
Sementara itu Wulan Ayu yang di keroyok oleh Merak Sati dan kakak seperguruannya, salah satu dari Tiga Iblis Botak dari goa Tengkorak masih terlibat pertarungan sengit.
Ledakan menggema yang mengguncang puncak gunung kerinci membuat pertarungan mereka yang berjarak cukup jauh di dataran di bawah tempat Anggala dan kedua pembesar Partai Teratai Hitam itu terhenti sejenak. Namun kemudian mereka kembali saling berhadapan.
Di bantu salah satu Iblis Botak, Merak Sati tampak berada di atas angin. Namun sejauh ini Wulan Ayu belum mengeluarkan ilmu 'Pedang Kayamgan'. tingkat tinggi yang di milikinya.
Ledakan keras yang membuat puncak Gunung Kerinci bergetar dahsyat tadi membuat puluhan orang-orang Partai Teratai Hitam yang mempunyai kempuan di bawah rata-rata pendekar yang ada di tempat itu tampak terpental lintang pukang.
Anggota Partai Teratai Hitam yang mempunyai tenaga dalam di bawah empat puluh persen banyak yang mengalami luka dan terpental akibat hempasan angin kencang yang bergelombang ke segala arah.
"Shaaa....!" Barja membentak nyaring sampil menyabetkan golok besarnya ke arah Wulan Ayu, namun Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu dengan begitu tangkas menangkis serangan salah satu dari Tiga Iblis Botak itu.
Trang! Trang!
Walau Barja begitu cepat merubah arah ujung goloknya, tapi Wulan Ayu dengan begitu gesit kembali menangkis serangan Barja itu.
"Hiyaaa....!"
Set! Wut!
Trang! Trang!
"Shaaa....!!"
Merak Sati yang bergerak cepat menyerang Wulan Ayu menyusul setengah Barja, Kilatan gerakan pedang yang bergerak bagai bayangan dan suara dentingan pedang beradu terdengar susul menyusul. Namun walau mengadakan serangan kombinasi mereka, Merak Sati dan Barja belum juga berhasil mendesak Wulan Ayu sesuai keinginan mereka.
"Hup!"
Merak Sati melompat menjauh sekitar tiga tombak kebelakang. Gadis cantik berpakaian serba merah itu terlihat meningkatkan tenaga dalamnya dan bersiap menggunakan jurus pedang tingkat tinggi yang di milikinya.
"Jurus 'Pedang Tengkorak Kematian! Hiyaaa....!"
__ADS_1
Merak Sati mensejajarkan pedang di tanganya di depan dada dengan ujung pedang lurus di depan hidungnya. Cahaya merah menyala terlihat menyelimuti pedang di tangan Bidadari Pencabut Nyawa palsu itu.
"Adik Sati, kau menggunakan jurus 'Pedang Tengkorak Kematian'. Jangan terlalu lama, kau bisa kehabisan tenaga!" ujar Barja memperingatkan.
Memang Merak Sati pernah terluka dalam parah saat mempelajari jurus 'Pedang Tengkorak Kematian'. saat di goa Tengkorak. Jurus pedang itu bertabrakan dengan ilmu pedang yang di pelajari oleh Merak Sati dari ayahnya penguasa Lembah Kematian.
"Aku tau, Kak Barja. Tapi dengan jurus 'Pedang Tengkorak Kematian'. Aku akan me nghabisi gadis tengik itu!" tukas Merak Sati tanpa mengurangi konsentrasinya.
"Baiklah, Aku akan membantumu, Adik!" kata Barja seraya meningkatkan tenaga dalamnya dan mempersiapkan jurus 'Pedang Tengkorak Kematian'. Tingkat Tiga. Pedang Tengkorak Penghancur Sukma'.
"Hmm....! Melihat gelagatnya kedua orang ini telah mempersiapkan jurus pedang andalan mereka untuk mengalahkanku. Aku tidak boleh tinggal diam, aku harus menggunakan jurus 'Pedang Kayangan'. tingkat tujuh. Pedang Bidadari Membelah Awan'." Wulan Ayu membatin.
Bidadari Pencabut Nyawa segera meningkatkan tenaga dalamnya dan menyilangkan pedang Elang Perak di depan dada. Cahaya putih kebiruan terlihat mulai menyelimuti batang pedang Elang Perak.
"Aku harus mengantisipasi adu kekuatan ini, aku harus menggunakan ilmu 'Baju Besi Emas'. yang di berikan kak Anggala," gumam Wulan Ayu seakan berbisik pada dirinya sendiri.
