Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Misteri Istana Kematian. Pendekar Gila


__ADS_3

Udara siang yang begitu panas. Terik sinar matahari bagai membakar seluruh permukaan bumi. Tidak angin yang berhembus, burung-burung pun tidak ada yang berkicau. Angin seakan enggan bertiup ditengah teriknya mentari siang ini. Udara yang begitu panas bak tidak di rasakan oleh seorang laki-laki tua yang sedang menyusuri jalan setapak di tengah hutan.


Sebatang ranting pohon tampak di tepuk-tepukannya pada setiap batang pohon dan rerumputan yang di lewatinya. Sesekali ia meneguk arak dari guci di tangan kirinya. Laki-laki tua itu adalah kakek Deja Wantara. Di pandanginya sebuah bangunan besar bak istana yang cukup jauh di depannya.


Bangunan besar itu bak istana yang begitu megah. Namun tidak ada benteng yang mengelilinginya. Hanya pepohonan yang tumbuh tidak beraturan di bekas alun-alun depan bangunan tua itu.


Siap!


Tiba-tiba sebuah benda berukuran jempol tangan melesat cepat bagai kilat ke arah kakek Deja Wantara. Pendekar Gila langsung memutar tubuhnya dan mengibaskan ranting kayu di tangan kanannya.


Trak!


Benda hitam sebesar jempol tangan itu mental terkena sabetan ranting di tangan kakek Deja Wantara. Tapi ranting di tangan kakek Deja Wantara pun hancur jadi debu bagai terbakar. Kakek Deja Wantara melempar potongan ranting yang tinggal sekitar sebulan di dalam genggamannya.


"Kampret! Siapa yang bermain-main denganku, heh!" geram kakek Deja Wantara. Begitu orang tua itu melirik ke arah benda yang tertancap di batang pohon itu. Mata kakek Deja Wantara terbelalak lebar. Ternyata benda itu cukup panjang, panjangnya sekitar sejengkalan orang dewasa. Warna benda itu hitam di ujungnya terdapat garis berwarna merah. Kedua ujungnya berbentuk runcing. Tampak salah satu ujungnya tertancap cukup dalam di batang pohon.


"Partai Teratai Api...," desis kakek Deja Wantara pelan. Belum sempat orang tua itu melakukan sesuatu, dari balik semak hutan bermunculan orang-orang berbaju hitam. Di dada baju mereka terdapat gambar teratai berwarna merah api.


Orang-orang itu memakai gelang berjumlah tiga buah pada pergelangan tangan mereka. Pendekar Gila memutar tubuhnya, tampak orang-orang itu telah menampungnya. Jumlah mereka tidak kurang dari lima belas orang, di antara orang-orang itu hanya satu orang yang memakai gelang berjumlah lima buah.


"He he he...," kakek Deja Wantara terkekeh, berusaha menekan keterkejutannya.


"Kau sudah terlalu jauh ikut campur urusan ini, Ki Deja Wantara, kau sudah terlalu banyak menyusahkan Partai Teratai Api," kata orang yang memakai gelang lima buah itu.


Orang itu masih tampak muda, wajahnya cukup tampan. Namun sebenarnya ia sudah berumur lima puluh tahunan. Namun sorot matanya begitu tajam memancarkan kebengisan dan kekejaman. Bibirnya yang tipis tidak pernah menyunggingkan senyum.


"Kau tahu nama asliku? Siapa kau sebenarnya?" agak kaget kakek Deja Wantara, karena orang itu menyebut nama aslinya yang jarang di ketahui orang-orang.

__ADS_1


"Aku Parang Sraja, aku di tugaskan menghentikan setiap sepak terjangmu yang mengganggu rencana kami, Partai Teratai Api," tegas kata-kata orang itu memperkenalkan dirinya.


"Dari mana kau tau tentang aku?" tanya kakek Deja Wantara yang lebih di kenal dengan Pendekar Gila.


"Kau tidak perlu tau, dari mana aku mengetahui tentang dirimu, yang perlu kau tau, kau harus mati hari ini!" dingin sekali kata-kata Parang Praja itu.


"He he he....! Cobalah...," jawab Pendekar Gila malah tertawa terkekeh.


