Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Bag, 7


__ADS_3

Kicau burung mulai terdengar menyambut pagi, suara jangkrik dan cacing di dalam hutan mulai menghilang. Suara orang-orang Desa mulai terdengar ramai hilir mudik beraktivitas.


Matahari mulai memancarkan cahayanya di ufuk timur, daun-daunan masih basah oleh tetesan embun tadi malam.


Aki Syarip dan mak Ripah mulai bekerja dari saat subuh tadi menyiapkan segala kebutuhan warung makan mereka untuk hari ini.


Wulan Ayu yang sudah terbangun karena kesibukan sepasang suami istri yang sudah mulai sibuk bekerja itu. Gadis cantik berpakaian serba biru itu memilih membantu mak Ripah di dapur setelah mencuci muka.


Anggala yang juga ikut terbangun mengajak Aki Syarip ke sungai untuk menangkap ikan, kebetulan juga nelayan air tawar belum mengantar ikan pagi ini.


"Apa nak Anggala tidak merasa terganggu karena aktivitas Aki bersama mak yang begitu pagi sudah sibuk di dapur?" tanya Aki Syarip merasa tidak enak hati mengganggu istirahat tamu penginapannya itu.


"Tidak, Ki. Saya tidak merasa terganggu, saya malah sudah biasa bangun pagi-pagi. Di biasakan guru saya di pertapaan," jawab Anggala sambil tersenyum.


"Iya, Nak. Kata orang tua kita harus bangun pagi, kalau tidak rezeki kita akan habis di patuk ayam. Begitulah istilah orang tua dari dulu," imbuh Ki Syarip.


"Ya, bangun pagi itu tergantung kebiasaan juga, Ki," kata Anggala sambil tertawa. Sesampainya di sungai Pendekar Naga Sakti menangkap ikan begitu banyak, hingga keranjang rotan yang di bawa Aki Syarip penuh oleh ikan.


"Wah, ini banyak sekali, Nak Anggala," kata Aki Syarip kesenangan, "Tapi kalau sudah terlalu banyak, nanti tidak habis hari ini nak Anggala," tambahnya lagi.


"Kita bikin ikan salai atau ikan bakar saja, Ki. Ikan bakar bisa tahan sampai dua hari, kalau ikan salai bisa tahan sampai lima, enam hari. Yang penting tidak di ganggu lalat," jawab Anggala.


"Tapi, tiap pagi harus di panasi di api juga, Nak Anggala," sela Aki Syarip.


"Kalau ikan salai, tidak perlu, Ki. Yang penting di masak hingga air ikannya benar-benar kering," kata Anggala sambil tersenyum.


"Wah, tampaknya nak Anggala sudah biasa membuat ikan salai, ya?"


"Waktu di pertapaan kakek guru saya, Ki," jawab Anggala sembari mengambil keranjang ikan.


"Biar, Aki yang bawa, Nak Anggala," cegah Aki Syarip.


"Tidak apa-apa, Ki. Saya'kan masih muda," jawab Anggala sambil tertawa.


Anggala dan Aki Syarip baru kembali ke Warung, mereka berdua menemukan dua orang pelanggan anak muda yang tampak kelelahan karena perjalanan.

__ADS_1


"Nak Anggala, ke belakang duluan. Biar aki menjamu tamu warung dulu," kata Aki Syarip.


"Ya, Ki. Anggala langsung ke belakang," jawab Anggala. Anggala pun membawa ikan yang sudah mereka bersihkan ke dapur.


"Wah, ikannya banyak sekali nak Anggala," kata Mak Ripah melihat ikan yang di bawa Anggala begitu banyak.


"Ya, Mak. Nanti ikannya kita salai supaya tahan lama," jawab Anggala.


"Kita bikin masakan khas daerah sini ya, Nak," pinta Wulan Ayu.


"Boleh nanti kita masak makanan khas daerah ini," jawab Mak Ripah sambil tersenyum.


Sementara Aki Syarip menemui dua orang pemuda yang telah duduk di sebuah meja, kedua pemuda itu adalah Singa Rudra dan Blabang Geni.


"Maaf, Anak Muda. Apa kalian mau makan?" tanya Syarip.


