Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepasang Pendekar Dari Gunung Panyabungan


__ADS_3

Debu beterbangan di sekitar halaman warung Ki Banaja itu, begitu debu itu mulai hilang tertiup angin yang berhembus, Ki Sarajenta tidak terlihat lagi di sana, Ketua perguruan Tongkat Jati Hitam itu.


"Bangsat, kabur dedengkot golongan hitam itu," ujar Wulan Ayu, sambil memandang ke arah hutan di ujung Desa Lingkar Sari itu.


"Biarkan saja Dinda, ia sudah merasa kalah, kita harus mengubur mayat si botak itu," kata Pendekar Naga Sakti, sambil tersenyum pada Wulan Ayu.


Para murid Perguruan Tongkat Jati Hitam itu, melihat Ketuanya melarikan diri ke dalam hutan, mereka pun memilih ambil langkah seribu, tanpa mempedulikan mayat si Iblis botak Kajrengi.


Beberapa orang laki laki kampung Lingkar Sari datang dan memberikan bantuan untuk menguburkan mayat si Iblis Botak Kajrengi itu.


Anggala dan Wulan Ayu bersama ke empat Pendekar menyatakan setuju, dan berterima kasih kepada orang orang kampung yang mau mengubur mayat si Iblis Botak Kajrengi itu.


Anggala dan Wulan Ayu tampak mengobrol dengan Ki Banaja, sambil membantu orang tua itu memperbaiki dan merapikan meja yang rusak.


Setelah selesai Anggala dan teman temannya, kembali ke rumah Aki Kusnadi, di dalam perjalanan pulang mereka bertemu dengan dua orang Pendekar golongan putih.


Mereka adalah sepasang pendekar, yang laki laki Pendekar yang di kenal dengan Pendekar Cambuk Sakti, senjatanya Cambuk Sakti Tirta Kencana. dari Gunung Panyabungan di utara Pulau Andalas, dan Istrinya seorang wanita cantik bergelar Bidadari Gendeng, dari pulau jawa.


Bidadari Gendeng adalah seorang Pendekar wanita petualang yang terkenal kesaktiannya.


Mereka di ajak Wulan Ayu singgah ke rumah Aki Kusnadi. Untuk istirahat di sana.


Mereka saling berbagi cerita, sambil beristirahat dan makan di rumah Aki Kusnadi itu.


Mereka saling bercerita sampai larut malam.


"Maaf sebelumnya, saya mendengar cerita orang orang,Wulan Ayu si Bidadari Pencabut Nyawa, adalah Seorang Putri di sebuah Kerajaan?" tanya Bidadari Gendeng.

__ADS_1


"Ya, kak Saya memang seorang Putri, namun saya tetap lah seorang Pendekar yang berpetualang di dunia persilatan, yang di takdirkan membela Rakyat yang lemah," jawab Wulan Ayu, sambil menuangkan secangkir air minum.


"Jadi dik Wulan tidak berniat kembali, dan menjadi seorang Putri di istana?" tanya Bidadari Gendeng atau Pandan Suri, sambil tersenyum pada Wulan Ayu.


"Untuk saat ini belum Kak Pandan, Saya masih betah berpetualang, apalagi Saya baru turun Gunung!" jawab Wulan Ayu.


Sementara itu Pendekar Cambuk Sakti tampak masih mengobrol dengan Anggala dan pendekar yang lain, tampak Ki Kusnadi juga ikut bergabung dalam obrolan itu.


Hampir dekat pagi mereka baru tidur, karna asyik mengobrol dan berbagi cerita, apalagi Ki Kusnadi ikut mengobrol, obrolan mereka tambah seru.


Matahari telah terbit di sebelah timur, dan telah berada beberapa tombak ke atas, rumah Ki Kusnadi masih tampak sepi para penghuninya masih pada tertidur.


Suasana kampung yang tampak tenang, tiba tiba berubah menjadi kacau karna serombongan besar orang orang Partai Lembah Kematian, datang menyerbu, mereka datang bagaikan prajurit yang siap berperang, jumlah mereka tidak kurang dari lima ratus orang.


Ki Banaja berlari ke rumah Aki Kusnadi, ia lansung menggedor pintu rumah aki Kusnadi.


Aki Kusnadi tergopoh gopoh berjalan ke arah pintu rumahnya, dan membuka pintu.


"Ada apa Ki Banaja?" tanya orang tua setengah baya itu, sambil menguap matanya masih mengantuk.


"Gawat Ki...! Gawat...!" ujar Ki Banaja itu, sambil terengah engah, ia berusaha mengatur napasnya, agar lebih tenang.


"Kampung kita Ki, di serbu orang orang Partai Lembah Kematian lagi! Kali ini mereka sangat banyak!" kata Ki Banaja setelah ia berhasil mengatur napasnya.


Anggala dan Wulan Ayu yang juga baru terbangun, mendengar kedatangan Ki Banaja itu, buru buru mencuci muka, tanpa sempat mandi, mereka lansung melesat ke arah Orang orang Partai Lembah Kematian, yang lagi mengumpulkan orang orang Desa Lingkar Sari.


"Cepat katakan di mana para pendekar itu bersembunyi..!" bentak salah seorang dari Anggota Partai Lembah Kematian itu, orang itu berbaju merah hati, dan bercelana hitam, tampak di punggungnya sebuah kapak besar.

__ADS_1


"Mereka di rumah Ki Kusnadi, di ujung Desa, Kisanak.." jawab salah seorang penduduk yang tampak ketakutan itu.


"Cepat antarkan kami kesana, atau kalian semua kami bunuh! Hah...?" Bentak orang berbaju merah hati itu.


"Tidak usah di antar, kami sudah di sini Kisanak!" tiba tiba Anggala dan Pendekar Cambuk Sakti telah berada di sana.


"Ha ha ha....! Akhirnya Kau muncul juga Pendekar Naga Sakti! Mana Bidadari Pencabut Nyawa itu, sekalian datang kesini untuk membayar hutang kepada kedua adikku yang dia kalahkan..!" Sesumbar orang itu, ternyata ia adalah pemimpin rombongan orang orang Partai Lembah Kematian itu.


"Sebentar lagi dia juga datang Kisanak!" jawab Pendekar Naga Sakti, sengit.


Para angota Partai Lembah Kematian itu, tanpa di perintah lansung mengepung Anggala dan Simbar Buana alias Pendekar Cambuk Sakti.


Simbar Buana atau Pendekar Cambuk Sakti, tersenyum menatap ke arah Musuh musuh yang mengepung mereka.


"Pendekar Naga Sakti, tampaknya ada yang mengajak kita melemaskan otot otot kita, pagi ini.!" Ujar Pendekar Cambuk Sakti atau Simbar Buana itu,


dengan logat khas orang orang daerah Panyabungan.


"Ya Kak! Simbar, mereka tampaknya ingin mengajak kita bermain main..!" jawab Anggala mengikuti logat Simbar Buana, sambil tertawa kecil.


"Bah...! Kau jadi ikut ikutan logatku, Anggala!" ujar Simbar Buana, sambil tertawa.


"Bangsat.....!" Kalian tidak menghiraukan Aku, Aku Si Kapak Iblis akan menghancurkan kepala kalian hari ini.! Seraang......!" perintah Si Kapak Iblis pada Anggotanya, tanpa menunggu lagi mereka lansung berlompatan menyerang ke arah Anggala dan Simbar Buana, dengan pedang di tangan.


"Heaaa.....!"


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2