
Datuk Rambut Merah tampak hanya diam menanggapi ucapan Setan Merah Pencabut Nyawa tersebut.
"Ajian Setan Merah, Mengacau Neraka!"
"Ajian Setan Merah, Mengacau Neraka?" Datuk Rambut Merah tampak terkesiap.
"Rupanya Iblis Kelelawar telah menurunkan ilmu iblis pada Setan Merah Pencabut Nyawa," desis Datuk Rambut Merah dalam hati.
"Ajian 'Tapak Jagat'. tingkat tujuh, Tapak Semesta! Hiyaaa....!"
Datuk Rambut Merah membentak sambil mengangkat kedua tangan di depan dada dengan telapak tangan menghadap ke tengah.
Cahaya putih ke kuningan mulai menyelubungi kedua telapak tangan kakek tua berambut merah api itu, Cahaya itu perlahan menyebar hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Tapak Jagat tingkat tujuh!" Singa Rudra dan Blabang Geni tampak terkesiap melihat sesepuh Perguruan Alam Jagat itu merapal ilmu 'Tapak Jagat'. tingkat tujuh itu.
"Berarti ilmu Setan Merah Pencabut Nyawa itu memang tinggi Kak, kakek sesepuh sampai merapal ilmu 'Tapak Jagat'. tingkat tujuh," kata Blabang Geni.
"Ya, tampaknya mereka memang berniat mengadu kesaktian dan bertaruh nyawa demi pedang jagat," jawab Singa Rudra, kedua murid tertua Perguruan Alam Jagat itu tampaknya berhasil mengobati luka dalam mereka.
"Kak Rudra, Apa yang harus kami lakukan, Kak?" tanya salah seorang adik sepergurunanya yang tadi sempat bentrok dengan Setan Merah Pencabut Nyawa dan Pendekar Naga Hitam.
"Kau bawa teman-temanmu ke dalam, obati luka kalian di ruang pengobatan. Jika sesuatu terjadi pada kami, kalian cepat menyelamatkan diri," perintah Singa Rudra.
"Tapi Kak," jawab murid itu keberatan.
"Tidak ada kata tapi, Marta. Kami pun tidak akan mampu melawan dua orang pendekar golongan hitam itu, apalagi kalian," jawab Singa Rudra tegas.
"Baik, Kak," jawab Marta sambil memegangi dada, Marta tampaknya mengalami luka dalam. Untungnya Setan Merah Pencabut Nyawa dan Pendekar Naga Hitam tidak menggunakan pukulan mematikan sehingga para murid Perguruan Alam Jagat itu hanya mengalami luka dalam ringan.
"Ayo, kita masuk ke dalam mengobati luka dalam kita," ajak Marta pada saudara-saudara sepergurunanya. Murid yang lain yang juga mengalami luka dalam akibat bertarung tadi hanya mengangguk, Tanpa berani memprotes.
Apalagi dengan keadaan mereka saat ini, Singa Rudra dan Blabang Geni pun hampir mati bertarung melawan dua dedengkot golongan hitam itu.
Sementara itu Datuk Rambut Putih yang berhadapan dengan Fhatik telah terlibat pertarungan sengit, Kedua pendekar itu tampak saling menyerang dengan pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi.
Tap! Tap!
"Heaaa....!" bentakan Pendekar Naga Hitam membahana ketika telapak tangannya yang mengandung ilmu 'Pukulan Naga Hitam'. beradu dengan telapak tangan Datuk Rambut Putih yang mengandung ilmu 'Tapak Jagat'. tingkat empat, Tapak Dewa Langit.
Dess! Dess!
__ADS_1
Dua pijaran gelombang tenaga dalam tampak berputar mengelilingi kedua pendekar itu, gelombang tenaga dalam membuat angin puyuh berputar dengan gelombang cahaya mengitari keduanya.
Debu dan tanah tampak mulai ikut beterbangan ke udara, akibat gelombang kekuatan kedua pendekar itu.
"Hiyaaa....!" bentakan Pendekar Naga Hitam kembali terdengar nyaring, Fhatik meningkatkan tenaga dalam pada pukulannya dan menghempaskan ke arah depan.
Swoss! Swoss!
Booommm....!!"
Ledakan hempasan tenaga pukulan keduanya membuat gelombang panas yang menekan ke segala arah.
Srak!