"Bersiaplah untuk mati, Ki Deja Wantara!"


Setelah berkata demikian. Parang Praja melambaikan tangannya, maka empat orang langsung melompat ke depan kakek Deja Wantara dan menghunus golok berwarna hitam di pinggang mereka. Di ujung gagang golok itu terdapat garis berwarna merah.


Begitu tangkas ke empat anak buah Parang Praja itu memamerkan kebolehan mereka bermain golok.


"He he he...!" kakek Deja Wantara malah terkekeh. Laki-laki tua itu malah seperti mendapat tontonan yang menarik, ia malah duduk di tanah dengan santainya. Kakek Deja Wantara malah meneguk arak dari dalam guci yang ia bawa. Namun sekali teguk saja, arak itu sudah habis.


"Huh! Kenapa aku tidak membawa yang baru tadi," gerutu kakek Deja Wantara. Sama sekali orang tua itu tidak mempedulikan sekelilingnya. Hal itu membuat orang-orang yang mengepungnya jadi meringis. Orang yang mereka kepung dengan senjata terhunus malah tenang tenang saja. Malah mengoceh sendiri dan mencakar tanah.


"Hiyaaa...!"


"Heaaa.....!"


Empat orang yang sudah memamerkan Jurus-jurus goloknya, langsung melompat menyerang kakek Deja Wantara. Empat buah golok berseliuran menghujam cepat mengurung orang tua itu. Namun sungguh sulit di percaya, ternyata Pendekar Gila malah meliuk-liukkan tubuhnya yang masih duduk di tanah.


Yang lebih mengherankan serangan golok keempat orang itu tidak mampu mendesak kakek Deja Wantara. Bahkan tidak satu pun dari keempat senjata mereka dapat menyentuh lawannya. Tentu saja keempat orang itu keheranan dan menjadi sangat penasaran.


"Serang semua...!!" teriak Parang Praja dengan lantang.

__ADS_1


Seketika orang-orang berbaju hitam yang lain segera berlompatan menyerang sambil menghunus golok di pinggang mereka. Pendekar Gila melentingkan diri ke udara, setelah bersalto dua kali di udara. Parang Praja tiba-tiba mengibaskan tangan ke arah kakek Deja Wantara.


Set!


Seketika itu terlihat sebuah benda hitam sepanjang satu jengkal orang dewasa melesat cepat bagai kilat berputar ke arah Pendekar Gila, benda itu seakan lenyap di telan putaran tubuh orang tua itu. Tiba-tiba benda itu meluncur kembali ke arah Parang Praja lebih cepat dari saat ia melemparkannya tadi.


"Keparat! Hup! Hiyaaa...!"


Parang Praja cepat melentingkan tubuh, sehingga senjatanya itu hanya lewat di bawah tubuhnya, dan tertancap di tanah hingga tenggelam cukup dalam. Setelah berputar di udara kakek Deja Wantara melesat dan mendarat di depan Parang Praja dengan begitu ringan.


Belum sempat orang tua berbaju putih kumal itu berbuat apa-apa. Orang-orang yang ada di belakangnya berlompatan ke arah belakangnya. Pendekar Gila cepat memutar tubuhnya sambil menghantamkan kedua tangannya ke depan.


Buak! Buak!


"Aaakh.......!"


Aaakh....!"


Dua kali terdengar jeritan kesakitan, dua orang berbaju hitam bergambar teratai berwarna merah api itu terlempar ke tanah, keduanya memggelepar dan bersimbah darah. Tampak leher keduanya terkoyak bagai tercakar cakar seekor harimau.


Kakek Deja Wantara memutar tubuhnya dengan begitu cepat kembali menghadap Parang Praja, sambil menggerakkan tangannya begitu cepat ke arah wajah orang yang memakai gelang lima buah itu.


"Hup!"


Buru-buru Parang Praja menarik tubuhnya kebelakang, sehingga cakar jemari tangan kakek Deja Wantara itu tidak mengenai Wajahnya. Belum sempat lawannya mengatur napas Pendekar tua itu telah kembali melesat menerjang, jemari tangannya meregang kaku membentuk cakar, siap mengoyak tubuh lawannya.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2