Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Bantuan Para Sahabat


__ADS_3

Pendekar Naga Sakti yang dikepung oleh empat orang dari tujuh anggota Tujuh Pedang Pembunuh Itu tampak telah bersiap siaga dengan jurus 'Pedang Sembilan Naga'. nya Anggala mengantisipasi serangan ke-empat musuhnya.


Walaupun mungkin agak memaksa tenaga dalam yang ia miliki, Anggala lansung merapal ilmu 'Tirai malaikat'. dan ilmu 'Baju Besi Emas'. tingkat delapan belas sekaligus, memakai tiga ilmu kesaktian sekaligus tentu cukup akan menguras tenaga dalam Pendekar Naga Sakti.


Namun untuk menghadapi orang-orang yang mempunyai kesaktian yang tersembunyi dan main keroyokan, saja pemuda itu mau tidak mau melakukannya.


Di saat-saat yang genting ketika keempat orang itu bergerak menyerang ke arah Anggala. Tiba-tiba tampak empat buah bayangan berkelebat sangat cepat bagaikan kilat dan mengelilingi Pendekar Naga Sakti.


"Apa kau tidak mengajak kami menghadapi para cecunguk ini, Pendekar Naga Sakti?" jelas sekali suara itu sangat dikenal oleh Anggala suara itu adalah suara Jaka Kelana si Pendekar Srigala Putih.


Di samping Jaka Kelana berdiri Singo Abang dan Singo Jayo, sedangkan Singo Sarai yang tadi melompat dari kudanya telah berada di samping Wulan Ayu.


"Tampaknya kita belum sempat untuk saling berkenalan, Sahabat. Tampaknya musuh-musuh yang kau hadapi ini cukup mempunyai kesaktian tinggi. Apalagi aku lihat kau sudah menghunus pedang pusakamu," sapa Singo Sarai sambil tersenyum menoleh ke arah Wulan Ayu.


"Terima kasih, Sahabat. 6mereka bukanlah pendekar dari negeri kita ini. mereka adalah pendek pembunuh bayaran dari negeri seberang sana," sahut Wulan Ayu sambil berusaha membalas senyum Singo Sarai.


Melihat Wulan Ayu yang menghunus pedang elang perak, Singo Sarai pun berinisiatif langsung menghunus keris yang terselip di balik pinggangnya.


Sret!


Keris itu langsung memancarkan pamor cahaya hijau bak cahaya lumut ,namun menyilaukan mata membuat Kla yang berhadapan dengannya mengangkat tangan menutupi mata karena merasa silau oleh cahaya keris yang berada di tangan kanan Singo Sarai.


"Hati-hati, Sahabat. Tampaknya mereka mempunyai kesaktian yang sulit ditebak dan tubuh mereka memiliki kekebalan yang tidak dapat ditembus oleh ilmu kesaktian kita," kata Wulan Ayu mengingatkan.


"Ya, aku juga sudah berusaha melihat kekuatan mereka, namun titik kekuatan mereka tampaknya ditutupi dengan ilmu yang mirip dengan ilmu 'Penutup Batin'.," sahut Singo Sarai.

__ADS_1


"Kami tidak menyangka jika pertemuan kita akan sangat tragis, Sahabat. Pertemuan kita adalah bertarung dengan musuh-musuh yang cukup membuatmu tampak kerepotan," sapa Singo Abang pada Anggala.


"Terima kasih, Sahabat. Memang mereka cukup merepotkan, aku sudah mencoba menghajar mereka dengan ilmu 'Tinju Halilintar' ku, tapi tubuh mereka tampaknya hanya mengalami hitam dan sedikit luka dalam.


Biasanya musuh-musuh ku akan langsung tewas jika terkena pukulan 'Tinju Halilintar'. yang diberikan oleh kakek guru ku Pertapa Naga," sahut Anggala tanpa menoleh, pemuda dengan pakaian abu-abu putih itu tetap pokus pada musuh yang ada di depannya.


"Ya, tampaknya kita harus mengerahkan kesaktian yang kita miliki menghadapi orang-orang dari negeri seberang ini," kata Singo Abang lagi.


"Siapa kalian? Kami tidak punya urusan dengan kalian. Nyawa dan kepala kalian tidak ada harganya?" bentak Kamon merasa kesal melihat tiga orang pendekar yang tiba-tiba menjadi penghalang mereka untuk menghabisi Pendekar Naga Sakti.


