Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Bag, 4


__ADS_3

"Lari...!! Ada anak buah Iblis Perak! Cepat masuk kedalam rumah!" seru salah seorang penduduk. Para penduduk yang baru memberanikan diri keluar mendengar kakek Wiratama kembali, berlarian kembali kerumah mereka.


"Ayo! Sandara, kita bersembunyi," ajak nyi Tantri sambil menggendong Sundara menuju dapur. Mereka masuk kedalam ruangan rahasia didalam dapur rumah kakek Wiratama tersebut.


Suara derap kaki kuda itu semakin riuh. Pertanda rombongan anak buah Iblis Perak semakin dekat. Tidak lama puluhan kuda berhenti didepan rumah kakek Wiratama. Seorang yang bertumbuh gempal melompat turun dari kudanya. Wajah orang tersebut penuh dengan brewokan. Jenggot beserta kimianya hampir menutupi mulutnya.


"Hei! Wiratama, keluar Kau..! Mana orang yang membunuh adikku!" teriak si brewok, ternyata ia adalah kakaknya Bergola Ungu.


"Hehehe...! Bergola Hitam, Kau tidak usah berteriak. Aku masih memiliki pendengaran yang baik, apa kerongkonganmu tidak sakit berteriak! Hah!" kakek Wiratama berjalan santai keluar dari rumahnya.


"Bangsat Kau! Tua bangka. Kali ini aku akan membunuhmu!" bentak Bergola Hitam, matanya memerah menatao tajam ke arah kakek Wiratama. Namun orang tua itu tampak begitu cuek, di wajahnya tidak terlihat takut sedikit pun.


"He he he..! Bergola, aku sudah hidup lebih dari enam puluh tahun, jika kau ingin membunuhku silahkan, tapi para tamuku tidak akan membiarkanmu melakukan itu, he he he..!" tawa kakek Wiratama terkekeh. Orang tua itu malah tegak santai sambil memegang tongkatnya yang setinggi pinggangnya.


Wuss..!


Tiba-tiba Anggala dan Wulan Ayu sudah berada disamping kakek Wiratama. Kedua pendekar muda itu hanya berdiri disamping kakek Wiratama, bagai pengawal pribadi orang tua tersebut.


"Jadi mereka yang membunuh adikku, Bergola Ungu?" tanya Bergola Hitam pada anak buahnya.


"Benar, Ketua!" jawab salah seorang yang duduk di atas kuda.


"Habisi mereka! Seratus kepeng emas bagi yang bisa membawa kepalanya, padaku!" perintah Bergola Hitam, sekitar dua puluh orang anak buah Bergola Hitam langsung merangsek mengepung Anggala dan Wulan Ayu dari arah depan.


"Kek, biar kami yang urus mereka. Kakek mundur dulu," ucap Wulan Ayu sambil mengeluarkan kipas elang perak dari balik bajunya biru kesayangannya.


"He he he..! Kau dengar itu Bergola Hitam, tamu cantikku tidak membiarkanku bertarung, apalagi membiarkan Kau membunuhku, he he he...!" tawa kakek Wiratama terkekeh sambil melangkah mundur beberapa langkah ke belakang.


"Bunuh mereka!" teriak Bergola Hitam memberi perintah, seluruh anak buahnya langsung menghunus golok yang ada di pinggang mereka.


Sret! Sret!

__ADS_1


"Heaaa...!" Anak buah Bergola Hitam langsung merangsek menyerang kearah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa. Namun dengan begitu sigap sepasang pendekar muda itu menghindari setiap sabetan dan tebasan golok anak buah Bergola Hitam.


"Hup!" Wulan Ayu dengan begitu gesit menahan serbuan golok yang mencerca ke arah tubuhnya. Dengan kipas elang perak di tangannya, ia menangkis serangan itu.


Trang!


Buak! Buak!


"Aaakhh...!" iga orang anak buah Bergola Hitam melenguh kesakitan. Ketika kaki kanan Wulan Ayu bergerak hampir tidak terlihat menendang kearah perut mereka. Tiga anak buah Bergola Hitam itu langsung tewas seketika dengan darah menyembur dari mulut mereka.


"Heaaa...!" Melihat temannya tewas yang lain semakin garang. Mereka merangsek secara serentak. Namun dengan sigap serangan golok mereka ditahan dengan kipas elang perak.


Trang!


"Hiaaa...! Dengan sekali sentakan sekitar tujuh orang anak buah Bergola Hitam terpental ketanah dengan semua golok mereka terlepas dari genggaman tangannya.