"Iya, Ki. Kami butuh makanan, maaf kami sudah terlalu lelah... Uhuakh..!" jawab Singa Rudra sambil terbatuk, ada darah mengalir dari hidung anak muda itu.


"Anak Muda, kau mengalami luka dalam?" tanya Aki Syarip mencoba menebak. Melihat postur tubuh kedua pemuda itu tidak mungkin mereka dalam keadaan sakit, kecuali terluka dalam.


"Iya, Ki. Saya mengalami luka dalam," jawab Singa Rudra sambil mengusap darah dari hidungnya.


"Terima kasih banyak, Ki," ucap Singa Rudra, "Ayo, Geni. Kita makan dulu, setelah itu kita bisa melanjutkan perjalanan mencari Pendekar Naga Sakti lagi," ajak Singa Rudra pada Blabang Geni.


"Iya, Kak. Aku juga sudah kelaparan," jawab Blabang Geni sambil mengambil piring dan menyendok nasi ke dalam piringnya.


Kedua murid Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah itu memang sudah hampir kehabisan tenaga setelah bertarung melawan Fhatik dan Lintar Saga beberapa hari yang lalu.


Singa Rudra dan Blabang Geni yang mengalami luka dalam dan berjalan jauh mengunakan ilmu kedikjayaan tentu saja menguras tenaga.


Singa Rudra dan Blabang Geni makan bagai orang yang hampir mati kelaparan.


"Uhuakh...!" Singa Rudra terbatuk karena makan terlalu cepat.


"Kak Rudra, santailah sedikit makannya," kata Blabang Geni sembari memberikan air putih pada Singa Rudra.

__ADS_1


"He.. Eh, maaf Geni, aku sudah begitu kelaparan," jawab Singa Rudra sembari menerima cangkir bambu pemberian Blabang Geni itu.


Singa Rudra segera meminum air putih dari cangkir bambu sambil mengurut dada.


"Pelan... Pelan, kisanak. Kasihan tubuhmu," tiba-tiba Anggala sudah berdiri tidak jauh dari kedua murid Perguruan Alam Jagat itu.


"Siapa gerangan pendekar, apa pendekar yang di katakan Aki pemilik warung tadi?" tanya Singa Rudra setelah menyelesaikan makanya.


"Saya hanya seorang petualang, kisanak. Tampaknya kalian sudah berjalan jauh, tapi aku lihat kalian berdua mengalami luka dalam," jawab Anggala.


"Pendekar, benar. Kami sedang melakukan perjalanan mencari seseorang atas perintah guru kami," kata Singa Rudra.


"Kenapa kalian bisa terluka dalam? Aku melihat kalian sudah mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi," tanya Anggala.


"Tampaknya kami sedang berhadapan dengan seorang pendekar yang mempunyai kedikjayaan tinggi, kami kalah bertarung dengan Pendekar Naga Hitam dan Setan Merah Pencabut Nyawa," jawab Singa Rudra.


"Pendekar Naga Hitam? Apakah namanya Fhatik? tanya Anggala tampak begitu ingin tahu.


"Ya, kami dengar dia adalah seorang pendekar dari golongan putih yang murtad dan berpindah golongan," jawab Singa Rudra.


"Siapa guru kalian?"


"Guru kami adalah Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah dari Perguruan Alam Jagat," jawab Singa Rudra, "O, iya pendekar, perkenalkan saya Singa Rudra dan ini Blabang Geni adik seperguruan saya," tambah Singa Rudra memperkenalkan diri.


"Kalau boleh aku tahu, siapa yang di minta oleh guru kalian cari?"


"Kami di perintahkan oleh guru kami mencari seorang pendekar dari barat yang bergelar Pendekar Naga Sakti," jawab Singa Rudra.


"Ada urusan apa, guru kalian memerintahkan mencari Pendekar Naga Sakti?" tanya Anggala, seakan ia bukan orang yang di maksud oleh Singa Rudra tersebut.


"Guru kami memintanya datang ke Perguruan Alam Jagat, Pendekar. Apa Pendekar tahu siapa Pendekar Naga Sakti tersebut?" jawab Singa Rudra sembari bertanya.


"Orang yang ada di depan kalian itu adalah Pendekar Naga Sakti, Anak Muda,"


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2