Wulan Ayu pun mengerahkan ilmu 'Baju Besi Emas'. tingkat lima belas, baru tingkat lima belaslah yang baru di kuasinya. Mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh yang mempunyai dendam dan berilmu tinggi adalah yang terbaik saat ini.
Sehingga dendam Merak Sati begitu besar pada Wulan Ayu. Merak Sati berniat menghabisi Wulan Ayu terlebih dahulu baru melanjutkan dendamnya pada Pendekar Naga Sakti.
Wulan Ayu tampak mulai di selimuti cahaya putih kebiruan yang berasal dari pedang di tangannya. Perlahan tubuh Bidadari Pencabut Nyawa itu mengambang ke udara sekitar dua tombak dari tanah.
"Hiyaaa.....!!" Merak Sati membentak nyaring sambil menarik pedangnya ke samping kanan kemudian tangan kanannya bergerak tegak di atas kepala. Cahaya merah yang menyelubungi pedang Merak Sati mulai membesar dan membentuk tengkorak berwarna hitam di selubungi cahaya merah api.
"Hiyaaaa.....!" sekali lagi Merak Sati berteriak nyaring sambil mengayunkan pedangnya.
Wusss....!
Swoss! Swoss....!!
"Hiyaaaa....!!" Barja pun membentak nyaring sambil mengibarkan pedangnya, sebuah cahaya merah kekuningan membentuk pedang raksasa menyilang meluncur deras menyusul cahaya merah menyelingi tengkorak berwarna hitam dari pedang Merak Sati yang lebih dulu meluncur ke arah Wulan Ayu.
__ADS_1
Wulan Ayu yang membentang tangan di sisi kanan dan kiri, menarik perlahan kedua tangannya ke tengah dan kemudian memegang gagang pedang Elang Perak dengan kedua tangannya.
Cahaya biru keputihan yang menyelubungi pedang Elang Perak itu kini telah menyelimuti tubuh pemiliknya.
Wuss!! Swoss!
Begitu cahaya merah menyelubungi cahaya hitam membentuk tengkorak itu sudah cukup dekat dengannya. Barulah Wulan Ayu mengayunkan pedang Elang Perak yang di selubungi cahaya biru keputihan itu ke arah depan.
Woss! Wuss!
Blaaammm.........!!!"
Ledakan besar mengguncang tempat itu, tanah terasa bergetar dan angin kencang di sertai asap hitam bercampur api menekan ke segala penjuru. Debu dan tanah terlihat menyembur ke udara menutupi pandangan mata orang-orang yang sempat melihat pertarungan itu.
"Aaaaa.....!!!" Merak Sati dan Barja terdengar menjerit nyaring di iringi tubuh mereka terpental ke arah belakang dan jatuh lintang pukang di tanah. Tubuh Barja tampak mengeluarkan asap tipis berwarna kehitaman. Kakak seperguruan Merak Sati itu terlihat sudah tidak bergerak lagi, ia tewas dalam keadaan tubuh gosong bagai terbakar.
"Kak Barja.... Akgh....!" Merak Sati terlihat beringsut lemah dan perlahan, wajah cantik gadis itu terlihat hitam dengan rambut acak-acakan, darah berwarna merah kehitaman terlihat mengalir dari mulutnya.
Setelah beringsut beberapa saat Merak Sati terlihat berusaha menggapai Barja. Namun tidak lama kemudian tangan Merak Sati jatuh terkulai ke tanah.
Sedangkan Wulan Ayu tampak jatuh berlutut sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Sang Bidadari Pencabut Nyawa memang terdorong cukup jauh, tidak kurang dari tujuh tombak. namun karena ia memakai ilmu 'Baju Besi Emas'. tingkat lima belas, sehingga gadis cantik berpakaian serba biru itu hanya mengalami luka dalam yang tidak begitu parah.
"Uhuakh...!" Wulan Ayu sempat membatukkan darah dari mulutnya, ia cepat mengambil posisi bersemedi untuk mengobati luka dalam yang ia derita.
"Sungguh ilmu yang cukup berbahaya, jika aku tidak memgerahkan jurus 'Pedang Kayangan' . tingkat tujuh dan ilmu Baju Besi Emas'. Bisa-bisa aku juga tewas," gumam Wulan Ayu dalam hati.
.
.
Bersambung....
__ADS_1