"Maaf, Sahabat. Tampaknya kepalamu sudah dihargai oleh musuh-musuhmu ini dengan keping emas .Jika boleh aku tahu berapa keping emas yang mereka harga'kan terhadap kepala sahabat?" Singo Jayo sambil menoleh kearah Anggala.


"Kepalaku telah dihargai oleh Setan Merah Pencabut Nyawa dan Pendekar Naga Hitam


dengan harga seribu keping emas, Sahabat," jawab Anggala.


Sring!


Jaka Kelana pun langsung menghunus pedang serigala putih dari balik punggungnya, cahaya putih menyilaukan mata tampak menjadi pamor tersendiri bagi pedang serigala putih yang berada diantara senjata-senjata sakti para pendekar golongan putih Pulau Andalas itu.


"Apa kalian tuli? Jika kalian tidak menyingkir jangan salahkan kami jika kalian mati sia-sia disini!" geram Khemkhaeng sambil mengacungkan pedang di tangan kanannya ke arah Jaka Kelana.


"Kau tahu, Kisanak. Yang sedang kau keroyok adalah sahabatku, jadi sebagai sahabatnya aku tidak akan membiarkan kalian menyakitinya apalagi mengeroyoknya secara tidak Ksatria.


Kalian memang orang-orang pembunuh bayaran tidak pernah melihat dan memakai tata krama dunia persilatan, yang penting kalian bisa mencapai keinginan kalian dan mendapatkan hasil. Kalian menghalalkan segala cara, walaupun cara itu sangat tercela di dalam dunia persilatan!" balas Jaka Kelana sengit.

__ADS_1


"Kurang ajar! Siapa kau, kau berani menasehatiku!" bentak Khemkhaeng gusar.


"Jaka, biarlah pimpinannya itu aku yang akan menghadapi," kata Anggala seraya bergerak maju dan berhadapan langsung dengan Khemkhaeng pimpinan dari Tujuh Pedang Pembunuh dari Negeri Muathai tersebut.


"Bagus. Kau yang memilih mati di tanganku. Aku akan mempersembahkan pedang dan kepalamu kepada Saga Lintar," kata Khemkhaeng tampak tersenyum.


"Ya, lakukan saja jika kau mampu melakukannya, Kisanak. Yang jelas aku akan membela diri dan tidak akan membiarkan kau membawa pedang dan kepalaku kepada Saga Lintar," sahut Anggala sengit.


Sementara itu Kamon yang sudah dari tadi. mempersiapkan ilmu 'Pedang Iblis Pembunuh'. kini tampak berhadapan dengan murid Datuk Panglima hijau dari Bukit Tambun Tulang yaitu Singo Abang.


Singo abang pun yang sudah menghunus keris dari balik pinggangnya, cahaya kuning kemerahan bagai api tampak keluar dari keris di tangan Singo Abang itu Keris yang panjangnya lebih kurang sekitar dua jengkal orang dewasa.


"Kau akan mengantarkan nyawamu disini, Kisanak!" geram Kamon sambil menatap tajam ke arah Singo Abang.


"Soal nyawa dan soal kematian Itu yang di atas yang menentukan, Kisanak," jawab Singo Abang sengit dengan tatapan mata begitu tajam ke arah Kamon.


Kamon mencoba mengerahkan tenaga dalam dan mengadu pandang dengan Singo Abang, namun rupanya tenaga dalam yang dimiliki Singo Abang berada di atas tenaga dalam yang dimiliki kamon, sehingga laki-laki dari Negeri Muathai Itu tampak mengerjapkan matanya dan kedua matanya sedikit mengeluarkan air dan sedikit darah menetes dari sudut matanya.


Singo Abang sudah mengerahkan ilmu 'Tatapan Malaikat Kematian'. yang diberikan oleh sang guru sehingga saat ini, Kamon mengalami pandangan yang agak berkunang-kunang sehingga pandangannya tidak begitu jelas memandang ke arah Singo Abang.


Kamon dengan cepat mengerahkan ilmu kesaktian menyembuhkan tubuhnya, ia cepat mengerahkan hawa murni ke arah kedua matanya, sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama Kamon kembali berhasil melihat ke arah singa Abang dengan jelas.


"Ku akui kau memang cukup hebat, Kisanak. Kau mampu mengobati dampak ilmu 'Tatapan Malaikat kematian'.ku," kata Singo Abang Dengan begitu tenang.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2