Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Desa Sungai Ular


__ADS_3

Setelah selesai memperbaiki warung Ki Banaja, para penyamun Setan Merah, meminta maaf atas segala perbuatan mereka.


Mereka pun menginap di penginapan Ki Banaja, kebetulan warung Ki Banaja juga menyiapkan penginapan.


Sedangkan Anggala dan Wulan Ayu, bersama Jaka Kelana dan Aruni, kembali ke rumah aki Kusnadi.


Tidak terasa sudah dua Purnama berlalu, pertemuan para pendekar di Lembah Kematian, semakin dekat.


Para penyamun Setan Merah, di bawah pimpinan Soka, dan kedua adiknya meneruskan perjalanan ke Lembah Kematian.


Untuk membantu Orang orang Perguruan Harimau


Putih, yang di pimpin Ki Sokananta.


Desa Lingkar Sari kini aman dan tentram, orang orang golongan hitam yang lewat di sana tidak ada yang berbuat onar lagi.


Rata rata tokoh silat yang lewat, lebih banyak golongan putih, sedangkan tokoh golongan hitam yang lewat di Desa Lingkar Sari, tidak membuat onar, karna mereka mungkin telah tau, bahwa di Desa Lingkar Sari tinggal tokoh silat golongan putih yang cukup membuat repot tokoh golongan hitam yang berurusan dengan para pendekar muda, yang menginap di rumah Ki Kusnadi.


Sekitar sepuluh hari menjelang peresmian Partai Lembah Kematian, Anggala dan Wulan Ayu beserta dua pendekar muda lain nya, meninggalkan Desa Lingkar Sari, mereka meminta izin dan restu Aki Kusnadi dan istrinya, setelah selesai berpamitan Anggala dan kawan kawannya segera meninggalkan rumah Aki Kusnadi.


Mereka menuju Desa di sebelah Desa Lingkar Sari, yang di tempati oleh Arya Geni dan Sri Kemuning.


Setelah sampai di Desa itu Anggala dan kawannya, bertanya pada para penduduk.


"Permisi Ki! Apa Aki tau dua orang pendekar yang kemarin datang kesini?" tanya Anggala, pada seorang Laki laki setengah baya, yang kebetulan adalah pemilik sebuah warung makan di Desa itu.


"Pendekar Pedang Terbang dan Kekasihnya itu, ya Den?" tanya balik, Laki laki tua itu.


"Iya Ki, apa Aki tau mereka tinggal dimana?"


"Mereka tinggal di rumah Ki Kuwu (Kepala Desa/Kampung), Aden aden ini siapa, ya??"


"Kami teman mereka, Ki!"


"Ayo, Den Aki antar ke rumah Ki Kuwu," kata Laki laki itu.

__ADS_1


"Jangan panggil Aden, Ki! Nama Saya Anggala, ini teman Saya, Wulan, Jaka dan Aruni," kata Anggala, memperkenalkan dirinya, dan ketiga pendekar lainnya.


"Anggala, ya! Nama Aki Teguh, panggil saja, Ki Teguh," jawabnya, memperkenalkan diri.


"Dua teman nak Anggala itu yang menyelamatkan kami, dari para penyamun dan para perampok suruhan Orang orang Partai Lembah Kematian!" cerita Ki Teguh, sambil berjalan.


"Sukurlah Ki, kalau mereka bisa membantu penduduk desa ini.! O, iya, Ki, apa nama desa ini?" tanya Anggala, sambil tersenyum pada Ki Teguh.


"Desa ini, namanya Desa Sungai Ular nak Anggala," jawab Ki Teguh, sambil tersenyum.


"Kenapa di nama Desa Sungai Ular, Ki?"


"Karena dulu, saat orang tua Aki membuka desa di sini, dan menemukan sebuah sungai yang banyak sekali ular nya," tutur Ki Teguh, sambil berjalan.


"O, gitu ya Ki!" ujar Anggala, sambil memandang ke arah Ki Teguh itu.


