Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Misteri Istana Kematian. Misteri Berakhir


__ADS_3

Anggala cepat menghampiri tubuh Sarsih itu. Pendekar Naga Sakti membawa tubuh Sarsih ke tempat yang lebih bersih dan membaringkan tubuh Sarsih di sana. Pendekar Naga Sakti itu langsung memberikan beberapa totokan pada tubuh gadis itu, beberapa saat kemudian Sarsih mulai menggerakkan jemarinya.


"Oh...!" Sarsih merintih seraya menggeleng-gelengkan kepala. Gadis itu langsung bergerak bangkit dan duduk begitu tersadar dari pengaruh totokan. Perlahan Sarsih memandang ke arah Anggala dalam-dalam. Kemudian pandangannya beralih pada sosok yang terbaring tidak bernyawa, dan berlumuran darah tidak jauh dari tempatnya.


Di pandanginya Anggala, seakan meminta penjelasan.


"Apa yang terjadi padaku, Kak Anggala?" tanya Sarsih. Sarsih mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, kemudian pandangannya tertumbuk pada bangunan istana yang telah runtuh-rentah terhantam pukulan Pendekar Naga Sakti tadi. Bangunan tua itu telah hancur berantakan hingga berkeping-keping. Menjadi puing-puing tidak bisa di tempati lagi.


"Kau terkena totokan pada jalan darahmu," jelas Anggala.


"Oh, kita harus melepaskan ayah, Kak Anggala. Ayah ada di lembah itu," kata Sarsih.


"Dari mana kau tahu?" tanya Anggala.


"Eyang Wira Cendana yang mengatakan padaku. Dia sempat melepaskan totokan pada bagian kepalaku. Katanya sebentar lagi ayah akan mati. Kemudian mereka akan menguasai Kerajaan Pasemah Agung ini, setelah menggulingkan Baginda Raja Kalingga Jaya Karta. Tapi sebelum itu mereka berencana membunuhmu, agar tidak menjadi penghalang," tutur Sarsih.


"Kau sudah tahu, tapi kenapa pakai tanya segala," dengus Anggala.


"Maksudku, hanya ingin meyakinkan saja, soalnya tadi aku antara sadar dan tidak sadar," sahut Sarsih tidak beralasan.


Anggala bangkit berdiri dan mengulurkan tangan pada Sarsih, gadis itu menyambut sambil tersenyum.


"Jadi kau sudah tahu siapa dalang di balik semua ini?" tanya Anggala lagi. Seraya melangkah meninggalkan tempat itu.


"Raden Sembung Merah," sahut Sarsih sambil mendatari Pendekar Naga Sakti.


"Kau yakin?"


"Sejak semula aku sudah yakin kalau dialah biang keladinya. Hanya saja aku belum punya bukti yang kuat. Ayah sendiri juga sudah tahu kalau Raden Sembung Merah selalu membuat keonaran di Kerajaan Pasemah Agung ini,"


"Kenapa ayahmu pura-pura tidak tahu?" tanya Anggala menyelidik.


"Sengaja, karena ayah tidak ingin menyakiti hati Baginda Raja. Ayah terlalu menghormati dan mencintainya. Apalagi Raden Sembung Merah adalah menantu raja satu-satunya Gusti Baginda Raja Kalingga Jaya Karta. Ayah sudah berkorban banyak. Tapi, tetap saja kehidupan ayah selalu di usik oleh Raden Sembung Merah.


Padahal ayah sudah berjanji tidak akan mencampuri urusannya, dalam menggulingkan tahta Gusti Baginda Raja Kalingga Jaya Karta,"


"Aku mengerti kesetiaan ayahmu, Sarsih," ujar Anggala setengah bergumam.


Ya.... Ayah memang terlalu setia pada Baginda Raja Kalingga Jaya Karta. Tapi semua itu membuatku jengkel, jika ayah mau sudah dari dulu bajingan itu mampus!" agak jengkel terdengar nada suara Sarsih. Anggala hanya terdiam. Memang sulit mencari arti sebuah kesetiaan seseorang seperti kakek Deja Wantara itu. Yang telah berkorban segalanya demi raja yang di hormati dan di cintanya.


