Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara di Galauh Permata, munculnya Pendekar Srigala Putih


__ADS_3

Anggala yang menghubungi kakek gurunya,melalui telepati jarak jauh miliknya berhasil, Pertapa Naga dan Pendekar Naga Sakti terdahulu Lesmana.


Lesmana meminta bantuan para pendekar kelas atas golongan putih, di antara yang di hubunginya adalah Malaikat pemarah dan bidadari galak.


Perguruan Bambu kuning dari selatan, dan beberapa pendekar kelas atas golongan putih lainnya.


Sementara itu di Galuh Permata, Panglima Kerajaan Galuh Permata ki Guntur Setra, mempersiapkan para prajurit dengan berlatih secara ketat.


Senopati Arya Geni melatih pasukan khusus sebanyak lima ratus orang, yang akan di kirim ke perbatasan.


Sri Kemuning juga membantu sang Senopati drngan selalu mendampinginya.


Arya Geni dan Sri kemuning adalah saudara seperguruan dari Satria Pedang terbang ki Rimba Buana


Arya Geni pun telah mengirim surat melalui merpati pos kepada sang guru ki Rimba Buana.


Beberapa hari telah berlalu.


Sementara itu jauh di dekat perbatasan seorang pemuda dengan baju putih berkelebat di antara pepohonan hutan antara dua desa di daerah perbatasan.

__ADS_1


Ia melompat dengan sangat cepat sehingga jika dilihat dengan mata telanjang, hanya bayangan putih yang ber gerak sangat cepat bagai kilat di siang hari.


Begitu mendekati sebuah desa pemuda itu memperlambat larinya, dan ia pun berjalan memasuki desa, tampak di punggungnya tersalip sebuah pedang, yang gagangnya berukir sebuah kepala srigala berwarna putih.


Pendekar muda itu berjalan dengan santai di tengah masyarakat yang hilir mudik beraktivitas, pendekar muda itu memasuki sebuah warung makan, ia berniat mau makan siang.


Tanpa sengaja menabrak seorang gadis yang berdiri dekat pintu masuk.


Buk..!"


"Aaww...!"


Gadis itu terdorong ke depan sehingga piring di tangannya jatuh, sehingga makanan di dalam piring itu tertumpah ke lantai.


"Maap..! Maapkan saya, saya akan menggantinya.. kamu tidak apa apa kan..?!" jawab pemuda itu sambil bertatanya bibirnya tersenyum, gadis terbelalak melihat yang menabraknya seorang pemuda tampan berbaju putih.


"Eh... Iya tidak apa apa ..!" jawab gadis itu.


"Mari di sana ada meja yang kosong..," ujar pemuda itu menunjuk ke sudut warung terdapat meja yang belum ada penghuninya.

__ADS_1


"Iya... !" jawab si gadis, gadis itu juga bukan orang biasa tampak di penampilannya yang ringkas, di pinģgangnya tersalip sebuah pedang yang gagangnya berbentuk kepala merpati berwarna putih keperakan.


Mereka memesan makanan.


"Ayo silahkan, saya juga mau makan,karna saya sudah kelaparan...!" ujar pemuda itu.


"Ya... silahkan saya juga sudah lapar, makanya tadi ambil makanan sendiri, pemilik warungnya terlalu sibuk..!" ujar gadis itu tak kalah jujur di banding pemuda di depannya.


"Silahkan..!" ujar pemuda itu sambil mengambil nasi yang telah di sediakan pemilik warung, mereka pun makan bersama, tanpa saling kenal, dan tanpa saling berbicara.


Setelah selesai makan barulah pemuda itu memulai percakapan dengan memberanikan diri memperkenalkan diri pada gadis cantik berbaju merah jambu di depannya itu.


"Saya Jaka.. Jaka kelana.. dari Bukit Kancah..! Kamu siapa...?" pemuda itu memperkenalkan diri, dan bertanya pada gadis di depannya.


"Saya Aruni.. dari perguruan Bambu Kuning...!" jawab gadis itu sambil tersenyum, tampak lesung pipitnya menambah manis senyumannya.


"Aruni mau kemana, tampaknya sedang mengadakan perjalanan..?" tanya Jaka Kelana sambil memandang wajah cantik di depannya.


"Saya mau ke Kerajaan Mandalika..!" jawab Aruni, sambil menoleh ke arah Jaka Kelana, tak sengaja mereka bertemu pandang, mereka tersipu malu, mereka berpura pura melihat ke arah lain.

__ADS_1


"Kebetulan saya juga mau kesana..!" ujar Jaka Kelana si Pendekar Srigala Putih.


"Kita bisa berangkat bersama menuju Mandalika..!" tambah Jaka kelana sambil memandangi wajah cantik Aruni Pendekar Merpati Putih, putri bungsu ki Gading Mageli itu.


__ADS_2