
"Rupanya dugaanku benar, kau dalang di balik pembantaian manusia srigala di Desa ini, Ki Dukun!" ujar Ki Tarjo, namun Kepala Desa Batu Ampar itu tidak berani berbuat banyak, karena ia tau kemampuan dan kesaktian manusia yang ada di hadapannya.
"Kalian akan mati semua hari ini!" terdengar bergetar dan serak suara Ki Dukun sambil meletakkan tubuh manusia srigala yang telah kembali ke wujudnya semula.
"Seorang dukun yang biasanya menjadi penolong orang-orang, ternyata adalah seorang yang tidak punya perasaan!" kata Wulan Ayu dengan begitu tenang, walau Bidadari Pencabut Nyawa melihat wajah dan mata Ki Dukun sudah memerah menahan amarah.
"Kau yang pertama harus mati, gadis tengik!" ujar Ki Dukun sambil menunjuk ke arah Wulan Ayu.
"Kematian bukan kau yang menentukan, Ki Dukun!" sahut Wulan Ayu sengit.
Ki Dukun tampak berdiri tegak dan membuka kuda-kuda dan bersiap bertarung, kedua tangannya tampak mengembang membentuk cakar.
"Heaaah.....!!" Ki Dukun melompat dengan begitu cepat ke arah Wulan Ayu sambil mengayunkan tangannya yang membentuk cakar.
"Hup!" Wulan Ayu melentingkan tubuhnya ke arah belakang, dan begitu menjejak tanah ia menyarungkan pedang elang perak ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya.
"Kau akan menyesal tidak menggunakan pedangmu, Nisanak!" kata Ki Dukun sembari melesat melanjutkan serangannya.
"Tidak adil rasanya melawan orang tua dengan senjata pusaka, Ki Dukun!" jawab Wulan Ayu sambil tersenyum tipis menyungging.
"Bangsat! Heeaaahh......!!"
Amarah Ki Dukun tampak sudah tak terbendung lagi, apalagi jawaban Bidadari Pencabut Nyawa tersebut setengah meremehkannya.
Wuss! Wuss!
__ADS_1
Blaaarrr....!!
Tanah tempat Wulan Ayu berdiri tampak menyembur ke udara meninggalkan lobang dua buah sebesar sumur berukuran besar. Para penduduk yang tadi mengepung tampak menjauh takut terkena pukulan nyasar.
"Hi hi....! Tanah itu tidak bersalah, Ki," kata Wulan Ayu tampak berdiri sekitar tiga tombak di samping Ki Dukun. Sementara Anggala tampak berdiri di samping Ki Tarjo memperhatikan pertarungan.
"Anak Muda, ilmu Ki Dukun itu cukup sakti, di daerah ini ia jarang di kalahkan. Dia hanya kalah oleh ulama dari Samudra Pasai," kata Ki Tarjo pada Anggala.
"Tidak usah takut Ki, Wulan Ayu bukan gadis biasa. Dia masih mampu menghadapi Ki Dukun itu," jawab Anggala tenang.
"Baiklah, kalau begitu, Aki hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada temanmu itu," kata Ki Tarjo lagi.
"Ya, saya mengerti, Ki," jawab Anggala sambil tersenyum.
"Siapa sebenarnya gadis ini, gerakannya begitu lincah," desis Ki Dukun dalam hati. Serangannya begitu gencar, namun dapat di hindari dengan gesit oleh Wulan Ayu.
"Hup!" Ki Dukun tampak melompat ke arah belakang menjauh, setelah menjejak tanah orang tua itu tampak meningkatkan tenaga dalamnya.
Cahaya merah kehitaman tampak menyelubungi kedua tangan Ki Dukun. Secara perlahan Ki Dukun mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dan membentuk cakar menghadap ke atas.
Sebuah bola api muncul di atas kedua telapak tangan Ki Dukun. Bola api itu tampak berputar dan mengeluarkan cahaya merah menyala.
"Pukulan Inti Neraka! Hati-hati, Dinda!" seru Anggala memperingatkan Wulan Ayu.
"Baik, Kak!" sahut Wulan Ayu. Bidadari Pencabut Nyawa pun meningkatkan arus tenaga dalamnya ke arah kedua tangannya. Cahaya putih keperakan mulai menyelimuti kedua pergelangan tangan gadis itu.
__ADS_1
"Akan ku hadapi dengan pukulan 'Tapak Dewa'." gumam Wulan Ayu dalam hati. Sang Bidadari Pencabut Nyawa mulai merapal pukulan 'Tapak Dewa'. tingkat lima.
Sebuah bayangan dari cahaya yang mulai membesar membentuk seorang yang duduk bertapa dengan kedua tangan bersusun di depan dada.
"Heaaah....!!" bentakan menggema keluar dari mulut Ki Dukun sembari menyorongkan kedua telapak tangannya ke depan. Bola api berputar di depan tangan Ki Dukun meluncur deras ke arah Wulan Ayu.
"Hiyaaaa.....!!" Wulan Ayu pun tidak tinggal diam, dengan di iringi teriakan nyaring gadis berpakaian serba biru itu menyentakkan telapak tangannya ke depan.
Tangan bayangan yang membentuk orang duduk bersila itu menyorong ke depan menangkis serangan pukulan 'Inti Neraka'. Ki Dukun.
Dess! Dess!
Swoss! Swoss!
Blaaammm...........!!!
Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu, tanah dan pepohonan tampak berguncang hebat bagai di hantam gempa berkekuatan tinggi, gelombang api tampak membentuk gumpalan besar.
Para penduduk tampak lintang-pukang, tidak sedikit dari mereka yang sampai jatuh terduduk akibat guncangan itu. Debu dan tanah berhamburan ke udara menutupi pandangan.
Hewan hutan dan burung-burung terbang menjauh, Wulan Ayu tampak terjajar sekitar lima langkah ke belakang. Namun gadis cantik itu hanya memegangi dada dan tidak mengalami luka dalam.
Lain yang terjadi dengan Ki Dukun, orang tua berpakaian serba hitam itu tampak terpental jauh entah beberapa tombak, tubuhnya jatuh bergulingan hingga menabrak pepohonan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......