
"Sebaiknya kau urungkan niatmu ikut ke pertemuan itu, Anggala," tiba-tiba sebuah suara dari belakang.
"Maaf, siapa gerangan kakek ini?" tanya Anggala pada orang tua yang duduk di atas batu dengan pakaian bagaikan seorang pengemis.
"He he he....! Murid Lesamna tidak mengenalku.... Perkenalkan orang-orang memanggilku Peramal Pikun," ujar kakek itu sambil tertawa terkekeh memperlihatkan barisan giginya yang putih.
"Maafkan saya yang kurang pengetahuan ini, Kek. Saya tidak mengenal siapa kakek," ucap Anggala menunduk memberi hormat.
"He he he....! Anggala, kakek kesini hendak mencegah kepergianmu ke puncak gunung kerinci. Itupun jika kau tidak keberatan," kata kakek Peramal Pikun.
"Maafkan saya, Kek. Tapi jika saya tidak memenuhi undangan pada pertemuan di puncak kerinci, maka saya akan di anggap sebagai pendekar yang pengecut," sahut Anggala sopan.
"Aku tau Anggala, tapi kau harus berhati-hati.... Karena kali ini Kelelawar Iblis ikut campur, apalagi dengan bekerjasamannya Pendekar Naga Hitam dan Setan Merah Pencabut Nyawa. Dua tokoh hitam itu adalah pendekar golongan hitam yang sulit di kalahkan saat ini, apalagi mereka memiliki sepasang pedang jagat yaitu pedang bumi dan pedang langit," kata peramal Pikun.
"Di tambah lagi, Saga Lintar itu terkenal liciknya di tambah dengan kelicikan Fhatik paman gurumu itu, Nak Anggala."
"Jadi, apa saran kakek untuk saya?" tanya Anggala. Sementara Wulan Ayu tampak diam tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan dua orang tersebut.
"Nasib bisa di ubah, Anak Muda. Tapi takdir tetaplah akan terjadi... Kakek tidak bisa memaksa kau untuk tidak pergi ke pertemuan para pendekar itu. Kakek hanya minta kau berhati-hati, itu saja," begitu menyelesaikan ucapannya Peramal Pikun tiba-tiba raib dari tempat itu bagai di telan bumi.
"Kemana kakek Peramal itu, Kak?" tanya Wulan Ayu.
"Ya, Anggala. Kemana perginya kakek sakti itu?" Singo Abang menimpali.
"Setelah menasehatiku, dia tiba-tiba menghilang, Sahabat," sahut Anggala kalem.
"Anggala, apa sebaiknya kau memang tidak ikut ke puncak kerinci," kata Singo Abang masih berusaha mencegah Anggala ikut ke puncak gunung kerinci.
__ADS_1
"Aku harus tetap pergi Sahabat. Tugas yang di berikan kakek guruku untuk merebut kitab Naga Hitam di tangan paman Fhatik belum terlaksana, biarlah takdir yang menentukan. Aku memang harus berhati-hati terhadap dua tokoh hitam itu," sahut Anggala tenang.
Singo Abang dan kedua adiknya hanya menggeleng kepala melihat keteguhan hati Pendekar Naga Sakti. Mereka bertekat akan membantu Anggala dengan semampu mereka. Walau ada keraguan bahwa ramalan kakek Peramal Pikun itu akan menjadi kenyataan.
______#########______
Siang itu di puncak gunung kerinci terlihat bagai sebuah acara bazar, atau sebuah pasar. Ratusan orang terlihat berkumpul, kebanyakan orang-orang itu adalah para perampok dan penyamun yang telah tunduk dan menjadi anggota partai Teratai Hitam.
Beberapa orang perguruan golongan hitam yang telah menjadi bagian dari Partai Teratai Hitam. Namun sampai saat ini Fhatik dan Saga Lintar belum terlihat batang hidungnya.
"Apa ada yang melihat Saga Lintar?" tanya Datuk Wangsaka pada salah seorang laki-laki yang berpakaian serba kuning, dia adalah Gagak Kuning.
"Aku belum melihat ketua kami semenjak datang kesini, Kisanak. Ada apa gerangan kisanak mencari ketua kami?" tanya Kerta Sura.
"Aku Wangsaka bergelar Sepasang Iblis Gunung Tujuh," Datuk Wangsaka memperkenalkan diri.
"O, rupanya aku sedang berhadapan dengan salah seorang penguasa Gunung Tujuh, perkenalkan aku Gagak Kuning. Namaku Kerta Sura." Gagak Kuning memperkenalkan diri.
"Siapa gerangan yang mencaruku?" tiba-tiba sebuah bayangan merah melesat dan langsung berdiri di samping Gagak Kuning.
"Salam ketua!" ucap Kerta Sura menjura memberi hormat.
"Aku yang mencarimu Ketua," sahut Wangsaka.
"Bukankah aku sedang berhadapan dengan salah satu dari Sepasang Iblis Gunung Tujuh?" tanya Saga Lintar.
"Kau tidak salah Setan Merah Pencabut Nyawa," kata Datuk Wangsaka di iringi tawa terkekeh.
__ADS_1
"Ada apa gerangan Datuk mencari yang muda?" tanya Saga Lintar.
"Aku butuh bantuan ketua," jawab Datuk Wangsaka.
"Bantuan apa yang Datuk butuhkan?"
"Kakakku terluka akibat bertarung dengan Pendekar Naga Sakti. Kami ingin bergabung dengan Partai Teratai Hitam dan meminta bantuan pada ketua untuk mengobati luka dalam kakakku Wangsala," jawab Datuk Wangsaka mengutarakan maksudnya.
"Baiklah, Datuk. Pertemuan memang tinggal dua hari lagi dengan ini, berarti aku masih punya waktu memenuhi permintaanmu menolong Datuk Wangsala," sahut Saga Lintar.
"Terima kasih, Ketua," ucap Datuk Wangsaka.
"Tidak usah sungkan, Datuk. Sebenarnya aku yang harus meminta izin dan meminta bantuanmu, karena aku dan orang-orangku memasuki wilayah kekuasaanmu," ucap Saga Lintar lagi.
"O, iya Datuk. Bukankah Datuk bekerja sama dengan seorang tuan tanah yang bernama Surya Karta?"
"Itulah masalahnya ketua, kami bertarung dengan Pendekar Naga Sakti karena membela Surya Karta. Namun kami mengalami kekalahan ketua," jelas Datuk Wangsaka.
Tidak lama kemudian Fhatik pun datang ke puncak gunung kerinci menyusul Saga Lintar.
"Sahabatku, aku harus ke tempat Sepasang Iblis Gunung Tujuh," kata Saga Lintar pada Fhatik.
"Baiklah, Lintar. Aku akan berada disini bersama yang lain," sahut Pendekar Naga Hitam.
"Ayo, Datuk!" ajak Saga Lintar pada Datuk Wangsaka. Datuk Wangsaka hanya mengangguk sebelum melesat menyusul Saga Lintar yang terlebih dahulu melesat meninggalkan puncak gunung kerinci menuju goa kediaman Sepasang Iblis Gunung Tujuh.
.
__ADS_1
.
Bersambung...