
"Eyang Guru, selamat datang di markas Partai Teratai Hitam ini. Suatu kebanggaan bagi cucu, Eyang datang menyambangi," ucap Saga Lintar sambil memberi hormat pada Kelelawar Iblis.
"Ya, sudah. Sebaiknya kita masuk, Eyang Guru," ajak Saga Lintar pada kakek gurunya tersebut. Kelelawar Iblis hanya mengangguk dengan senyum bangga melihat begitu megah dan banyaknya penghuni markas Partai Teratai Hitam itu.
Setelah sampai di dalam bangunan besar itu, Kelelawar Iblis menceritakan semua rencana yang telah Ia buat, rencana yang akan membantu rencana besar sang murid. Mereka
bercerita panjang lebar di tengah markas besar Partai Teratai Hitam itu.
Saga Lintar yang dikenal dengan gelar Setan Merah Pencabut Nyawa sangat senang dengan semua rencana kakek gurunya, namun
saat ini yang terjadi adalah hilangnya Ki Dukun yang diperintahkan oleh Kelelawar Iblis mencari darah tujuh gadis perawan yang lahir pada bulan purnama.
Sebagai seorang dedengkot dunia persilatan yang boleh dibilang tokoh persilatan nomor satu golongan hitam itu tidak kehabisan akal
ia telah memakai tujuh Pendekar Pedang dari negeri seberang yaitu Negeri Muathai.
Pendekar Pedang yang udah belasan tahun malang melintang di dunia persilatan sebagai pembunuh bayaran kelas satu, kini mereka tinggal menunggu kedatangan tujuh Pendekar Pedang dari negeri seberang tersebut.
"Eyang Guru, tidak usah cemas. Aku telah memanggil pembunuh bayaran kelas satu dari negeri seberang yang bergelar Tujuh Pendekar Pedang yang selama ini menjadi pembunuh bayaran di Negeri Muathai. Mereka belum pernah mereka gagal dalam melakukan misi," kata Saga Lintar.
"Darimana Cucuku, kau mendapat emas yang cukup banyak untuk membayar Tujuh Pendekar Pedang dari Muathai itu?" tanya Iblis Kelelawar yang bernama asli Murang Lintang.
"Eyang Guru, tidak usah cemas dari mana cucu mendapatkan uang emas untuk membayar mereka, Partai Teratai Hitam telah cukup lama aku persiapkan untuk semua ini. Namun baru-baru tahun Inilah aku mempersiapkan untuk menjadi tokoh nomor satu dunia persilatan. Kita akan menguasai dunia persilatan Pulau Andalas, jika kita berhasil menjadi pendekar nomor satu di Pulau Andalas.
Maka seluruh kerajaan dari Samudra Pasai sampai Kerajaan Sriwijaya akan tunduk dengan kita, kerajaan-kerajaan besar itu tidak akan berani berbuat banyak karena anggota teratai hitam merupakan para pendekar dan para penyamun dan para perampok kelas tinggi yang telah aku rekrut, Eyang," jelas Saga Lintar.
"Ha ha ha.... Aku memang sudah tua, puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan, namun Pertapa Naga dan Pendekar Naga Sakti merupakan rintangan terbesar untuk menjadi pendekar nomor satu di Pulau Andalas ini, Cucuku. Eyang tidak ingin kehilanganmu, berhati-hatilah," kata Murang Lintang sambil memegang bahu Saga Lintar.
__ADS_1
"Eyang Guru, tidak usah cemas keinginan Eyang itu akan terwujud dalamtiga Purnama mendatang di Puncak Gunung Kerinci, apalagi dengan bantuan Fhatik, Pendekar Naga Hitam.
Aku akan mengalahkan Pendekar Naga Sakti dan para pendekar golongan putih itu, kalau perlu saat pertemuan itu walau mereka
mau tunduk, kita tetap harus menghabisi para pendekar-pendekar besar golongan putih itu," kata Saga Lintar.
"Cucuku, aku terkenal dengan gelar Kelelawar iblis yang terkenal kejam dan keji nya, namun rupanya kau lebih sadis dan tidak berperikemanusiaan. Tapi aku senang.
keinginanku mungkin tidak tercapai menjadi tokoh nomor satu di Pulau Andalas ini, tapi dengan adanya kau menjadi tokoh nomor satu di Pulau Andalas merupakan suatu kebanggaan bagiku."
