Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Jatuhnya Trisula Kembar


__ADS_3

Panasnya cahaya matahari menjelang sore tidak di pedulikan oleh anggota Kelompok Topeng Hitam itu. Begitu mendapat perintah dari Tuja si Manusia Batu mereka berlompatan menyerang ke arah penduduk desa Talang Kuda dan kedua pendekar golongan putih itu.


.


Pendekar Naga Sakti dan Wulan Ayu si Bidadari Pencabut lansung melesat menyongsong musuh-musuh mereka, pertarungan pun tidak terhindarkan lagi, orang orang kampung yang berjaga di rumah Ki Sarwala itu pun ikut terlibat.


.


Tuja lansung melesat ke arah Wulan Ayu, sepasang trisula di tangannya, lansung mencerca ke arah titik mematikan di tubuh Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Namun dengan gesitnya Bidadari cantik dari barat itu menghindari serangan trisula kembar di tangan Manusia Batu itu.


Sarja pun terlibat pertarungan dengan salah seorang mantan temannya, trisula panjang setengah hasta itu meliuk-liuk menangkis serangan golok musuh yang mencerca ke arahnya.


.


Anggala si Pendekar Naga Sakti itu melesat cepat ke arah beberapa orang Anggota Kelompok Topeng Hitam itu, dengan 'Jurus Langkah Malaikat'.nya ia bergerak dengan gesitnya menghindari setiap serangan yang mengarah padanya.


.


Bahkan dengan begitu cepat Pendekar Naga Sakti dapat memberikan serangan balasan ke arah anggota Kelompok Topeng Hitam yang mengeroyoknya. Di tambah dengan ' Jurus Sembilan Matahari Cakar Elang'. Pendekar Naga Sakti menghajar musuh musuhnya, tidak butuh waktu lama, beberapa orang Anggota Kelompok Topeng Hitam yang mengeroyoknya bermentalan ke tanah.


.


Melihat anak buahnya berjatuhan Ki Dukun melesat ke arah Pendekar Naga Sakti itu.Tongkat berkepala tengkorak berwarna merah itu menderu ke arah Pendekar Naga Sakti.


Wut....!


Wut....!


"Hiaaa....!"


Pendekar Naga Sakti melentingkan tubuhnya ke udara menghindari tongkat di tangan Ki Dukun itu. Dengan cepatnya Ki Dukun mengubah arah serangannya, sehingga lagi-lagi Pendekar Naga Sakti terpaksa berjumpalitan di udara menghindari serangan itu.


"Heaa...!"


Tap..!


Kali ini Pendekar Naga Sakti tidak menghindari tongkat Ki Dukun itu. Dengan Jurus Tinju Halilintar'.nya di tapaki nya Serangan Ki Dukun itu.


.


Ki Dukun terjajar dua langkah ke belakang, kedua tangannya terasa bergetar cukup keras karna beradu tenaga dalam dengan Pendekar Naga Sakti itu


"He he he...! Hebat juga tenaga dalam mu anak muda! Benarkah Kau murid si Lesmana Pendekar Naga Sakti itu?" Tanya Ki Dukun sambil tertawa terkekeh, di tancapkannya tongkat berkepala tengkorak berwarna merah itu di tanah, ia merapatkan kedua tangannya di depan dada.


.


"Aku murid satu satunya paman Lesmana!" Jawab Anggala dengan suara lantang. Di tingkatkannya tenaga dalamnya, ke level yang lebih tinggi. Ia bersiap dengan 'Jurus Tinju Halilintar'. tingkat tiga.

__ADS_1


.


"Ajian Iblis Angkara'...! Hiaaa....!"


Jerit melengking keluar dari mulut Ki Dukun itu. Maka seketika dari tubuhnya keluar sinar merah membentuk tubuh raksasa, menjelma membentuk iblis raksasa memegang tongkat berwarna merah.


Woss....! Wosss....!


Wusss....!


"Hiaaa....!"


Pendekar Naga Sakti mendorong kan tinjunya ke depan cahaya putih bersinar membentuk kilat menyongsong cahaya merah berbentuk tubuh raksasa berwajah iblis itu, ledakan besar tidak terhindarkan ketika dua pukulan tingkat tinggi itu beradu.


Blaaar.....!"


Debu-debu berhamburan dengan tanah pun ikut menyembur ke udara.


Pendekar Naga Sakti terdorong ke belakang beberapa langkah, dengan memegangi dadanya. Pendekar Naga Sakti segera mengalirkan hawa murni ke tubuhnya untuk menstabilkan tekanan darah dan mengatur napasnya yang terasa sesak.


.


