
"Hmm...! Rupanya kau masih hidup Pendekar Naga Sakti, ku akui kau cukup hebat," ujar Parang Praja muncul di antara orang-orang itu. Memang kali ini Parang Praja membawa jauh lebih banyak anggota Partai Teratai Api itu, daripada tempo hari saat ia di kalahkan Anggala.
"Kalau hanya racun seperti itu belum cukup untuk membunuhku. Kisanak," jawab Anggala tidak kalah dingin, namun sengit.
"Bagus, aku senang ada yang berhasil lolos dari istana kematian itu, tapi kali ini kau tidak akan lolos. Ha ha ha...," tawa Parang Praja terbahak-bahak. Memang kali ini Parang Praja membawa anggota tiga kali lipat dari sebelumnya. Pendekar Naga Sakti mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, ia baru menyadari, kalau mereka sudah tergepung orang-orang berbaju hitam dan bergambar teratai berwarna merah di dadanya, dari segala arah.
Sedangkan yang lainnya hanya memakai gelang berjumlah di bawah lima. Hanya Parang Praja yang memiliki gelang berjumlah lima buah. Berarti hanya Parang Praja yang memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara orang itu.
Anggala dan Sarsih kali ini memang sudah benar-benar tergepung, tidak ada tempat meloloskan diri lagi. Jumlah mereka begitu banyak tidak kurang dari seratus orang, itu merupakan jumlah kesatuan prajurit kerajaan.
Pendekar Naga Sakti hanya menghembuskan napas secara perlahan. Anggala memandang ke arah Sarsih, tapi gadis itu begitu tenang seakan tidak mempedulikan orang-orang yang mengepung mereka.
"Kau bisa menghadapi mereka, Sarsih?" tanya Anggala terhadap kemampuan gadis itu. Anggala pun tidak menggunakan ilmu 'Mata Malaikat'.nya yang bisa mengukur kepandaian kawan maupun lawan.
"Lihat saja nanti," jawab Sarsih begitu kalem.
"Kalau begitu bersiaplah, kita akan menggempur mereka. Hmm... Kita mulai dari depan, lalu menyeberangi sungai. Bagaimana Sarsih?"
"Yaahhh....Mau gimana lagi, tidak ada jalan lain," jawab Sarsih sambil mengangkat bahunya sedikit. Memang jalan satu-satunya adalah menyeberangi sungai agar bisa lolos dari kepungan Parang Praja dan anak buahnya itu.
"Hup! Ayo Kak Anggala! Hiyaaa...!"
Sembari mengajak Anggala Sarsih tiba-tiba melesat dan bersalto dua kali. Di sertai jeritan melengking. Melihat Sarsih bergarak anak buah Parang Praja langsung melompat menghadang gerakan gadis itu. Belum sempat mereka berhasil meraih tubuh Sarsih, Pendekar Naga Sakti telah melesat bagaikan kilat ke arah orang-orang yang memakai baju hitam bergambar teratai berwarna merah api di bagian dada itu.
__ADS_1
Buak! Buak!
Duak! Duak!
"Aaaa.......!!"
Entah berapa orang anggota Partai Teratai Api itu terpental ketanah dengan begitu cepat. Pukulan tangan dan kaki Anggala yang hampir tidak bisa mereka lihat, membuat mereka harus menerimanya dengan tidak rela. Beberapa orang langsung terpental ke dalam sungai dan menghilang.
Sedangkan Sarsih berputar di udara, kemudian menotok telapak kakinya di atas air dengan begitu ringan. Sarsih kemudian melentingkan diri dan mendarat di seberang sungai dengan begitu ringan.
Sementara itu Anggala harus menghadapi beberapa orang yang menyerangnya sebelum melompat menyeberang sungai. Kemudian dengan sekali lompatan saja Pendekar Naga Sakti telah sampai ke seberang sungai itu.
"Kejar mereka, jangan biarkan mereka lolos!" teriak Parang Praja dengan begitu keras. Anggota Partai Teratai Api itu langsung berlompatan berusaha menyeberangi sungai. Sungguh menakjubkan mereka bisa menyerang sungai, hanya dengan menapaki di atas tongkat dan golok mereka. Orang-orang berpakaian hitam itu meluncur deras menyeberangi sungai, hanya dengan memakai senjata yang biasa mereka pakai untuk senjata bertarung.