"Tentu saja, Eyang Guru. Aku dan Pathik akan menjadi pendekar nomor satu di dunia persilatan Pulau Andalas, kita bisa menjadi penguasa yang tidak terkalahkan," kata kata Saga Lintar itu membuat para tokoh-tokoh silat golongan hitam yang telah bergabung dan di rekrut oleh Partai Teratai Hitam bersorak. Dengan datangnya Kelelawar Iblis di markas besar Partai Teratai Hitam adalah penyemangat dan suatu kebanggaan bagi mereka.
Di tengah asyiknya mereka berbagi cerita dan menghayal akan kekuasaan dan keserakahan mereka, dua orang pengawal gerbang datang dengan tergopoh-gopoh, "Maafkan hamba, Tuan Saga Lintar," ucap penjaga gerbang tersebut.
"Tujuh orang pendekar dengan cadar hitam datang di depan gerbang dengan menaiki kuda hitam, mereka mengaku sebagai orang dari negeri seberang yang Tuan undang," tambah pengawal itu lagi.
"Baik, Tuanku," ucap pengawal itu sembari memberi hormat dan langsung berlari menuju gerbang.
Tidak lama kemudian tujuh orang dengan
sepasang pedang tampak tersampir rapi
belakang punggung mereka, memang pedang yang mereka pakai tidak seindah pedang-pedang para pendekar yang ada di pulau Andalas. Namun sorot tatapan mata mereka yang begitu tajam bak mata singa.
Aura tenaga dalam mereka begitu tajam dan panas membuat orang-orang yang menatap mereka bergidik ngeri. Mereka adalah tujuh pendekar pedang dari Negeri Muathai yang dikenal dengan Tujuh Pedang Pembunuh.
"Selamat datang saudara-saudaraku, Selamat datang di Pulau Andalas dan selamat datang di markas kami," sambut Saga Lintar sambil berdiri menyambut kedatangan tujuh pendekar pedang itu.
__ADS_1
"Saga Lintar, rupanya kau sudah membangun partai yang cukup besar. Kami datang atas permintaanmu, surat yang kau kirimkan telah kami terima. Namun untuk menuju tempat ini bukanlah waktu yang sebentar kami harus mengarungi lautan untuk sampai kemari," kata salah seorang dari tujuh pendekar pedang itu.
"Tidak apa-apa Sahabat. Kedatangan kalian kesini adalah suatu kehormatan bagi ku."
"Jika kami tidak mengenal dan tidak pernah berjumpa denganmu. Kami tidak akan mau datang jauh-jauh ke negeri ini, aku ingin tahu dimana pendekar yang kau ceritakan di dalam surat yang kau kirimkan kepada kami?" tanya
salah seorang dari tujuh pendekar pedang itu.
Tampaknya laki-laki itu adalah pimpinan dari Tujuh Pedang Pembunuh.
"Bukankah kalian dulu memiliki satu pedang, maka gelar kalian adalah Tujuh Pendekar Pedang, tapi saat ini aku melihat kalian malah mempunyai Sepasang Pedang. Apakah gelar kalian tidak berubah, Sahabat?"tanya Saga Lintar.
"Saga, Apa kau tidak mempersilakan para tamumu ini duduk?" sela Murang Lintang.
"Maafkan aku, para sahabat. Aku sampai lupa mengajak kalian dudk, ayo duduk di samping kami. Ini adalah kursi-kursi kebesaran para petinggi Partai Teratai Hitam," ajak Saga Lintar.
"Mendengar perkataanmu itu, apakah kami, kau anggap menjadi anggota Partai, Sahabat?"
"Dengan senang hati, Sahabat. Jika kalian mampu menghabisi Pendekar Naga Sakti sebelum pertemuan tiga purnama dimuka, di Puncak Kerinci nanti. Maka kalian akan menjadi petinggi Partai Teratai Hitam ini," jawab Saga Lintar sambil tertawa.
"Kami tidak hanya ingin menjadi petinggi partai mu ini, Sahabat. Aku menanyakan dimana janjimu seribu keping emas yang kau janjikan itu?"
"Ha ha ha....! Sahabat, kau tidak usah cemas dengan janjiku itu, untuk uang muka aku telah menyiapkan lima ratus keping emas untuk kalian. Pengawal, cepat ambil uang di kamar penyimpanan sebanyak lima ratus keping dan berikan pada tamu kita ini," perintah Saga Lintar pada salah seorang pengawal anggota Partai teratai hitam.
"Baik, Tuanku," jawab pengawal itu sembari masuk ke dalam kamar yang merupakan tempat penyimpanan harta dan upeti yang didapat oleh Saga Lintar dari Penyamun dan para perampok dan hasil kerjanya sebagai pembunuh bayaran dalam beberapa tahun belakangan ini.
.
__ADS_1
Bersambung.....