Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Menyelamatkan Anak-anak Yang Di Sandera


__ADS_3

Bulan setengah tampak menyinari Mayapada sinarnya yang tampak remang-remang menyinari malam, dua sosok bayangan berkelebat melompat cepat bagai kilat dari pohon ke pohon. Kedua pendekar yang memakai pakaian ala Ninja itu tidak lain adalah Wulan Ayu dan Anggala, si Pendekar Naga Sakti Anggala.


Anggala dan Wulan Ayu yang menyusup memasuki Desa Bukit Kayangan sesuai perjanjian mereka dengan Jaka Kelana dan ketiga pendekar dari Bukit Tambun Tulang. Anggala, dan Wulan Ayu berencana menyelidiki dan sekaligus melepaskan anak-anak yang disandera oleh tuan tanah Desa Bukit Kayangan itu.


Di sebatang pohon yang cukup besar dan Rindang Anggala, lebih dahulu berhenti di atas puncak pohon dan memperhatikan keadaan sekitarnya.


"Ada apa, Kak?" bisik Wulan Ayu bertanya sambil ikut berhenti di dahan pohon yang cukup besar itu.


"Tampaknya bangunan besar yang berada di dalam pagar kayu itu dan di belakangnya tampak puluhan orang berjaga-jaga," sahut Anggala.


"Mungkinkah anak-anak itu disandera di tempat yang dijaga oleh banyak orang itu, Kak?" tanya Wulan Ayu lagi.


"Ya bisa jadi, kita harus menyelidikinya lebih dulu," sahut Anggala.


"Baiklah, dinda akan ke arah selatan, dinda lihat di sana Dinda lihat ada bangunan yang cukup besar juga," kata Bidadari pencabut nyawa.


"Baiklah, Dinda ke selatan kakak ke utara, jika telah tahu pastinya dimana anak-anak itu disandera kita bertemu di atas pohon ini lagi," kata Anggala lagi.


"Baiklah, Kak," sahut Wulan Ayu Seraya melompat bagai kilat dari atas pohon itu dengan begitu ringan bagai Kapas, di atas atap sebuah rumah besar.


Anggala pun melesat ke arah selatan dan menjejak kaki di atas puncak rumah yang terbuat dari genteng itu.


Begitu Anggala menyelidik dengan menggunakan ilmu 'Mata Malaikat' nya tampak puluhan orang sedang meronda hilir mudik satu anggota kelompok peronda itu tidak kurang jumlahnya dari lima belas orang sampai dua puluh orang.

__ADS_1


Mereka tampak mengelilingi rumah besar yang kemungkinan itu adalah rumah juragan yang menguasai Desa Bukit Kayangan ini.


Anggala berhasil mengendap-ngendap dan melompat turun di bagian belakang bangunan, dengan memakai ilmu 'Mata Malaikat' nya Anggala melihat dari celah lobang angin tampak tidak kurang dari dua puluh orang anak-anak sedang tidur di atas dipan kayu. Tidak satu orang pun mereka memakai selimut mereka hanya tidur saling berdekatan untuk menghangatkan tubuh mereka.


Anggala menggeleng-gelengkan kepalanya memandang sedih dan muris ke arah anak-anak yang tampak terlantar itu.


Setelah mengetahui keadaan itu secepat kilat Pendekar Naga Sakti melompat kembali ke atas atap genteng dan berlari begitu ringan dan menuju pohon di mana tempat ia menjanjikan akan bertemu kembali dengan Wulan Ayu.


Tidak lama kemudian Wulan Ayu pun telah melesat dan kembali ke atas pohon besar tersebut


"Kak, bangunan yang ada di bagian utara itu itu adalah markas para prajurit mereka," kata Wulan Ayu memberitahu.


"Ya, kemungkinannya besar memang bangun yang yang ada di selatan itu adalah tempat tinggal para prajurit itu, telah kakak selidiki bangunan itu digunakan untuk anak-anak itu ada di bagian utara. Tapi bagian belakang bangunan Itu tampak tidak dijaga," kata Anggala memberitahu.


"Pintu bangunan pintu bagian belakang itu terkunci dari dalam, jika kita dobrak tentu akan menimbulkan kegaduhan," kata Anggala lagi.


"Berarti kita harus menunggu agak malam bulan setengah ini tengah malam lewat cahayanya akan agak redup. dan orang-orang yang berada di bangunan sebelah utara itu tentu sudah banyak yang tertidur kita akan beraksi saat tengah malam lewat," kata Wulan Ayu.


"Ya, Kakak setuju dengan usul dinda itu," sahut Anggala sambil membuka cadar yang ia pakai bagaikan seorang Ninja itu.


akhirnya mereka menunggu agak malam Ketika cahaya bulan agak redup tampaknya cuacanya agak mendung. Keadaan cuaca malam itu mendukung rencana kedua pendekar muda itu.


Tiba-tiba di atas langit awan hitam bergumpal menutupi daerah itu cahaya bulan pun menghilang.

__ADS_1


"Dinda," Anggala menggoyangkan sedikit bahu Wulan Ayu yang duduk bersandar di bahunya dan memejamkan matanya.


"Ada Apa, Kak?" Wulan Ayu mbuka matanya.


"Sepertinya cahaya bulan telah redup, Allah tampaknya mendukung rencana baik kita. Awan mendung menutupi langit, dengan demikian pergerakan kita lebih tidak terlihat ,"kata Anggala sambil berbisik.


"Baiklah, Kak. Begini saja. Kakak pancing orang-orang itu melalui depan dan aku akan membobol pintu itu dari belakang akan aku bawa anak-anak itu keluar bangunan," kata Wulan Ayu.


"Baiklah, Dinda," kata Anggala menyetujui rencana Wulan Ayu.


Dalam sekejap mata saja Pendekar Naga Sakti sudah melompat dan berada di depan bangunan yang digunakan untuk menyekap anak-anak dari Desa Bukit Kayangan itu.


"Heh... Siapa kau?" bentak salah seorang penjaga yang tampak Masih Berdiri di depan pintu. Sekitar lima belas orang langsung mengerumuni mengepung Anggala.


Anggala tidak mau mengambil resiko begitu cepat bagai kilat Pendekar dari lembah naga itu bergerak dan tidak kurang dari lima belas orang yang ada di sekitarnya langsung di totok dengan cepat.


Tentu saja kecepatan gerakan Pendekar Naga Sakti itu tidak sanggup dihalangi oleh lima belasan orang penjaga itu, dalam sekejap mata saja semua orang itu sudah menjadi patung hidup di depan bangunan yang digunakan sebagai tempat penyebab anak-anak itu.


Brak!


Pintu belakang bangunan yang terkunci itu langsung hancur di tendang Wulan Ayu dengan menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi. Anak-anak yang lagi tidur itu tersentak dan langsung bangun, beberapa orang tampak ketakutan dan lainnya tampak diam memperhatikan.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2