"Ayo Kak," ajak Sarsih.
"Aaaa......!" Jeritan-jeritan melengking terdengar susul menyusul. Orang-orang yang terkena lemparan batu itu, satu persatu mereka jatuh ke dalam air. Tindakan Pendekar Naga Sakti itu membuat orang-orang Partai Teratai Api itu terhambat melakukan pengejaran. Melihat orang-orang itu berjatuhan ke dalam air Sarsih jadi tertawa kesenangan. Gadis itu pun ikut memungut bebatuan, dengan pengerahan tenaga dalam. Sarsih melemparkan batu itu ke arah orang berpakaian hitam yang berusaha menyeberangi sungai.
Orang-orang berpakaian hitam di dadanya ada gambar bunga teratai berwarna merah itu satu- persatu berguguran kedalam sungai. Air sungai yang semula jernih berubah merah bercampur darah orang-orang berpakaian hitam itu.
Sarsih terus melempar batu sambil tertawa kesenangan. Anggala hanya tersenyum melihat tingkah putri kakek Deja Wantara tersebut. Pendekar Naga Sakti tidak lagi melempari batu.
"Mundur!" teriak pemimpin kelompok itu, yaitu Parang Praja dengan begitu keras. Orang-orang Partai Teratai Api itu segera berbalik arah. Baru sebentar saja hampir separuh anak buah Parang Praja itu mengambang di dalam sungai.
__ADS_1
'Ha ha ha....!" Ayo maju kalian, kalau berani!" tantang Sarsih lantang. Tampak di seberang sungai sana. Parang Praja menghentakkan-hentakan kakinya dengan kesal. Wajahnya memerah menahan amarah, sudah dua kali ia berhadapan dengan Pendekar Naga Sakti. Tapi selalu menderita kekalahan yang menyakitkan.
Ku bunuh kalian..! Ku bunuh kalian..!" teriak Parang Praja sambil mengacungkan kepalan tinjunya ke arah Anggala dan Sarsih. Amarahnya telah memuncak karena kekalahan yang begitu menyakitkan ini. Sedangkan Pendekar Naga Sakti hanya senyam senyum. Sedangkan Sarsih berteriak menantang mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Agar mereka menyeberangi sungai.
Pada saat itu Parang Praja melompat ke dalam sungai di ikuti anak buahnya yang masih hidup.
Sarsih menghentikan tawanya. Sedangkan Anggala menatap ke arah sungai dengan begitu tajam tanpa mengedip sedikit pun. Orang-orang Partai Teratai Api itu tidak muncul lagi, mereka seperti hilang di telan sungai kecil itu.
"Mereka tidak timbul, Kak Anggala," desis Sarsih setengah berbisik. Gadis itu pun memperhatikan sungai yang sudah berubah menjadi merah bak darah itu. Sedangkan Pendekar Naga Sakti tetap diam, namun otaknya berputar, berpikir.
"Kau tunggu di sini Sarsih," kata Anggala.
"He... Kau mau ke mana..?" tanya Sarsih tersentak. Namun Pendekar Naga Sakti tidak menjawab.
Kak..!" sentak Sarsih terkejut. Tiba-tiba Pendekar Naga Sakti menceburkan diri ke sungai. Sarsih terlihat kebingungan, ia berusaha mencari-cari Anggala. Namun tetap tidak terlihat. Setelah menceburkan diri ke sungai yang penuh dengan darah itu.
"Kak, Anggala!" teriak Sarsih memanggil. Tapi Anggala sudah tidak terlihat lagi. Gadis itu jadi cemas juga, di samping ia takut. Sarsih teringat ceritanya sendiri. Jangan pernah menginjakkan kaki di seberang sungai itu. Apalagi sampai ke lembah sana.
"Aku harus menyusul Kak Anggala," gumam Sarsih dalam hati.
"Hiyaaa....!" Byurr...!
Tanpa berpikir lagi Sarsih langsung menceburkan diri ke dalam sungai, mengikuti Anggala. Sebentar Sarsih menyembulkan kepala ke permukaan. Kemudian tidak timbul-timbul lagi. Sementara itu air sungai tetap mengalir membawa tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.
__ADS_1
.
Bersambung...