Melihat musuh dengan begitu mudah menahan mereka. Anak buah Bergola Hitam jadi kehilangan nyali. Mereka beringsut mundur.


Dik!


"Heh!" Bergola Hitam terperanjat melihat tendangannya yang mengandung tenaga dalam. Dapat ditahan oleh Bidadari Pencabut Nyawa dengan sikunya. Bergola Hitam terpaksa bersalto dua kali kebelakang dan mendarat ditanah.


Sret!


Bergola Hitam langsung menghimpun tenaga dalam, ia bersiap dengan pukulan tenaga dalam, "Pukulan Tinju Bara Kematian'. Kedua tangan Bergola Hitam tergenggam erat. Sinar merah menyelimuti kedua tinjunya.


"Ayo! Bergola Hitam, keluarkan ilmu simpananmu!" tantang Bidadari Pencabut Nyawa, gadis cantik berbaju biru itu mempersiapkan 'Jurus Bidadari Kayangan'. Cahaya putih menyelubungi kedua telapak tangan tangannya.


"Heaaah...!" Bergola Hitam melompat dengan dua tangan didepan, satu dibawah dan satu dibawah. Bidadari Pencabut Nyawa menyambut denga dua telapak tangan terbuka.


Tap!

__ADS_1


Tangan kiri Bidadari Pencabut Nyawa menahan gerak laju tangan kanan Bergola Hitam. Sedangkan tangan kanannya menahan gerak laju tangan kiri Bergola Hitam.


"Heh..!" Bergola Hitam terkejut melihat pukulannya dapat ditahan dengan begitu mudahnya. Bergola Hitam cepat menarik kedua tangannya dan melangkah mundur dua langkah kebelakang. Baru saja Bergola Hitam hendak melakukan serangan kembali, sebuah tendangan mendarat di perutnya.


Buak!


"Aaakh...!" Bergola Hitam melenguh kesakitan sambil terjajar mundur kebelakang. Bergola Hitam memegangi perutnya yang terkena tendangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


"Bangsat! Sudah cukup lama, tidak ada musuh yang berhasil menendangku seperti ini, ilmu gadis ini rupanya memang tinggi," Bathin Bergola Hitam mendengar kesal.


"Bagaimana kisanak? Mau lagi," ledek Bidadari Pencabut Nyawa dengan sebuah senyum tipis menyungging. Tentu saja ledekan Bidadari Pencabut Nyawa membuat hati Bergola Hitam tambah panas. Bergola Hitam kembali menghimpun kekuatannya dan kembali menyerang.


"Heaaa...! Mati Kau!!" bentak Bergola Hitam dengan nyaring deru suara kepalan tangannya cukup cepat. Bidadari Pencabut Nyawa malah tersenyum, dengan gesitnya ia menghindari setiap serangan Bergola Hitam itu. Sesekali Bidadari Pencabut Nyawa malah memberi serangan balasan.


Buak!


"Aaakhh....!" Bergola Hitam melenguh kesakitan sambil sambil memegang dadanya yang terhantam telapak tangan Bidadari Pencabut Nyawa. Darah menyembur dari mulutnya. Pertanda Bergola Hitam mengalami luka dalam yang cukup parah. Bergola Hitam terhuyung kebelakang dan jatuh berlutut.


"Ketua!!" teriak beberapa orang anak buah Bergola Hitam, melihat pimpinannya memuntahkan darah segar. Tiga orang anak buah Bergola Hitam langsung memberikan pertolongan.


"Ketua, sebaiknya kita pergi dari sini," pinta salah seorang anak buah Bergola Hitam. Bergola Hitam hanya mengangguk mengikuti keinginan anak buahnya. Mengadakan perlawanan pun akan sia. Anak buah Bergola Hitam yang berjumlah dua puluh orang lebih tadi, kini hanya tinggal beberapa orang. Yang mencoba menghentikan Pendekar Naga Sakti pun harus menerima sial mereka.


Kebanyakan anak buah Bergola Hitam tewas terkena pukulan tangan kosong Pendekar Naga Sakti, yang terluka dalam parah. Hanya mampu menggeliat ditanah. Kini Bergola Hitam pun sudah hampir kelenger, jalan satu-satunya bagi mereka adalah mundur.


Baru saja beberapa langkah Bergola Hitam yang dibantu anak buahnya mau meninggalkan tempat tersebut.


"Kalian boleh meninggalkan tempat ini. Tapi dengan syarat, tinggalkan nyawa kalian disini!"


Bergola Hitam dan anak buahnya langsung memalingkan pandangan mereka kearah asal suara tersebut.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2