Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang. Ajian Barong Hitam


__ADS_3

Hauuumm....!"


Raungan singa keluar dari manusia singa jelmaan Jagat Satra itu. Manusia singa itu melompat sambil mengayunkan cakarnya kedepan.


Wuk! Wuk!


Manusia singa itu langsung menerkam kedepan, dengan cukup cepat, Bidadari Pencabut Nyawa tidak tinggal diam ia pun melesat menyongsong sambil mengayunkan pedang elang perak di tangannya dengan begitu cepat.


Trang! Trang!


Buak! Buak!


Setiap sabetan dan tebasan pedang elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu bagai mengenai bongkahan besi. Bidadari Pencabut Nyawa cepat memberikan tendangan beruntun kearah punggung manusia singa itu. Namun malah dia sendiri yang terlempar.


Buak!


"Aaakh...!"


Bidadari Pencabut Nyawa jatuh bergulingan ditanah. Murid dua Pendekar Pemarah itu langsung cepat melompat berdiri. Namun kaki kanannya terasa nyeri, sedangkan manusia singa itu kembali menyerang dengan cakar yang mengarah kebagian mematikan di tubuhnya.


Trang! Trang!


Manusia singa itu terkesiap saat cakarnya menghantam bahu Wulan Ayu bagai menghantam besi. Manusia singa itu terjajar mundur sekitar tiga langkah. Bidadari Pencabut Nyawa memanfaatkan kesempatan itu untuk menyabetkan pedangnya ke arah kepala manusia singa tersebut.


Trang!


Manusia singa itu cepat melintangkan tangannya di atas kepala untuk menangkis serangan pedang Bidadari Pencabut Nyawa itu. Tangan kanan manusia singa itu bergerak cepat menghantam dada Bidadari Pencabut Nyawa.


Buak!


"Aaakh...!"


Wulan Ayu terjajar mundur sekitar dua tombak. Walau ia memakai jurus 'Baju Besi tingkat dua belas. Namun Bidadari Pencabut Nyawa masih mengalami luka dalam akibat pukulan manusia singa itu.


"Huaks...!"


Wulan Ayu memuntahkan darah segar. Gadis cantik berpakaian serba biru itu menancapkan ujung pedang elang perak ke tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Tapi tetap saja ia jatuh berlutut.


"Hup!"


Pendekar Naga Sakti melesat meninggalkan puluhan orang-orang berpakaian ala ninja yang lagi di hadapinya. Kamandaka cepat mengambil alih. Tongkat Naga Emas di tangannya berputar cepat menghalau musuh yang mencoba mengejar kearah Pendekar Naga Sakti.


"Hehehe..! Hadapi aku dulu, kisanak!" bentak Kamandaka. Kedua adiknya pun ikut mendekat. Tiga orang Pendekar Tongkat Naga Emas itu kini saling melindungi dari tiga arah. Jumlah orang-orang berpakaian ninja itu, yang begitu banyak cukup membuat mereka kerepotan.

__ADS_1


Di tambah kemampuan bertarung mereka di atas rata-rata.


"Kak Kamandaka. Tampaknya kita harus menggunakan jurus 'Tongkat Seribu'. mereka cukup merepotkan," ucap Raka Adiwangsa sambil memutar tongkat Mustika Naga Emas ditangannya, putaran tongkat Raka Adiwangsa itu cukup cepat hingga membentuk baling-baling yang berputar sangat cepat.


"Ya Kak, kita bisa kehabisan tenaga jika terus mengikuti permainan mereka," imbuh Arya Guna.


"Baiklah. Ayo!" jawab Kamandaka. Ketiga saudara seperguruan itu bersiap dengan kuda-kuda yang sama. Tongkat Naga Emas di tangan mereka teracung kedepan. Sekitar enam puluh sampai delapan puluh orang berpakaian ala ninja itu mengepung mereka dari segala arah.


"Hiyaaa....!"


Jeritan membahana ketiga saudara seperguruan itu serentak. Tongkat di tangan mereka berubah bagai bayangan. Puluhan bayangan tongkat berputar di sekeliling tiga Pendekar muda itu.


Sementara itu Pengemis Gila yang berhadapan dengan Datuk Prabang Kara telah melakukan pertarungan yang cukup sengit dan panjang. Pengemis Gila yang mempunyai kesaktian sulit di ukur itu tampak melayani datuk Prabang Kara dengan cukup tenang.


Sesekali tawa Pengemis Gila menambah amarah Datuk Prabang Kara. Dedengkot golongan hitam itu terus merangsek dengan jurus-jurus tangan kosongnya, yang mengandung tenaga dalam tinggi.


Wut! Set!


Dik!


Begitu ringan Pengemis Gila menapaki pukulan tangan kosong Datuk Prabang Kara. Jurus-jurus orang gila menangkap nyamuk nya membuat Datuk Prabang Kara kesulitan mengenai sasarannya.