"Iya nak Anggala, kita sudah sampai nak, rumah besar di depan itu rumah Ki Kuwu," tunjuk Ki Teguh, sambil menunjuk sebuah rumah yang cukup besar, dan yang paling bagus di Desa Sungai Ular ini.


"Terima kasih banyak, Ki!" ucap Anggala, pada Laki laki setengah baya itu.


Anggala dan ketiga pendekar lainnya, langsung menuju rumah Ki Kuwu, yang di tunjukkan Ki Teguh tadi.


Begitu Anggala dan Wulan Ayu sampai ke rumah itu, Anggala langsung mengetuk pintu rumah Ki Kuwu itu.


Tok...! Tok....! Tok.....!


"Assalamu alaikum..! Permisi, ada orang di dalam??" ucap Anggala, sambil menunggu di depan pintu.


Wulan Ayu, Jaka Kelana dan Aruni, tampak diam mereka bertiga bagai pengawal Pendekar Naga Sakti.


"Waalaikumsalam....!"


Terdengar jawaban. Dari dalam rumah besar itu, tidak lama muncul Sri Kemuning, dari arah dapur.


"Eh..! Anggala dan Tuan Putri...!" kata Sri Kemuning , " Ayo masuk dulu, Jaka Arya lagi je ladang bersama Ki Kuwu, Saya bersama istrinya si rumah, dan putrinya,"

__ADS_1


"Shiiit.....! Jangan, panggil Saya Tuan Putri di sini Kak Kemuning, nanti orang kampung heboh, panggil Wulan saja..," bisik Wulan Ayu.


"Baik Tuan Putri, Eh Wulan," jawab Sri Kemuning, sambil menunduk di depan Wulan Ayu.


"Nah gitu dong..!" kata Wulan Ayu, sambil tersenyum.


"Kak Arya, mana Kak Kemuning?" tanya Anggala, pada Sri Kemuning.


"Kak Arya lagi ke ladang bersama Ki Kuwu, Anggala!" jawab Sri Kemuning, singkat.


"Ya sudah, Ayo masuk dulu, istirahat di dalam!" ajak Sri Kemuning.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Kuwu itu, dan duduk di ruang tamu, rumah besar itu.


"Ya sudah Kak, kita tunggu saja, Kak Arya!" ujar Anggala, sambil duduk di sebuah kursi dari rotan di ruang tamu rumah Ki Kuwu itu.


Tidak lama istri Ki Kuwu muncul, mendengar percakapan Sri Kemuning dengan Anggala dan Wulan Ayu, Jaka dan Aruni sebagai pendengar mereka.


"Ada tamu ya? Kok tidak bilang Nak Sri, kan ibu bisa bikin minuman!" kata istrinya Ki Kuwu.


"Iya Nyi, (Sebutan untuk orang tua, nyonya, nenek, dan bibik ) mereka ini teman teman perjalanan Saya dan Kak Arya, mereka singgah di Desa Lingkar Sari," tutur Sri Kemuning, memberi penjelasan.


"Jadi semua teman teman Nak Sri ini, pendekar ya?"


"Iya Nyi, kami semua pendekar!" jawab Wulan Ayu, sambil menunduk hormat.


"Panggil saja Saya Nyi Romlah, istri Kuwu Desa Sungai Ular ini," Nyi Romlah memperkenalkan diri.


"Iya Nyi, kami sudah tau, dari Ki Teguh, dia yang mengantar kami ke sini tadi," tutur Wulan Ayu, memberi penjelasan.


"Ya sudah nak, kalian ngobrol, Saya siapkan makanan di dapur, kalian pasti lapar setelah jalan cukup jauh," ujar Nyi Romlah, sambil berlalu ke dapur.


Bersambung......


( Jangan lupa Favorit, like komen ya, jangan lupa ikuti IG Author Idwan Virca, akan ada info tentang novel novel Author di sana.. Terima Kasih...).

__ADS_1


__ADS_2