
Banyak bacot. Kau...! Heaaa....!!" bentakan nyaring Si Mata Satu mengawali kedua tangannya mendorong kuat ke depan. Dua bola api itu menderu cepat kearah Pendekar Naga Sakti.
Kalajengking Merah pun melesat dari arah samping mencerca ke arah dada Pendekar Naga Sakti.
"Hiyaaa....!"
Pendekar Naga Sakti menegoskan tubuhnya ke udara menghindari serangan Si Mata Satu itu. Bola api merah menyala itu menghantam tanah tempat Pendekar Naga Sakti berdiri tadi.
Blaaam....!!
Tanah dan debu berhamburan ke udara. Tempat Pendekar Naga Sakti berdiri tadi berubah jadi kepulan debu. Begitu debu dan tanah itu hilang tampak lobang sebesar sumur menganga dua buah.
Kalajengking Merah yang tadi sempat berniat ikut menyerang Pendekar Naga Sakti, mengurungkan niatnya. Jika tidak mungkin ia yang akan terhantam pukulan Si Mata Satu itu.
"Tampaknya nama besar Pendekar Naga Sakti, bukan isapan jempol belaka. Dia berhasil menghindari pukulan andalan Si Mata Satu," guman Kalajengking Merah dalam hati.
Walau agak ragu Kalajengking Merah menyusulkan serangannya ke arah Pendekar Naga Sakti yang baru menjejak kaki di tanah.
"Hiaaa...!!
Dua jepitan Kalajengking berwarna merah kehitaman itu menderu cepat ke arah tubuh Pendekar Naga Sakti. Namun Pendekar Naga Sakti cepat menggeser tubuhnya sedikit ke samping sehingga serangan Kalajengking Merah itu hanya mengenai udara kosong.
"Hup!" Pendekar Naga Sakti bergerak cukup cepat. Kaki kanan Pendekar Naga Sakti menerjang ke arah pinggang Kalajengking Merah. Kalajengking Merah tidak sempat lagi berkelit, sehingga.
Buak...!! " Aakh...!! Kalajengking Merah melenguh tertahan ketika pinggangnya terhantam tendangan Pendekar Naga Sakti itu. Kalajengking Merah terhuyung ke arah kiri Pendekar Naga Sakti. Sebuah pukulan tangan kosong Pendekar Naga Sakti melesat cepat ke arah dada Kalajengking Merah.
Desss..!! "Aakh...!! Kalajengking Merah kali ini tidak mampu lagi menjaga keseimbangan tubuhnya. Kalajengking Merah harus terpental ke tanah dengan darah menyembur dari sela-sela bibirnya.
"Hiyaaa...!"
Si Mata Satu melesat dengan golok di tangannya. Melihat Kalajengking Merah terluka Si Mata Satu langsung merangsek dengan 'Jurus Golok Pencabut Nyawa'.
Wut! Wut! Suara golok di tangan Si Mata Satu mengaung memecah udara. Sabetan golok Si Mata Satu itu begitu cepat, sehingga golok di tangannya bagai bayangan.
"Hehe..! Si Mata Satu rupanya. Kau punya jurus golok yang cukup berbahaya," Ejek Pendekar Naga Sakti dengan senyum tipis menyungging. Tentu saja ejekan Pendekar Naga Sakti itu membuat emosi Si Mata Satu semakin tidak terkendali.
Serangan goloknya mulai tidak beraturan. Namun dengan 'Jurus Golok Pencabut Nyawa'. Si Mata Satu bergerak cukup cepat. Sebuah sambaran golok Si Mata Satu di biarkan oleh Pendekar Naga Sakti mengenai tubuhnya.
Trang! Mata Si Mata Satu terbelalak dan mulutnya menganga melihat golok di tangannya, tidak mampu melukai tubuh Pendekar Naga Sakti.
__ADS_1
Buak! Dada Si Mata Satu terhantam telapak tangan Pendekar Naga Sakti. Si Mata Satu terhuyung kebelakang dengan memegangi dada, dari sela-sela bibirnya menetes darah berwarna kehitaman pertanda ia mengalami luka dalam.
Melihat dua orang atasan mereka terluka anggota Perampok Singa Merah itu langsung melompat menyerang ke arah Pendekar Naga Sakti. Namun Pendekar Naga Sakti cepat melentingkan tubuhnya ke udara, sehingga serangan para perampok itu hanya mengenai angin.
Jlek!
Pendekar Naga Sakti menjejak kaki di tanah dengan begitu ringan, tidak begitu jauh dari rombongan Perampok Singa Merah tersebut. Tiga orang perampok yang berada di belakang Anggala mencoba membokong.
"Heaaa...!"
Anggala meliuk-liuk bagai orang menari menghindari setiap serangan golok para perampok itu. Tidak hanya mengelak Pendekar Naga Sakti cepat memberikan serangan balik, para perampok itu tidak sempat menghindar lagi, karena mereka tidak menduga kalau musuh begitu cepat menyerang balik.
Buak! Buak!
"Aaaa....!!"
