
Para prajurit pemberontak itu telah mengepung Anggala dan Wulan Ayu.
"Mau kemana kalian?" bentak kepala prajurit itu, anggotanya yang lain telah turun dari kuda, mengadakan barisan pengepungan.
" Kami mau ke kota Kerajaan Galuh, ada keperluan disana, ada apa ya, kisanak?" jawab Anggala santai, sambil balik bertanya.
"Kalian tidak boleh menuju ke sana,!" jawab kepala prajurit itu, dengan nada suara membentak.
" Maaf kisanak, kami tak terikat dengan siapa pun, jadi kami bisa pergi kemana yang kami mau!" jawab Anggala kalem, sedangkan Wulan Ayu tampak santai di atas kudanya, sambil menyungging senyum tipis ke arah para prajurit itu.
"Berarti kalian cari mampus.! Serang..!" perintah kepala prajurit itu, begitu di perintah para prajurit itu lansung meransek menyerang Anggala dan Wulan Ayu.
"Hup...!"
"Hiaaa...!"
Anggala dan Wulan Ayu melompat dan bersalto dari atas kuda menghindari serangan golok para prajurit itu.
Bet! Set!
"Hiaaa...!" begitu menginjak tanah Bidadari Pencabut Nyawa lansung berkelebat menapaki serangan para prajurit itu,
Trang!
Golok para prajurit itu membal begitu menghantam daun kipas elang perak itu. Bidadari Pencabut Nyawa dengan begitu cepat memberikan tendangan balasan kearah para prajurit itu.
Buakk!
"Aaakh...!" salah seorang prajurit yang terhantam tendangan Wulan Ayu langsung terpental dan memuntahkan darah segar. Melihat temannya terluka prajurit yang lain malah semakin marah, mereka langsung menyerang secara serentak.
"Heaaah...!" para prajurit itu menyabetkan dan menebaskan golok mereka secara bersamaan kearah kepala Bidadari Pencabut Nyawa. Namun dengan cepat Bidadari Pencabut Nyawa membentangkan kipas nya diatas kepala.
Trang!
"Hiyaaat...!" jerit melengking Bidadari Pencabut Nyawa begitu nyaring, kakinya bergerak cepat kearah tubuh para prajurit yang mengeroyoknya.
Duak!
Buak!
"Aaakh...!" tiga orang prajurit harus terpental ketanah terkena tendangan Bidadari Pencabut Nyawa. Prajurit yang terkena tendangan itu langsung tewas, tubuh mereka tidak sanggup bertahan dari tendangan bertenaga dalam tinggi itu.
__ADS_1
Para prajurit pemberontak itu bak tidak kenal takut, walau teman-teman mereka mulai berjatuhan dan tidak mampu bangun lagi, bahkan tewas. Mereka tetap menyerang kearah Bidadari Pencabut Nyawa.
Namun Bidadari Pencabut Nyawa juga tidak peduli kipas elang perak di tangannya berkelebat begitu cepat ke arah musuh-musuhnya itu.
Wuss...!
Set...!
"Aakh...!" prajurit yang terkena hantaman kipas elang perak terpental ke tanah. Gerakan Bidadari Pencabut Nyawa begitu gesit, kibasan kipas di tangannya begitu cepat, menyusul tendangan kakinya menghajar prajurit yang lain.
"Aaa...!" prajurit itu terhempas ke arah belakang, dan meregang nyawa, karena tulang rusuknya patah terkena tendangan bertenaga dalam Bidadari Pencabut Nyawa itu.
Cress!
"Aaakh..! salah seorang prajurit langsung meregang nyawa, karena ia tidak sempat menghindari ujung kipas elang perak yang mengeluarkan pisau kecil runcing itu menyambar lehernya. Prajurit itu langsung jatuh sambil memegangi lehernya yang mengucur darah.
Sementara itu Anggala juga tidak tinggal diam, dengan jurus dasar ilmu Tapak Naga. Pendekar Naga Sakti itu melesat menyongsong serangan para prajurit pemberontak itu.
"Hup...!"
"Hiaaa...!" Pendekar Naga Sakti melompat ke arah para prajurit pemberontak itu, Telapak tangannya yang terbuka bergerak cepat menapaki serangan golok para prajurit pemberontak yang menyerangnya, dengan jurus dasar 'Tapak Naga'. Pendekar Naga Sakti tidak mampu di halau oleh para prajurit pemberintak itu dengan goloknya. Ditambah dengan ilmu 'Baju Besi Tingkat Dua Belas'. Membuat tubuh Pendekar Naga Sakti tidak terluka terkena sabetan golok para prajurit itu.
