Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara di Galuh Permata, Persiapan Usai


__ADS_3

Sementara itu Anggala dan Wulan Ayu pun giat berlatih, mereka berdua berlatih di belakang Istana Galuh Permata, Wulan ayu mempelajari ilmu Baju Besi dari Anggala, Ia meningkatkan latihan dengan para prajurit khusus di bawah pimpinan Senopati Agung Arya Geni.


Para pendekar bantuan Ada yang datang berombongan, ada pula yang perseorangan, Pertapa Naga dan Lesmana yang paling duluan karena mereka datang dengan ilmu teleportasi yang mereka dalami di Lembah Naga.


Sedangkan Anggota perguruan macan putih datang ke esokannya, sedangkan utusan dari perguruan Bambu Kuning masih di jalan, begitu pun utusan dari Bukit Kancah juga masih di jalan.


Sedangkan Malaikat Pemarah dan Bidadari Galak, baru berangkat, mereka di beri tahu Lesmana dengan Ilmu Telepati, Tiga Pendekar bersaudara dari Mandalika pun juga dalam perjalan.


Pagi ini tampak Anggala sedang berlatih dengan Senopati Arya Geni, mereka berlatih di arena latihan para prajurit Galuh permata.


"Hiaaa...!"


Anggala melompat dengan tendangan ke arah Arya Geni, Arya Geni dengan sigap melompat berjumpalitan di udara menghindari serangan Anggala itu.


"Hup!" Anggala menyerang dengan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'.nya, Kebutan tangan Pendekar Naga Sakti itu cukup cepat, sehingga Arya Geni terpaksa bergerak mundur menghindar.


Anggala kembali melompat melancarkan serangan ke arah Arya Geni kali ini Anggala menyerang dengan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. tingkat tiga.


Arya Geni menghadang serangan Anggala dengan jurus 'Tinju Halilintar Penggetar Bumi'. tingkat lima.


"Hup....!"


"Heaaa...!"


Duaarrr.....!


Dua pukulan beradu di udara menimbulkan ledakan yang cukup kuat, Debu dan tanah berhamburan keudara, beberapa waktu tempat itu tampak ditutupi kepulan debu. Ledakan akibat adu tenaga dalam kedua pendekar itu membuat para prajurit khusus kerajaan Galuh Permata berlompatan ke belakang, menjauhi arena latihan itu.

__ADS_1


"Hup....!" Anggala melompat ke belakang, begitu pun Arya Geni mereka sama-sama mengatur napas, setelah adu tenaga dalam tadi.


"Jurus-jurus Anggala memang hebat..! puji Arya Geni sambil berjalan ke arah Anggala yang juga telah selesai mengatur napasnya.


"Biasa saja kak Senopati, ilmu kanuragan Kak Senopati Arya juga sangat tinggi..!" jawab Anggala sambil tersenyum, mereka berjalan ke arah Wulan Ayu dan Sri Kemuning yang lagi asyik mengobrol.


Baru saja mereka hendak menyapa kedua gadis cantik tersebut, tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat bagai kilat ke arah Anggala dan lansung menyerang dengan sebuah tendangan yang begitu cepat kearah Pendekar Naga Sakti itu.


"Heh....!"


"Hiaaa...!" Anggala lansung melompat menghindari tendangan itu dengan berjumpalitan di udara beberapa kali, dengan begitu ringan Pendekar Naga Sakti itu menjejakkan kakinya kembali ketanah.


"Hebat...! Hebat.. serangan secepat itu masih sempat kau hindari cucuku..!"puji bayangan itu, ternyata ia adalah Kakek guru Anggala si Pertapa Naga, tampak Pertapa Naga telah berdiri tidak jauh dari Anggala.


"Kakek guru..! Maafkan Anggala tidak melihat tadi... Kakek Guru begitu cepat..!" ucap Angala tampak terkejut, namun ia lansung menemui dan menyalami Pertapa Naga.


"Hehehe.....! Kau terlalu berlebihan Senopati, Kakek tidak sehebat itu...!" jawab Pertapa Naga merendah, sambil tertawa terkekeh.


