
"Godain kak Wulan ah...!" ucap Embun sambil tertawa, ia pun menyusul Wulan Ayu masuk ke dalam rumahnya.
"Kak Wulan...!" panggil Embun melihat Wulan Ayu tidak ada di kamarnya. "Kemana Kak Wulan ya, perasaan tadi kak Wulan masuk kamar?" Embun agak bingung.
"Haa....!"
"Aauuu.....!"
Tiba-tiba Wulan Ayu sudah ada di belakang embun dan mengejutkannya, sehingga gadis itu terjerit kaget.
"Ha ha ha... Hayo siapa yang kena jebakan!"
"Kak Wulan...!" wajah Embun memerah, tangannya memegangi dada, "Ternyata Kak Wulan bisa usil juga!"
"Bisa dong, masa Embun saja yang bisa godain kakak," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Gimana Kak. Apa orang-orang jahat itu sudah di usir semua?"
"Ya, terakhir Kala Abang, yang kami usir ke alam kubur," jawab Wulan Ayu sambil tertawa.
"Syukurlah, berarti desa kembali aman," ucap Embun, wajahnya berubah sendu, ia berjalan lesu ke atas dipan tempat tidur di kamar itu.
"Kok lesu, senang dong, sekarang sudah aman!" kata Wulan Ayu sambil duduk di samping Embun.
"Itu berarti Kak Wulan, dan kak Anggala akan meninggalkan tempat ini," timpal Embun tampak kehilangan semangat.
"Tentu saja Mbun, kakak dan kak Anggala'kan Pendekar petualang, jadi tentu saja kakak harus meneruskan perjalanan, diluar sana banyak orang lain yang mungkin kesusahan. Mereka butuh bantuan kakak dan kak Anggala," ucap Wulan Ayu, "Tapi kakak dan kak Anggala belum lansung berangkat kok, karna hari ini, kak Anggala dan orang-orang kampung Talang Kuda harus mengubur mayat Kala Abang,"
"Jadi, Kakak belum lansung berangkat?"
"Belum la, kami masih mau istirahat beberapa hari lagi," jawab Bidadari Pencabut Nyawa sambil tersenyum.
"Asyik, berarti Kak Wulan masih sempat ajarin Embun belajar silat dong?" cerocos Embun kesenangan, wajahnya kembali bersemangat.
__ADS_1
"Boleh. Kakak akan ajari Embun dasar dasar-dasar jurus bidadari."
"Makasih, ya Kak!" Embun tampak Kesenangan, ia lansung memeluk Wulan Ayu.
Seminggu sudah semenjak tewasnya Kala Abang, Anggala dan Wulan Ayu harus melanjutkan perjalanan mereka. Selama seminggu ini Embun giat berlatih jurus-jurus dasar jurus bidadari kayangan milik Wulan Ayu.
Embun begitu giat berlatih, dengan semangatnya yang begitu tinggi ia berhasil mempelajari jurus-jurus dasar bidadari kayangan. Ia bertekat mempelajari sebuah kitab ilmu silat yang di berikan Pendekar Naga Sakti, yaitu kitab Tarian Kayangan, kitab itu di tulis ulang kembali karna Bidadari Pencabut Nyawa juga mempelajarinya.
Kitab Tarian Kayangan adalah sebuah kitab yang sengaja di bawa oleh Pendekar Naga Sakti dari Lembah Naga, karena di suruh sang guru dan kakek gurunya mencari orang yang pantas mempelajarinya. Pendekar Naga Sakti sendiri hanya membaca dan dan mempelajarinya saat ia kehilangan kekuatan karena Kitab Tapak Sakti dahulu.
Pendekar Naga Sakti tidak menggunakan jurus 'Tarian Kayangan sebagai jurus silat nya karna Pertapa Naga mengatakan bahwa jurus 'Tarian Kayangan'. adalah jurus yang di khususkan untuk perempuan.
Pagi yang begitu cerah menyambut keberangkatan Anggala dan Wulan Ayu, pagi-pagi sekali dua pendekar muda itu telah bersiap-siap. Mereka berdua mandi dan sarapan. Embun dan ibunya pun sibuk dari subuh tadi menyiapkan masakan, mereka juga menyiapkan makanan untuk di bawa oleh Anggala dan Wulan Ayu.
