencari dan mengalahkan si Wulan Ayu itu!" ujar Merak Sati.
__ADS_1
"Jika tidak untuk membantumu, kenapa kami bertiga harus jauh-jauh datang ke pertemuan para pendekar ini, Adik. Kami akan membantumu mengalahkan Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu," sahut Bongsor.
"Apa dengan ilmu yang di berikan guru kau tidak mampu mengalahkan Bidadari Pencabut Nyawa itu, Adik?" Si botak nomor dua yang berbicara.
"Bukankah guru sempat bilang, gadis itu murid dua pendekar pemarah dari barat. Sepasang Pendekar Pemarah itu berilmu tinggi di tambah lagi dengan dua senjata pusaka yang mereka miliki," kata Barja menyela.
"Hmm....! Kak Barja tampaknya cukup memperhatikan musuh yang akan di hadapi adik Merak Sati,"kata Brata sambil mengelus-elus kepala botaknya yang terasa sejuk tertiup angin.
"Guru kita saja pernah di kalahkan oleh Malaikat Pemarah saat masih muda dulu. Guru juga berpesan jangan anggap remeh ilmu yang di miliki oleh Bidadari Pencabut Nyawa itu," timpal Bongsor sambil berkipas dengan sebuah kipas yang di buat dari anyaman bambu.
"Aku harus membalas dendam keluargaku, dan dendam kekalahanku setahun yang lalu!" ujar Merak Sati berapi-api. Sementara ketiga kakak seperguruan Merak Sati tampak sangat mendukung keinginan adik seperguruan mereka itu.
____oo00oo____
Sementara itu Tiga Elang yang sudah lebih dahulu mencapai puncak gunung kerinci bersama Tiga Pendekar Tongkat Naga telah bergabung dengan beberapa perguruan golongan putih yang menantang keinginan orang-orang Partai Teratai Hitam.
"Aruni, kakak tidak melihat Anggala dan Anggala. Apa mereka belum sampai?" tanya Aruma Sakta pada Aruni.
"Entahlah, Kak. Beberapa hari yang lalu kak Jaka menghubungiku lewat telepati. Kak Jaka mengatakan jika mereka sudah berada di Desa Bukit Kayangan," sahut Aruni.
"Apa mereka dapat masalah, Adik?"
"Aku tidak tahu, Kak. Tapi saat ini para pendekar golongan hitam tentu tidak mau membuat masalah, apalagi anggota Partai Teratai Hitam," sahut Aruni lagi.
_________@@@@@@___________
__ADS_1
Sementara itu Tiga Pendekar Tongkat Naga Emas yaitu Kamandaka, Raka Adiwangsa dan Aryaguna terlihat juga sudah berada di puncak dengan Tiga Elang yang merupakan kekasih mereka.
"Kemana Kak Anggala dan Wulan Ayu. Aku belum mendapat kabar tentang mereka?!" kata Dewi Pingai seakan bertanya pada dirinya sendiri.
"Kak Anggala dan Wulan Ayu bukanlah pendekar biasa, tak usah terlalu mencemaskan mereka berdua, Pingai," sahut Dewi Arau menenangkan kegelisahan sang adik.
"Ya, Kak Pingai. Aku hanya khawatir tentang ramalan kakek Peramal Pikun itu saja," timpal Dewi Aurora.
"Kita sama-sama berdo'a semoga tidak terjadi apapun pada kak Anggala pada pertarungan nanti," kata Dewi Arau lagi.
"Maaf, Nisanak. Aku mendengar kalian membicarakan kak Anggala dan Wulan Ayu, Apa kalian melihat kedua pendekar itu?" tanya Aruni yang mendatangi Tiga Elang.
"Tidak, Pendekar. Kami belum melihat sahabat berdua itu sejak kemarin kami sampai di puncak," sahut Dewi Arau sambil tersenyum.
"Jika aku boleh tau siapa gerangan nisanak bertiga? Perkenalkan aku Aruni dari Perguruan Bambu Kuning," kata Aruni memperkenalkan diri.
"Rupanya kami sedang berhadapan dengan Pendekar Kelelawar Putih. Perkenalkan aku Dewi Arau dan ini kedua adikku Dewi Pingai dan Dewi Aurora," kata Dewi Arau memperkenalkan diri dan kedua adiknya.
"Jadi kalian bertiga adalah Tiga Elang dari daerah Gunung Punggur?" tanya Aruni sambil tersenyum ramah.
"Begitulah orang-orang memanggil kami, Aruni," sahut Dewi Arau sambil tersenyum ramah.
Mereka tampak saling berbincang-bincang, Sementara puncak gunung kerinci semakin di penuhi oleh para pendekar dari kedua golongan yang terus berdatangan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....