"Guru saya bilang sampai saat ini belum ada tokoh golongan hitam, maupun golongan putih yang mampu mengalahkan ilmu kedigjayaan Pertapa Naga...!" puji Arya Geni, melihat Pertapa Naga, Wulan Ayu dan Sri Kemuning juga datang menyalami tokoh nomor satu golongan putih itu.


Mereka tampak berbincang-bincang sambil menuju Istana, para prajurit yang melihat tampak saling berbisik sambil kembali ke asrama ke prajuritan.


Siang itu semua tokoh golongan putih yang telah sampai di istana berkumpul termasuk para pembesar istana, Ratu Galuh Permani juga ada di aula pertemuan bersama sang Putri Wulan Ayu dan


Anggala.


Mereka memutuskan esok pagi, mereka dan pasukan prajurit akan berangkat ke perbatasan.

__ADS_1


Sore itu tampak Anggala dan Wulan Ayu bersama Senopati Arya dan kekasihnya Sri Kemuning lagi duduk santai di taman Istana.


Mereka asyik mengobrol, kadang terdengar tawa mereka karna Anggala terkadang berguyon dengan teman-temannya itu, terkadang mereka tertawa karna Wulan Ayu menggoda Sri Kemuning yang sangat pecemburu terhadap Arya Geni.


Tampak Ratu Galuh Permani bersama Baginda raja Surya Galuh, berjalan ke arah Anggala dan Rombongan itu.


"Assalamu alaikum semua...!" sapa Baginda Raja Surya Galuh telah berada tak jauh dari Anggala dan kawan kawannya.


"Waalaikum salam...!" mereka menjawab bersamaan dan serentak menoleh ke arah suara itu, betapa terkejutnya mereka karna melihat Baginda Raja Surya Galuh tampak sehat dan segar.


"Ayahanda...! Ayahanda sembuh...!" Wulan Ayu lansung berlari menemui Ayahandanya Baginda Surya Galuh, ia lansung memeluk Baginda Surya galuh dan menagis kesenangan.


"Ayahanda, Wulan senang sekali melihat Ayahanda telah sembuh," ucap Wulan Ayu setelah cukup lama menangis di pelukan Ayahandanya itu.


"Ya, anakku Ayahanda berangsur-angsur pulih setelah minum pil obat dari Anggala, tadi ayahanda telah merasa sangat sehat. Jadi ayahanda mencoba bangun, mandi, setelah mandi Ayahanda merasa sangat segar. Ayahanda juga merasa tenaga dalam Ayahanda meningkat, karna tubuh ayahanda jadi terasa lebih ringan...!" kata Baginda Raja Surya Galuh sambil tersenyum, memandang putrinya itu.


"Salam hormat kami Baginda, Ratu..!" ucap Anggala serentak dengan Senopati Arya Geni dan Sri Kemuning sambil menunduk hormat di hadapan Baginda Surya Galuh dan Ratu Galuh Permani.


"Tidak usah terlalu sungkan Anggala, kau adalah bagian keluarga ini, jangan panggil Baginda, mulai hari ini Ayahanda mau Anggala juga memanggil Ayahanda seperti Putri Ayahanda ini..!" titah Baginda Raja Surya Galuh sambil tersenyum.


"Baik! Baginda, eh Ayahanda," jawab Anggala sambil tersenyum. Mereka akhirnya bercerita di pendopo taman Istana sampai menjelang magrib, begitu hari mulai gelap mereka baru kembali ke Istana.


.


Bersambung...


Beberapa episode ini belum begitu banyak adegan silatnua teman-teman, karena Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa lagi berada di istana. Ikuti terus ya kelanjutannya.. Novel ini masih terus di revisi oleh Author, maklum ini adalah novel pertama author, jadi masih harus banyak belajar, susunan kata, dan PUEBI nya... jika bertemu kejanggalan silahkan kritik dan saran. tapi jangan lupa like dan favoritnya ya, kalau bisa vote nya sekalian.. Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2