Setelah selesai sarapan, Anggala dan Wulan Ayu pun bersiap berangkat, tanpa sepengetahuan mereka penduduk desa Talang Kuda rupanya telah berkumpul di depan rumah Ki Sarta untuk melepas kepergian dua orang pendekar yang telah menjadi penolong mereka dari gangguan orang-orang Perguruan Belati Terbang selama ini.
Embun tampak yang paling sedih melepas kepergian Wulan Ayu. Embun tampak menangis sambil memeluk Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Kak, jangan lupakan Embun ya. Embun akan mempelajari dan terus melatih jurus dasar Bidadari kayangan, dan menyelesaikan mempelajari Kitab Tarian Kayangan," ucap Embun sambil berusaha menahan tangisnya.
"Terima kasih banyak, Kak. Embun akan ingat semua nasehat dan ajaran Kak Wulan," tampak air matanya mengalir di sudut matanya.
.
.
.
Nun Jauh di tengah rimba persilatan tampak tiga orang wanita cantik yang memakai baju beda warna. Wanita yang pertama memakai baju berwarna merah. Wanita yang kedua memakai Baju berwarna Kuning. Wanita yang ketiga memakai baju berwarna hijau muda.
.
Mereka tampak mengebah kuda dengan kecepatan sedang, di punggung mereka tampak bersilang dua buah pedang berwarna putih. Wajah cantik ketiga wanita itu tampak tidak menyunggingkan senyum sedikit pun.
__ADS_1
Ketiga wanita cantik itu adalah Tiga Dewi dari Lembah Elang, Yang bergelar Tiga Elang. Wanita yang berbaju merah bergelar Elang Merah, wanita yang kedua bergelar Elang Kuning, dan wanita ketiga bergelar Elang hijau.
Elang Merah bernama asli Dewi Arau, Elang Kuning bernama asli Dewi Pingai dan Elang hijau bernama asli Dewi Aurora, Dari ketiga Dewi Elang, Dewi Aurora adalah yang paling cantik.
Mereka adalah murid Elang Hitam seorang tokoh silat yang tidak jelas golongannya, Ketiga gadis cantik itu sedang menuju sebuah tempat yang di tunjuk oleh Elang Hitam. Mereka di kirim untuk menemui beberapa tokoh silat golongan hitam yang sedang mengadakan pertemuan, ketiga gadis cantik itu mewakili sang guru Elang Hitam.
"Kak Arau, aku bingung dari penjelasan beberapa tokoh silat yang kita temui di warung tadi, mereka bilang guru kita adalah tokoh yang tidak jelas alirannya?" tanya Elang Kuning, sambil mendatari kuda yang di tunggangi Elang Merah.
"Ya, jujur saja sebenarnya aku juga bingung, kakek guru Datuk Balung, adalah penyelamat kita, jika beliau tidak menyelamatkan kita, sewaktu kita kecil dulu kita sudah tinggal nama kita tentu akan jadi makanan binatang buas di hutan," jawab Elang Merah.
Mereka memperlambat lari kuda, yang mereka tunggangi, Aurora tampak ikut mendatari kuda kedua Kakak-Kakak nya itu.
Arau, Pingai dan Aurora adalah tiga anak petani yang terlantar akibat kedua orang tuanya di bunuh oleh para perampok, ketiga gadis itu sempat di suruh lari oleh orang tuanya kedalam hutan, sehingga mereka tidak ikut terbunuh saat perampokan itu, namun mereka harus hidup di dalam hutan tanpa ada orang yang melindungi.
Nasib baik masih berpihak pada ketiga gadis kecil itu, mereka di selamatkan oleh Datuk Balung si Elang Hitam. Datuk Balung menyelamatkan ketiga gadis kecil itu dan mengangkatnya sebagai murid.
Saat itu Datuk Balung merasa kasihan dan tidak tega melihat anak-anak yang belum tau apa-apa harus kehilangan kasih sayang orang tuanya, akibat ketamakan para manusia yang tidak punya rasa prikemanusiaan.
Pertemuan para pendekar golongan hitam itu melibatkan bekas para perampok yang dulu membunuh kedua orang tua Ketiga Dewi Elang.
Mereka bertiga tampak berbagi rasa penasaran sambil mengebah kuda mereka secara pelan, namun tiba-tiba suara menggema yang mengejutkan mereka.
"He! Gadis-gadis cantik berhenti...!!"
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa like Koment Vote dan favorit.
__ADS_1
Terima kasih banyak.