
Trang! Trang!
Ayunan tongkat Iblis Perak yang mencerca kepala Bidadari Pencabut Nyawa di tangkis dengan begitu cepat. Malah dengan begitu cepat ia menyabetkan pedangnya kearah tangan Iblis Perak tersebut. Iblis Perak terpaksa menarik salah satu tangannya jika tidak tangannya akan terhambat putus.
Dung!
Dada Iblis Perak yang memakai tongkat terhantam tendangan kaki kanan Bidadari Pencabut Nyawa yang tidak ia duga, tapi tubuhnya yang kebal pukulan membuat Iblis Perak hanya terjajar mundur sekitar lima langkah kebelakang.
"Hup!" Bidadari Pencabut Nyawa cepat berkelit cepat menghindari sabetan golok Iblis Perak yang mencoba membokongnya. Bidadari Pencabut Nyawa melentingkan tubuhnya ke udara, dengan begitu cepat bagaikan kilat Bidadari Pencabut Nyawa meluncur turun dan memberikan serangan balasan dengan sabetan pedangnya yang begitu cepat.
"Heh!" Iblis Perak tersebut terkejut mendapat serangan balasan yang begitu cepat. Iblis Perak itu terpaksa menarik tubuhnya kebelakang. Tapi sudah terlambat.
Crasss!
"Aaakh....!"
Iblis Perak mengeluh tertahan sambil melompat mundur, perut bagian kirinya terkoyak lebar tampak mengucur darah. Iblis Perak itu tampang limbung, tidak lama kemudian jatuh ke tanah dengan keadaan berlutut.
"Bilar....!" teriak temannya melihat keadaan Bilar memprihatinkan, namun Iblis itu terpaksa menangkis cepat karena serangan pedang Bidadari Pencabut Nyawa mengarah padanya.
Trang!
Iblis Perak terpaksa menarik tubuhnya. Jika tidak ingin tububnya tersambar ujung pedang elang perak dibtangan Bidadari Pencabut Nyawa itu. Niatnya membantu temannya terpaksa di urungkan, ia segera melompat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa dengan melempar sebuah batu putih.
Desss!
Asap tebal mengepul di depan Wulan Ayu. Namun Iblis Perak tidak menyadari kalau Pendekar Naga Sakti masih ada di belakangnya. Baru saja Iblis Perak mencoba membawa temannya kabur, Pendekar Naga Sakti sudah berada di depannya, menghadang.
__ADS_1
"Kau boleh meninggalkan tempat ini, Kisanak, tapi dengan syarat tinggalkan nyawamu disini," ujar Pendekar Naga Sakti begitu dingin. Mendengar perkataan Pendekar Naga Sakti tersebut Iblis Perak itu melepaskan temannya perlahan. Kemudian ia melompat menyerang ke arah Pendekar Naga Sakti dengan pukulan tenaga dalam.
"Heaaa....!" pukulan Iblis Perak itu terasa menimbulkan hawa panas yang cukup menyengat kulit. Nyi Pelangi melompat menjauh begitu merasakan hawa panas itu.
"Hup!" Pendekar Naga Sakti dengan begitu cepat menyentakkan tangannya ke depan. Cahaya putih membentuk kepala naga melesat ke depan.
"Blaaamm!
"Aaaa......!" Iblis Perak yang mengadu pukulan tenaga dalam dengan Pendekar Naga Sakti harus terpental sekitar lima tombak ke belakang, beberapa saat Iblis Perak itu masih berusaha berdiri. Namun tidak lama kemudian ia kembali jatuh ke tanah. Iblis Perak itu memuntahkan darah berwarna hitam, tidak lama kemudian ia pun tewas dengan jatuh tertelungkup.
Sret!
Iblis Perak yang terluka itu berusaha melintangkan pedangnya di depan dada. Matanya tampak nanar memandang ke arah Pendekar Naga Sakti. Niatnya untuk melarikan diri tampak di urungkan.
"Kau masih ingin membunuh orang yang sudah tidak berdaya, Pendekar," kata Iblis Perak itu terdengar agak lemah. Bidadari Pencabut Nyawa melesat kesamping Pendekar Naga Sakti dan begitu juga Nyi Pelangi. Wanita cantik setengah baya itu menatap tajam ke arah Iblis Perak tersebut.
