
"Heaaa..!"
Bagai kilat Galak Sati meluncur ke arah Simbar Buana, Pedang Sanca Kematian di tangannya bergerak menikam ke arah tubuh Pendekar Cambuk Sakti itu.
Simbar Buana menegoskan tubuh nya ke udara, sehingga tikaman pedang Galak Sati hanya mengenai udara di bawahnya, secepat kilat Simbar Buana mengeluarkan cambuk sakti nya, dan ia lansung mengayunkan Cambuk nya ke arah Galak Sati yang berada di bawahnya.
"Heh.!"
Galak Sati terpaksa menyorongkan tubuhnya ke belakang menghindari ujung cambuk Sakti dalam genggaman Simbar Buana itu.
Crang...!
Ujung cambuk sakti tirta kencana itu mengenai badan Pedang Sanca Kematian di tangan Setan Merah itu, sehingga bunga api memercik di sekitar pertemuan dua senjata itu.
Cambuk di tangan Simbar Buana itu, melesat seperti ular yang lagi mengincar mangsa nya, menarik ke sana kemari, Galak Sati terpaksa terus berjumpalitan mundur menghindari ujung cambuk tirta kencana di tangan Simbar Buana itu
Ctar.! Ctar...!
Setiap kali ujung cambuk tirta kencana mengenai sesuatu, selalu terjadi ledakan yang memekakkan telinga, Galak Sati terus menerus di desak mundur oleh cambuk di tangan Simbar Buana itu, lantai panggung dari papan jati itu sudah tidak karuan lagi, keadaan panggung itu sudah porak poranda di hantam cambuk sakti itu.
Iblis Kematian Rambut Putih memperhatikan jalan pertarungan putranya itu dengan mata hampir tidak berkedip, sedangkan napas nya terkadang tertahan apalagi melihat sang putra terdesak di hadapan lawannya itu.
Swing.!
Set.!
Galak Sati mengebutkan pedangnya si sekitar tubuhnya, menghalau serangan cambuk tirta kencana yang mencerca ke arah nya, dengan sedikit tambahan tenaga dalam nya, ia merapal Jurus Pedang Iblis Neraka'. sehingga mata pedang itu berubah merah kehitaman.
__ADS_1
Melihat musuhnya menyiapkan jurus andalan, Simbar Buana pun tidak mau kalah, ia pun mengalirkan tenaga dalam nya ke arah Cambuk Tirta Kencana, sehingga cambuk itu di selubungi cahaya kuning kemerahan, di padukan dengan 'Jurus Cambuk Penghancur Gunung'.
"Hiaaa..!!"
Swoss.! Swoss.!
Simbar Buana memutar cambuk sakti itu di samping tubuhnya, sehingga membentuk seperti baling baling yang berputar, udara di sekitar tempat itu mulai terasa panas, karna angin cambuk itu memecah dan membakar udara di sekitar nya.
Galak Sati memutar mutar pedang besar berkelok tujuh itu di atas kepala nya, sehingga pedang itu di selubungi api berwarna merah kehitaman.
Galak Sati melesat dengan pedang Sanca Kematian di depan dada, pedang itu bergerak begitu cepat, sehingga yang terlihat, hanya bayangan pedang menusuk begitu banyak dan menikam ke arah Simbar Buana.
Simbar Buana pun menyongsong dengan mata cambuk tirta kencana di depan cambuk itu meliuk liuk seperti ular yang siap menerkam mangsa nya, kecepatan lesatan ujung cambuk itu tidak bisa di lihat dengan mata biasa, hanya orang orang yang berilmu tinggi bisa melihat bentuk cambuk tirta kencana yang asli.
Ctar! Ctar.!
Swoss! Swoss!
Blaaar....!!
Simbar Buana terlempar ke belakang sekitar empat tombak, ia jatuh bergulingan di tanah dan hampir menabrak meja kayu tempat para pendekar golongan putih itu duduk.
"Kak Simbar.!!" pekik Bidadari Gendeng, sambil melesat ke arah sang suami yang jatuh bergulingan, Simbar Buana cepat melompat bangun, walau ia memegangi dada nya, tampak di sela sela bibirnya menetes darah segar, pertanda ia mengalami luka dalam yang cukup serius.
Bidadari Gendeng atau Pandan Suri cepat memapah Pendekar Cambuk Sakti itu ke belakang panggung kayu itu
"Kakak tidak apa apa?" tanya Pandan Suri, tampak cemas di sekanya darah di pinggir bibir Simbar Buana, dengan lengan bajunya, cambuk sakti tirta kencana masih tergenggam di tangan tokoh silat dari Gunung Panyabungan itu.
__ADS_1
Sementara itu, Galak Sati yang terlempar jauh dan jatuh ke atas atap bangunan di belakangnya. Merak Sati dan Iblis Kematian Rambut Putih melesat meninggalkan tempat duduknya menuju tempat Galak Sati jatuh, namun mereka sudah terlambat.
Galak Sati telah pergi untuk selamanya, dengan tubuh hangus kehitaman, seperti terbakar, pedang Sanca Kematian di tangan Setan Merah itu hancur separuh, tinggal setengah nya saja, namun gagangnya masih tergenggam erat di tangan Galak Sati, atau Setan Rambut Putih itu.
Perlahan Iblis Kematian Rambut Putih, merangkul mayat sang putra yang mulai membiru, karna racun pedangnya sendiri, di usapnya wajah sang putra, sambil menunduk lesu.
Terdengar suara Wangsa alias Iblis Kematian Rambut Putih itu setengah berguman.
"Anakku selagi aku hidup, aku akan menbalaskan Kematian mu anakku," lirih Iblis Kematian Rambut Putih, bagaimana pun sadisnya tokoh Hitam Lembah Kematian itu, tetap saja ia seorang ayah yang sedih kehilangan sang putra.
"Kakak..!Hiks...!" terdengar sesegukan tangisan Merak Sati sambil menggoyang goyangkan tubuh sang Kakak, namun semua usahanya tidak akan membawakan hasil, nyawa Galak Sati telah terlanjur pergi.
"Bangsat Kau Simbar Buana! Nyawa harus di bayar nyawa!!" Tampak merah mata Iblis Kematian Rambut Putih, sambil memandang ke arah Simbar Buana, kemarahan ketua Partai Lembah Kematian itu hampir mencapai puncaknya.
"Kalian tidak akan keluar dari sini hidup hidup.!!" terdengar dingin kata kata Iblis Kematian Rambut Putih itu, dendam di hatinya begitu dalam sehingga ia tidak mempedulikan lagi keinginannya selama ini, untuk meresmikan Partai Lembah Kematian itu.
"Saka! Perintahkan orang orang kita untuk membantai semua orang orang golongan putih yang ada di Lembah Kematian ini! Agar dunia tau kekejaman Partai Lembah Kematian.!!" perintah Iblis Kematian Rambut Putih pada bawahan nya yaitu Iblis Tangan Kematian yang bernama asli Saka itu.
"Baik! Ketua semua perintah Ketua akan di laksanakan!" jawab Saka sambil menunduk di hadapan Iblis Kematian Rambut Putih dan Merak Sati. Setelah berkata Saka pun melesat ke arah rombongan anggota Partai Lembah Kematian dan para pendukungnya.
Saka berbisik pada beberapa orang petinggi Perguruan dan kelompok yang mendukung mereka, begitu mereka semua berdiri.
"Serang.....!!!"
Bersambung...
__ADS_1