Naas bagi para perampok itu tendangan dan pukulan Pendekar Naga Sakti yang mengandung tenaga dalam tinggi, tidak mampu di tahan tubuh mereka. Para perampok itu langsung tewas berkelonjotan di tanah.
"Hup!"
Pendekar Naga Hitam melihat anak buah Tiga Warok Singa Merah bergelimpangan langsung melompat ke arah Pendekar Naga Sakti dengan sebuah jurus cakar.
Desss..!!
Desss..!
Dua pasang telapak tangan membentuk cakar itu beradu di udara. Hempasan tenaga dalam dua pendekar itu membuat beberapa orang anggota Perampok Singa Merah bermentalan ke tanah.
Melihat dampak pukulan Anggala dan Fhatik itu begitu berbahaya, puluhan perampok yang tadi mengepung Anggala, segera menjauh.
"Hahaha...! Rupanya tenaga dalam yang Kau miliki cukup tinggi keponakan! Bagaimana kabar kanda Lesmana dan guru Pertapa Naga?" tanya Pendekar Naga Hitam begitu menjejak tanah.
"Paman Fhatik, Saya di tugaskan mengajak Paman kembali ke lembah naga, dan menjalani hukuman di sana," kata Pendekar Naga Sakti dengan sopan.
"Hahaha...!Rupanya orang tua peot itu mengirim seorang bayi untuk membawaku kembali ke Lembah Naga. Kenapa bukan dia sendiri yang mencariku? Hahaha...!" tawa Pendekar Naga Hitam menganggap remeh ke arah Pendekar Naga Sakti.
"Kakek guru tidak ingin mengotori tangannya untuk membawamu kembali ke Lembah Naga paman," balas Pendekar Naga Sakti walau pelan tapi nada suaranya mulai terdengar sedikit emosi.
"Hahaha..! Anak kemarin sore sudah berani menceramahiku, gurumu saja belum tentu mampu membawaku kembali ke Lembah Naga apalagi Kau, hahaha...!" tawa Pendekar Naga Hitam dengan terbahak-bahak.
__ADS_1
"Aku tidak ingin berlaku tidak sopan padamu paman Fhatik, tapi jika Paman memang memaksa, apa boleh buat," tantang Pendekar Naga Sakti sambil membuka jurus dasar Tapak Naga.
"Hahaha..! Kau ingin mencoba menjajaki ilmuku anak muda, akan ku layani, heaah...!"
Pendekar Naga Hitam melompat menerjang kearah Pendekar Naga Sakti dengan 'Jurus Cakar Naga'. Pertarungan dua Pendekar yang berasal dari Lembah Naga itu pun berlangsung.
Dua puluh jurus telah berlalu, tapi kedua pendekar itu belum ada yang berhasil mendesak satu sama lainnya.
"Heaaa...!"
Pendekar Naga Hitam mengembor marah, karena belum berhasil mendesak Pendekar Naga Sakti. Fhatik meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat yang lebih tinggi. Pendekar Naga Hitam bersiap dengan 'Jurus Dua Belas Cengkraman Naga'.
Telapak tangan Pendekar Naga Hitam membentuk cakaran sedikit mencengkeram. Wajah putih Fhatik tampak agak memerah menahan amarah. Melihat wajah musuhnya memerah Anggala hanya tersenyum tipis menyungging.
"Bagaimana Paman, kemampuan bayi ini?" ejek Pendekar Naga Sakti sambil bersiap dengan 'Jurus Sembilan Matahari Cakar Elang'. tingkat tujuh, Elang Surga Mengitari Awan'.
"Bangsat! Kau akan menyesal karna bertemu denganku begitu cepat, anak muda," jawab Pendekar Naga Hitam dengan begitu dingin.
"Sha...!!" Pendekar Naga Hitam melesat dengan dua tangan di depan dada. Suara gerakan tangan Pendekar Naga Hitam yang cukup cepat membuat suara mendengung memecah angin.
Wuk! Wuk! Cakaran Pendekar Naga Hitam mencerca ke arah leher dan dada Pendekar Naga Sakti. Anggala pun tidak tinggal diam dengan Jurus tingkat tinggi yang di rapalnya ia berhasil membuat Fhatik harus menarik mundur tangannya.
"Hiyaaa...!!"
Krek! Krek! Dua cakar bertenaga dalam tinggi itu saling beradu di udara. Hawa panas tenaga dalam yang di kerahkan dua pendekar itu mulai menyengat kulit bagi orang yang berada di dekat pertarungan itu.
Cukup lama dua orang pendekar itu saling menyerang dan saling menangkis serangan lawan. Namun belum juga ada yang keluar sebagai pemenangnya. Pendekar Naga Hitam melompat mundur sekitar dua tombak kebelakang.
Pendekar Naga Hitam mulai mempersiapkan Ajian kedikjayaan yang menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi.
"Jurus Cakar Naga Hitam Menghempas Bukit! Heaaa....!!!"
.
.
Bersambung....
Jangan lupa like Koment Vote dan favoritnya ya teman-teman. Terima kasih banyak.
__ADS_1