"Kami mungkin bisa melepaskanmu, tapi coba kau lihat ke sekelilingmu. Coba tanyakan pada para penduduk yang selama ini kalian ganggu ketenangannya?" jawab Pendekar Naga Sakti. Tampak beberapa orang penduduk telah berani keluar dari rumah mereka. Tatapan mata mereka begitu tajam penuh kebencian tertuju pada Iblis Perak itu.
"Jangan!" tiba-tiba nyi Pelangi membuka suara, "Golok di tangannya beracun, biar aku yang menghabisi Iblis itu," tambahnya lagi.
Wuss!
Sebuah sinar putih melesat keluar dari tangan Nyi Pelangi. Cahaya itu tepat menghantam dada Iblis Perak tersebut.
"Aaakhh...!" Iblis Perak itu terlempar sekitar tiga tombak ke belakang. Beberapa saat Iblis Perak itu menggeliat di tanah lalu diam tidak berkutik lagi. Iblis Perak itu tewas dengan bagian dada hitam terbakar.
"Hebaaat!" teriak para penduduk berbarengan. Tanpa diminta para penduduk itu mengangkuti mayat enam Iblis Perak ke pinggir hutan dan menguburkannya di sana. Pendekar Naga Sakti pun terlibat dalam pekerjaan itu. Kakek Wiratama dan para pendekar yang ada di kampung itu menyiapkan jamuan untuk orang-orang yang mengubur mayat enam Iblis Perak yang tewas.
__ADS_1
"Ayo, Nak Pendekar. Makan dulu, kami telah menyiapkan makanan untuk kalian," kata kakek Wiratama sambil duduk di samping Anggala di bawah sebatang pohon.
"Baik, Kek, saya masih kepanasan, he he..!" tawa Pendekar Naga Sakti. Tidak lama kemudian Wulan Ayu muncul membawakan sepiring nasi yang di penuhi lauk ikan dan daging rusa bakar bikinan para penduduk.
"Ini, Kak, makan dulu. Kakak pasti lapar," tawar Wulan Ayu sambil menyodorkan piring nasi dan secangkir air putih dalam cangkir bambu.
"Terima kasih, Dinda," ucap Anggala sambil menerima piring nasi pemberian Wulan Ayu itu, "Dinda tidak makan?" tanya Anggala.
"Sudah, dinda sudah makan bersama ibu-ibu di dalam rumah, mereka sudah sibuk meminta dinda makan dari tadi," jawab Wulan Ayu, "Kakek tidak makan? Jika mau makan, Wulan ambilkan," tawar Wulan Ayu sambil memandang kearah kakek Wiratama.
"Hehehe...! Tidak, Nak. Kakek sudah makan di rumah tadi," jawab kakek Wiratama sambil tersenyum.
"Ayo, Kek. Kta makan," ajak Anggala.
"Tidak, Nak, kakek masih kenyang," jawab kakek Wiratama sambil tersenyum. Orang tua itu memandang ke arah Wulan Ayu, "Jika nak Ayu tidak keberatan, bikinkan kakek secangkir kopi," pinta kakek Wiratama.
"Tentu saja tidak, Kek. Sebentar ya, Kek, saya bikinkan," jawab Wulan Ayu sopan, ia pun beranjak ke arah dapur umum untuk membuatkan kakek Wiratama secangkir kopi.
Sore mulai menyelimuti Desa Mekar Ramai ini, anak-anak tampak sudah memberanikan diri main di luar rumah. Walau masih ada ketakutan di wajah orang-orang Desa ini. Namun tampaknya mereka bisa merasa tenang setelah melihat tewasnya enam Iblis Perak siang ini.
Namun pembalasan Iblis Perak yang lain. Menjadi momok menakutkan bagi orang-orang Desa Mekar Ramai ini, tampak bapak-bapak baik ibu-ibunya banyak yang memperbincangkan masalah itu, yang mereka takutkan adalah pembalasan kelompok Iblis Perak tanpa memandang bulu.
Malam mulai turun menyelimuti, Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa tampak membuat api unggun kecil di depan rumah kakek Wiratama sambil membakar beberapa ikan dan ayam pemberian orang-orang kampung. Kakek Wiratama sebagai sesepuh desa sangat di hormati walau terkadang kelakuan pendekar tua itu seperti orang gila. Kegigihannya memcari bantuan untuk menghadapi Kelompok Iblis Perak membuat ia begitu di hargai.
Malam pun semakin larut, udara dingin mulai menyelimuti tempat itu. Cahaya api unggun menjadi penghangat bagi orang-orang yang tampak mengelilingi api unggun itu.
.
__ADS_1
.
Bersambung...