"He he he...! Prabang Kara, apa hanya segini kemampuanmu, hah! He he he..!" tawa Pengemis Gila sambil berkelit menghindari cakar Datuk Prabang Kara.


"Hehehe..! Prabang Kara. Apa kau mau memakai ilmu pengecutmu itu hah!" kata Pengemis Gila sambil mengebutkan Tongkat Rotan Semabunya di samping tubuhnya.


"Jangan banyak bacot kau Pengemis Gila, sebaiknya kau tinggalkan tempat ini, jika kau tidak ingin bermalam di puncak gunung pungur ini!" ujar Datuk Prabang Kara sengit.


"He he he...! Aku bukan anak bayi, yang bisa kau gertak Prabang Kara. Jangan panggil namaku Guntur Langit, jika harus lari menghadapi keroco sepertimu!" balas Pengemis Gila sengit.


"Baik! Terimalah kematianmu! Heaah...!"


Set! Set! Set!


Crab! Crab!


Pengemis Gila cepat mengebutkan tongkatnya di depan dada membentuk putaran yang menjadi sebuah tameng. Tiga kuku panjang berwarna hitam menancap di batang tongkat Pengemis Gila itu.


"Bangsat! Kau Prabang Kara. Kau merusak tongkatku!" dengus Pengemis Gila kesal. Pengemis Gila tiba-tiba bergerak begitu cepat. Tiba-tiba Pengemis Gila telah berada di depan Datuk Prabang Kara. Tokoh hitam itu terkesiap, dengan cepat ia mengayunkan tangannya mencakar ke arah Pengemis Gila.


"Eiit...!" Pengemis Gila dengan lincahnya meliukkan tubuhnya ke samping, sehingga serangan cakar Datuk Prabang Kara hanya mengenai angin.


Buak!

__ADS_1


Tongkat Rotan Semabu Pengemis Gila telak menghantam Dada Datuk Prabang Kara.


"Aaakh..!"


Lenguhan tertahan keluar dari mulut Datuk Prabang Kara, sebelum tubuhnya terpental lima tombak kebelakang. Datuk Prabang Kara langsung jatuh bergulingan. Begitu ia berusaha bangkit tampak darah segar mengalir dari sela-sela bibirnya.


"Huakh...!"


Datuk Prabang Kara memuntahkan darah merah kehitaman. Tokoh hitam itu berlutut ditanah sambil memegangi dada.


"He he he..! Prabang Kara. Bagaimana pukulan tongkatku? itu baru pembalasan, kau berani merusak tongkat kesayanganku ini, he he he..!" tawa Pengemis Gila sambil mengelus tongkat di tangan kanannya.


"Dasar Pengemis Gila. Awas kau! Aku akan mengadu nyawa denganmu!" ucap Datuk Prabang Kara sambil menyeka darah dari mulutnya. Datuk Prabang Kara meningkatkan tenaga dalamnya. Asap putih kehitaman menyelimuti tubuh tokoh hitam itu.


Begitu asap putih kehitaman itu menghilang. Datuk Prabang Kara telah berubah. Wajahnya jadi menyeramkan berwarna merah. Telinganya berubah lebar berwarna hitam, matanya besar dan melotot berwarna merah menyeramkan.


Kedua tangan Datuk Prabang Kara berubah berbulu dan memiliki kuku hitam panjang.


"Ajian Barong Hitam!" ucap Datuk Guntur Langit terkesiap, "Rupanya rumor tentang ilmu sesat itu memang benar. Aku harus berhati-hati!" guman Pengemis Gila dalam hati.


"Hup!"


Pengemis Gila memutarkan tongkatnya di sekitar tubuhnya. Bayangan tongkat itu bergerak begitu cepat. Pengemis Gila merapal ajian 'Tongkat Dewa'. Cahaya putih menyinari tongkat di tangan Pengemis Gila tersebut.


"Hari ini, hari kematianmu Pengemis Gila!" bentak Barong Hitam jelmaan Datuk Prabang Kara terdengar mengaum tapi serak.


"Buktikan dulu Prabang Kara, siapa diantara kita yang masuk kubur!" jawab Pengemis Gila sengit.


Tongkat ditangannya berputar begitu cepat, sehingga hanya yang terlihat bayangan tongkat itu berkelebat cepat.


"Hoaaarr...!"


Barong Hitam jelmaan Datuk Prabang Kara melompat dengan kedua tangan mengayun dan mencakar ke arah depan. Pengemis Gila pun melesat menyongsong dengan begitu cepat.


Trang! Trang!


Suara cakar barong hitam mengenai tongkat Pengemis Gila bagai dua pedang yang beradu. Gerakan dua tokoh silat itu berubah bagai bayangan yang saling bertabrakan. Angin kencang mengitari keduanya. Tanah dan debu mulai berhamburan. Udara di sekitar pertarungan itu mulai terasa panas menyengat kulit.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2