Datuk Rambut Putih tampak terdorong sekitar lima tombak ke belakang, bekas telapak kakinya tampak membuat lubang dalam tanah sekitar lima jari.
Srek.!
Jlek!
Pendekar Naga Hitam pun terdorong ke belakang sekitar tiga tombak, namun dengan cepat Fhatik menegoskan tubuhnya dan menjejak kaki dengan kuda-kuda naga hitamnya.
"Ha ha ha...! Bagaimana, Datuk. Sebaiknya cepat kau berikan pedang langit dan pedang bumi padaku dan ikut menjadi anggota Partai Teratai Hitam!" kata Fhatik sambil tertawa pongah.
"Hmm...! Pendekar Naga Hitam. Aku belum kalah, ku akui ilmu yang kau dapat dari Pertapa Naga memang sulit di tanding, memberikan pedang langit dan pedang bumi padamu, langkahi dulu mayatku," jawab Datuk Rambut Putih dengan nada suara datar, namun bernada tantangan.
"Kau memang harus di beri pelajaran, Datuk peot," geram Fhatik, memang tampak dari hasil adu kekuatan tadi Pendekar Naga Hitam berada di atas angin. Namun Datuk Rambut Putih memang belum kalah.
Walau sesepuh Perguruan Alam Jagat itu terdorong lebih jauh dari pada Fhatik, namun Datuk Rambut Putih masih berdiri tegar tanpa kurang suatu apa pun.
Sementara Datuk Rambut Merah yang sedang merapal ilmu 'Tapak Jagat, Tapak Semesta tampak saling berhadapan dengan tubuh keduanya sudah di selubungi cahaya yang saling berlawanan.
Cahaya putih dengan gelombang merah menyelubungi tubuh Datuk Rambut Merah, Cahaya itu membentuk seseorang yang mirip seorang yang duduk bersemedi dengan telapak tangan bertemu di depan dada.
Sedangkan Cahaya merah yang menyelubungi tubuh Setan Merah Pencabut Nyawa membentuk iblis yang berwarna merah besar, dengan kedua telapak tangan membuat dua bola api.
"Aku masih memberimu kesempatan, tua bangka. Serahkan kedua pedang itu pada kami, kami akan biarkan kau dan saudaramu hidup lebih lama lagi," ancam Setan Merah Pencabut Nyawa dengan nada suara dingin.
"Heh! Setan Merah, gunakan kata-kata itu untuk dirimu sendiri," jawab Datuk Rambut Merah dengan tenang.
"Jangan salahkan aku, tua bangka! Heaaah..!" teriakan nyaring Setan Merah Pencabut Nyawa mengawali tubuhnya melesat ke udara di ikuti bayangan merah yang membentuk iblis bertanduk itu.
__ADS_1
Setelah sampai di udara Setan Merah Pencabut Nyawa mengambang sebentar, kemudian laki-laki berpakaian merah hitam itu meluruk turun dengan begitu cepat dengan kedua telapak tangan membentuk cakar di depan wajah dan menghadap ke bawah.
"Heeeaa...!!" Datuk Rambut Merah pun membentak, dengan suara menggema. Pendekar tua itu menghentakkan telapak tangannya ke arah atas menyongsong gerakan Setan Merah Pencabut Nyawa.
Swoss! Swoss!
Gelombang cahaya merah bagai api berputar bagai lidah petir mengiringi bayangan telapak tangan pembentukan kesaktian sang Datuk.
Swoss! Swoss!
Blaaamm.....!!"
Ledakan menguncang tempat itu begitu dia gelombang berkekuatan tinggi itu bertemu dan saling beradu, gelombang api membentuk bulatan dan menghempas ke segala arah.
Gelombang dua kekuatan itu membuat tempat itu bagai di goncang gempa yang sangat dahsyat. Singa Rudra dan Blabang Geni sampai memakai tenaga dalam agar tidak jatuh dan memperkuat kuda-kuda mereka.
Brak!
Datuk Rambut Merah tampak terpental jauh sampai menabrak dinding rumah besar perguruannya. Dinding bangunan terbuat dari papan itu tampak jebol dan hancur, Datuk Rambut Merah sampai menembus dua lapis dinding rumah itu dan jatuh bergulingan di tanah.
"Huaaakhh...!" begitu mencoba bangun, Datuk Rambut Merah tampak membatukkan darah segar bercampur darah kehitaman.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.
__ADS_1