*****

__ADS_1


Raden Sembung Merah terkejut ketika tiba-tiba Pendekar Naga Sakti muncul di depannya, ketika ia sedang bercengkrama dengan istrinya.


"Kau terkejut, Sembung Merah...?" terdengar sinis naga suara Sarsih.


"Sarsih...., seharusnya kau sudah mati," desis Raden Sembung Merah.


"Itu perkiraanmu, Sembung Merah. Racun yang kau berikan pada minumanku tidak berarti sama sekali untukku. Kau lupa, Sembung Merah. Eyang Guru telah memberiku ilmu untuk memusnahkan segala jenis racun yang kau pelajari," ketus kata-kata Sarsih tersebut.


"Setan....! Seharusnya ku penggal kepalamu, Sarsih," geram Raden Sembung Merah.


Raden Sembung Merah melirik istrinya putri Nilam Sari yang ada di sampingnya, timbul niat licik di otaknya. Raden Sembung Merah berniat menjadikan putri Nilam Sari sebagai sandera dan sekaligus sebagai tameng. Namun begitu tenaganya bergerak, Pendekar Naga Sakti cepat menjentikkan sebuah kerikil yang dari tadi ia pungut.


"Agkh..!" Raden Sembung Merah terpekik. Dia cepat menarik tangannya kembali.


Tiba-tiba Wulan Ayu melesat begitu cepat dan menyambar putri Nilam Sari dan membawanya menjauh dari Raden Sembung Merah.


"Ada apa ini...?!" sentak putri Nilam Sari tidak mengerti.


Wanita cantik itu buru bangkit berdiri. Tapi belum sempat ia berlari ke arah suaminya, Sarsih sudah mencekal tangannya dengan begitu kuat.


"Nanti akan kujelaskan, Gusti Putri," kata Sarsih.


"Benar, Tuan putri, dia putri kakek Deja Wantara, dia akan menjelaskan persoalannya nanti pada Tuan putri," yang menjawab Bidadari Pencabut Nyawa.


Sementara itu Sarsih menjelaskan persoalannya, Raden Sembung Merah berteriak memanggil pengawal. Namun yang datang bukan prajurit pengawal kerajaan. Melainkan orang-orang berpakaian hitam dengan gambar teratai berwarna merah itu. Bukan hanya Anggala, Wulan Ayu dan Sarsih yang terkejut, tapi putri Nilam Sari juga terkejut melihat kemunculan orang-orang berpakaian hitam itu.


"Serang mereka...!" perintah Raden Sembung Merah lantang.


"Kanda...!" sentak putri Nilam Sari terkejut perintah suaminya barusan.


"Kau juga harus mati, Nilam Sari! Ha ha ha...!"


Tidak kurang dari seratus orang, orang berpakaian serba hitam itu berlompatan menyerang Anggala, Wulan Ayu dan Sarsih begitu pun ke arah putri Nilam Sari. Sarsih dan Wulan Ayu melindungi putri Nilam Sari dari dua arah yaitu dari depan dan belakang.


Putri Nilam Sari yang tidak tahu ilmu silat tampak terbelalak melihat Wulan Ayu dan Sarsih begitu tangkas dan gesit melindunginya dari orang-orang berpakaian serba hitam itu.


Sementara Anggala harus menghadapi keroyokan dengan jumlah besar, dan rata-rata pengeroyok Anggala mempunyai gelang di atas dua dan tiga.


"Hiyaaa...!"


Pendekar Naga Sakti melompat menjauh untuk bernapas sejenak. Setelah itu pemuda itu kembali melompat menghadang orang-orang berpakaian hitam itu. Ilmu Delapan Mata Angin dan ilmu 'Langkah Malaikat di gunakan. Pendekar Naga Sakti langsung menggunakan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang tingkat lima, Elang menerkam mangsa.

