Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Datuk Wangsaka Tewas


__ADS_3

Tanah bergetar seakan puncak Gunung Kerinci di landa gempa dan badai. Tanah dan bebatuan beserta debu berhamburan ke udara, gelombang api menekan ke segala penjuru.


Beberapa saat terlihat hening, setelah tanah dan bebatuan kembali jatuh ke bumi, terlihat lobang menganga sebesar gajah dewasa di antara Datuk Wangsaka dan Kakek Pengemis Gila.


"Huh....! Gabungan dua racun itu membuat nafasku terasa sesak, padahal aku telah menutup pernafasan melalui hidung. Sungguh ilmu yang begitu keji..," gumam Pengemis Gila sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Memang pengemis sakti itu tidak mengalami luka dalam setelah adu pukulan kesaktian dengan Datuk Wangsaka, tapi hawa racun yang begitu kuat dan kentara dari keris Selaksa Hijau dan pukulan Datuk Wangsaka itu membuat nafasnya tampak tersengal.


Tidak ingin menanggung resiko, Pengemis Gila segera melakukan semedi untuk membuang racun yang tersedot ke dalam tubuhnya walau tidak begitu banyak.


Sementara itu Datuk Wangsaka terlihat jatuh bergulingan di tanah penuh bebatuan, tubuh Datuk Wangsaka terlihat penuh luka bakar. Terlihat dari pakaiannya yang banyak yang sobek dan berubah menjadi compang-camping.


"Uhuakh...!" Datuk Wangsaka berusaha bangkit walau tertatih, ia berusaha berlutut sambil menancapkan keris Selaksa Hijau di tanah di depannya. Namun tidak beberapa lama Datuk Wangsaka terlihat kembali memuntahkan darah berwarna merah bercampur kehitaman.


"Kakak.....!!!" jerit Datuk Wangsaka sambil memegangi dadanya, tidak lama kemudian tokoh hitam dari Gunung Tujuh itu terlihat jatuh tertelungkup dengan mulut mengeluarkan busa darah yang begitu mengerikan, darah merah kehitaman bercampur dengan warna hijau.

__ADS_1


Rupanya tubuh Datuk Wangsaka tidak juga mampu menahan efek dua racun yang ia gunakan, apalagi luka dalam yang ia derita telah terlalu parah. Sehingga hawa murninya sudah tidak bekerja lagi untuk mengobati luka dalam yang ia derita.


Datuk Wangsaka tewas seketika dengan tubuh membiru, sadis memang ia harus tewas akibat racun yang ia gunakan untuk mengalahkan musuhnya. Kini hanya yang terjadi adalah senjata makan tuan.


"Wangsaka!" sentak Datuk Wangsala yang telah berhadapan dengan Nini Sumirah. Dua tokoh berlainan golongan itu telah terlibat pertarungan cukup sengit. Keduanya telah menggunakan jurus ilmu silat lebih dari tiga puluh jurus.


Nini Sumirah yang merupakan seorang pendekar wanita yang cukup di segani di wilayah Gunung Kerinci itu, dengan ilmu yang dimilikinya, Nini Sumirah dapat melayani setiap serangan jurus-jurus silat Iblis Kembar dari Gunung Tujuh itu.


"Kita tunda dulu, Sumirah. Aku harus melihat adikku!" seru Datuk Wangsala sembari melompat menjauhi Nini Sumirah.


"Aku tidak lari, Sumirah. Adikku memanggil!" sahut Datuk Wajangkara seraya melesat meninggalkan Nini Sumirah dan menuju arah suara Datuk Wangsaka yang memanggilnya.


"Wangsaka.....!" jerit Datuk Wangsala begitu melihat sang adik telah tertelungkup dengan tubuh membiru.


"Wangsaka.... Bangun....!" Datuk Wangsala langsung mengangkat tubuh sang adik yang telah terbujur kaku dan berusaha menggoncang-goncangnya. Namun nyawa Datuk Wangsaka telah lama pergi dari tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa kau menggunakan dua racun adikku, tubuhmu tidak sanggup menahan kekuatan dua racun itu, Wangsaka," ratap Datuk Wangsala sambil memeluk tubuh adik kembarnya itu.


Datuk Wangsala mengedarksn pandangan ke depan. Pandangan Datuk Wangsala tertumbuk pada Pengemis Gila yang baru selesai bersemedi.


"Kau.... Pemgemis Sialan....!" geram Datuk Wangsala terdengar parau menahan amarah.


"Heh....! Maaf Wangsala, adikmu bukan mati karena aku. Dia mati karena racun yang dia gunakan, he he he....," dengan santainya Pengemis Gila menjawab bentakan Datuk Wangsala itu seakan tidak bersalah.


"Kurang ajar kau Pengemis Gila. Kau harus membayar nyawa adiku!" bentak Datuk Wangsala sambil meletakkan tubuh Datuk Wangsaka yang telah kaku.


"Urusan kita belum selesai, Wangsala....!!"


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2