Sedangkan Ki Dukun terpental ke tanah dan jatuh bergulingan, ia cepat cepat bangkit dengan memegangi dada, darah segar menyembur dari mulutnya pertanda ia mengalami luka dalam yang cukup parah. Ki Dukun segera bersemedi untuk mengobati luka dalamnya.


Tampak tidak jauh di depannya. lobang membentuk kawah kecil akibat benturan tenaga dalam mereka tadi.


Sementara itu Bidadari Pencabut Nyawa yang berhadapan langsung dengan Tuja Manusia Batu terlibat pertarungan sengit. Mereka tampak telah cukup jauh masuk ke dalam hutan.


Dengan Pengerahan 'Jurus Bidadari Kayangan'. Wulan Ayu dapat mengimbangi serangan Tuja itu, dengan kipas elang peraknya. ia memapaki sepasang trisula di tangan Tuja Manusia Batu itu.


"Hiaaa...!"


Trang...!


Ujung trisula di tangan Tuja beradu dengan daun kipas elang perak di tangan Wulan Ayu itu. Bunga api memercik di sekitar pertemuan dua senjata itu.


Tuja mengirimkan sebuah tendangan cepat bertenaga dalam tinggi. Dengan cepat si Bidadari dari barat itu melentingkan tubuhnya ke udara. Sehingga serangan Tuja itu hanya mengenai angin kosong.


Dung...!


Sebuah tendangan balasan yang cukup cepat mengenai dada Tuja, dengan pengerahan 'Jurus Baju Besi Emas'. tingkat lima belas Wulan Ayu berhasil memukul mundur Tuja sejauh empat langkah ke belakang.


.


Tuja meningkat kan tenaga dalamnya kedua trisula di tangannya di selimuti cahaya merah kehitaman. Mata trisula itu berubah kehitaman pertanda senjata itu mengandung racun yang cukup mematikan.


"Hup...!"


Wulan Ayu alias Bidadari Pencabut Nyawa memasukkan kipas elang perak ke balik bajunya. Ia lansung menghunus pedang Elang Perak dari balik punggungnya. Cahaya putih keperakan menyilaukan mata keluar dari batang pedang itu.

__ADS_1


.


"Jurus Trisula Penghancur! Heaaa......!"


Jerit melengking keluar dari mulut Tuja si Manusia Batu itu, maka seketika tubuhnya melesat cepat menyerang ke arah Wulan Ayu atau Bidadari Pencabut Nyawa. Dengan begitu cepat si Bidadari dari barat itu menegoskan tubuhnya ke udara. Sehingga kedua mata trisula Tuja itu hanya lewat sekitar satu hasta di bawahnya.


.


Tubuh Bidadari Pencabut Nyawa itu melayang ke udara. Dengan Jurus Bidadari Kayangan tingkat lima ia melayang di udara. Seketika itu pula pedang Elang Perak di tangan Wulan Ayu itu hampir tidak terlihat, yang terlihat hanya bayangan pedang mengelilingi tubuhnya.


.


"Hiaaa.....!"


Tubuh Bidadari Pencabut Nyawa meluncur deras ke arah Tuja si Manusia Batu. Gerakannya hampir tidak terlihat mata telanjang.


Trang...! Trang....!


Crasss.....!


"Aaaakh.....!"


Dengan cukup cepat Tuja berhasil menangkis dua kali pedang Elang Perak itu, namun ' Jurus Pedang Kayangan'. tingkat lima itu memiliki kecepatan bak kilat menyambar, satu sabetan tak terlihat tepat mendarat di leher Tuja.


Jeritan terakhir tokoh Hitam itu terdengar sebelum tubuh besarnya jatuh ke tanah. Kedua tangannya memegangi lehernya, yang hampir separuh tersayat pedang di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Cring.....!"


Kedua trisula itu jatuh tertancap ke tanah. Di iringi dengan melarangnya nyawa sang pemilik kedua trisula itu.


Wulan Ayu si Bidadari Pencabut Nyawa menjejakkan kakinya di tanah, di sayapnya tubuh Tuja yang tertelungkup dengan kedua telapak tangan di leher. Darah segar mengalir membasahi tanah di sekitar tubuh Manusia Batu itu. Kekebalan yang selama ini jadi kebanggaannya, kini berakhir di ujung Pedang Pusaka Elang Perak Bidadari cantik, murid dua Pendekar Pemarah itu.


Sring...!


Wulan Ayu menyarungkan pedang Elang Perak ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.


Di pungutnya dua trisula milik Tuja itu, dan di letakkan di samping pemiliknya.


"Aku tidak benci orangnya, yang aku benci perbuatannya," Guman Wulan Ayu setengah berbisik.Ia pun berlalu meninggalkan tempat itu kembali ke dekat rumah Ki Sarwala itu.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa like, Koment dan favorit ya, Kalau bisa votenya buat dukung novel ini..


Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2