__ADS_1


Gerakan Anggala yang begitu cepat dan tangkas, membuat para pengeroyoknya kesulitan. Apalagi setiap ayunan telapak tangan Pendekar Naga Sakti yang membentuk cakar itu selalu membuat orang-orang berpakaian hitam itu satu persatu jatuh ke bumi dan bersimbah darah.


Setiap cakar jemari Anggala itu bergerak, selalu saja anggota Partai Teratai Api itu tidak mampu menghindar. Orang-orang berpakaian hitam itu tidak mampu menyentuh Pendekar Naga Sakti. Tidak butuh waktu lama lebih dari separuh orang-orang Partai Teratai Api itu telah bergelimpangan di tanah bermandi darah.


Melihat orang-orangnya jadi kacau dan banyak yang tewas, Raden Sembung Merah mencoba melarikan diri. Namun tindakannya itu di ketahui Wulan Ayu. Secepat kilat gadis cantik berbaju biru itu melesat menghadangnya.


"Mau lari ke mana kau...?!" bentak Wulan Ayu begitu menjejak kaki di depan Raden Sembung Merah.


Pemuda itu tampak terkejut, tapi secepat mungkin ia menghunus keris yang terselip di pinggangnya dan melompat menyerang Bidadari Pencabut Nyawa itu.


"Hup!"


Begitu gesit Wulan Ayu menggeser tubuhnya menghindari tikaman keris Raden Sembung Merah itu. Secepat kilat Bidadari Pencabut Nyawa menangkap pergelangan tangan kanan Raden Sembung Merah. Gadis cantik berbaju biru itu merebut keris di tangan Raden Sembung Merah.


Sebelum Raden Sembung Merah melakukan sesuatu, Wulan Ayu bergerak cepat mengibaskan keris di tangannya ke arah pemuda itu.


Crass!


"Aaaa...!" Raden Sembung Merah menjerit keras menyayat hati. Sebentar menantu Baginda Raja Kalingga Jaya Karta itu masih berdiri, kemudian ambruk dengan darah mengalir dari luka menganga di lehernya yang hampir buntung, terkena keris miliknya sendiri. Raden Sembung Merah menggeliat di tanah dengan jemari mencengkeram tanah, lalu diam tidak berkutik lagi.


Tiba-tiba terdengar teriakan keras. Tidak lama kemudian puluhan bahkan ratusan prajurit Kerajaan Pasemah Agung muncul dari arah istana baru. Kemudian Baginda Raja Kalingga Jaya Karta muncul berkuda dari belakang.


"Ayah...!" seru putri Nilam Sari.


Wanita itu langsung menghambur memeluk dan menangis di pelukan ayahnya.


"Ayah sudah tahu semuanya. Tabahlah, anakku...," ucap Baginda Raja Kalingga Jaya Karta lembut. Putri Nilam Sari hanya bisa menangis tersedu di pelukan ayahnya.


Sementara Baginda Raja Kalingga Jaya Karta memandang ke arah Anggala dan Wulan Ayu. Kedua mata laki-laki tua itu merembang berkaca-kaca.


"Terima kasih...," ucap Baginda Raja Kalingga Jaya Karta agak tersendat, "Seharusnya aku dari dulu bertindak. Sudah lama aku mencurigainya, tapi aku belum punya bukti yang kuat. Mungkin semuanya memang sudah ditakdirkan Yang Kuasa,"


Anggala dan Wulan Ayu hanya diam menjawab dengan mengangguk.


"Sarsih..., pergilah temui ayahmu di istana," sambung Baginda Raja Kalingga Jaya Karta lagi. Sarsih memandang ke arah Anggala dan Wulan Ayu, sepasang pendekar muda itu hanya mengangguk. Sarsih hanya membungkukkan tubuhnya sedikit lalu berlari ke arah istana baru kerajaan Pasemah Agung itu.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2