Trang!
Duak! Buak!
"Aaaa...!" dua prajurit pemberontak itu langsung terpental ketanah dengan mulut menyemburkan darah segar. Begitu tubuh mereka menyentuh tanah, nyawa meraka pun melayamg, karena luka dalam yang begitu parah.
Set...!
Set....!
"Aakh....!" para prajurit pemberontak yang mengeroyok Pendekar Naga Sakti itu beterbangan bagai daun yang jatuh tertiup angin. Setiap gerakan telapak tangan Pendekar Naga Sakti itu, satu orang prajurit itu jatuh ketanah dan mengalami luka dalam yang cukup parah dan ada juga yang tewas.
Sedangkan yang mengeroyok Bidadari Pencabut Nyawa, satu persatu terlempar ketanah, terkena hantaman kipas elang perak di tangannya. Bidadari Pencabut Nyawa meliuk-liuk menghindari dan menangkis serangan golok para prajurit yang mengeroyoknya.
Begitu gesit dan tangkasnya Bidadari Pencabut Nyawa memberikan serangan balasan. Kibasan dan ayunan kipas elang perak ditangan hampir tidak dapat dibendung oleh para prajurit itu.
Tidak butuh waktu lama hanya dalam beberapa jurus, para prajurit itu telah berserakan ditanah dalam keadaan terluka.
Kini tinggal ketua regu prajurit itu yang masih segar bugar, ia masih duduk di atas kudanya.ia terpaku melihat anak buahnya berterbangan di hajar dua orang pendekar muda itu.
__ADS_1
"Bagaimana kisanak, masih mau menahan kami,!" tantang Bidadari Pencabut Nyawa itu sambil tersenyum tipis ke arah kepala prajurit pemberontak itu.
"Bangsat.! Kau harus di hukum..!" bentak pimpinan prajurit itu sambil menghunus golok di pinggangnya.
Sret!
"Hiaaa...!" kepala prajurit pemberontak itu melompat sambil membabatkan goloknya, ke arah Bidadari Pencabut Nyawa. Tentu saja Bidadari Pencabut Nyawa tidak tinggal diam, kipas elang perak di tangannya dengan begitu cepat dan tangkas menangkis serangan golok yang di arahkan ke kepalanya.
Trang...!
"Aakhh..!" kepala prajurit itu terjajar mundur beberapa tombak ke belakang, tangannya bergetar karena adu tenaga tadi, Tenaga dalamnya jauh dibawah tenaga dalam Bidadari Pencabut Nyawa, wajahnya berkerut menahan sakit di pergelangan tangannya. Bibir kepala prajurit itu tampak meringis menahan nyeri di tangannya.
Namun ia masih bisa menguasai diri, kepala prajurit pemberontak itu kembali melompat kearah Bidadari Pencabut Nyawa dengan menyabetkan goloknya dengan segenap kemampuan yang ia miliki.
"Hiyaaat..!" kepala prajurit itu terus mencerca kearah Wulan Ayu, golok di tangannya menderu menyabet dan menebas kearah tubuh Bidadari Pencabut Nyawa itu. Namun dengan begitu gesit Wulan Ayu dapat menghindari serangan golok pimpinan prajurit pemberontak itu. Sebuah tendangan yang hampir tidak dapat dilihat oleh kepala prajurit pemberontak itu tepat mengenai dadanya.
Buak!
Aaakh..!" kepala prajurit pemberontak itu mengeluh kesakitan sambil terjajar mundur, tangan kirinya memegangi perutnya yang terkena tendangan. Sedangkan tangan kirinya menyeka darah yang mengalir dari sela-sela bibirnya.
"Bagaimana kisanak, lanjut?" tantang Bidadari Pencabut Nyawa sambil tertawa kecil kearah kepala prajurit itu.
Kepala prajurit itu mundur beberap tombak ke belakang, tiba tiba ia bersuit.
"Suiiit.....!"
Tak lama muncul puluhan prajurit berbaju rompi merah, lansung mengepung Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa, bahkan jumlah mereka tidak kurang dari seratus orang.
"Kurang ajar!" rutuk Bidadari Pencabut Nyawa, melihat begitu banyak prajurit bertubuh gempal itu mengepung mereka, ia lansung menyimpan kipas Elang Perak di balik bajunya, tangan kanannya bersiaga di gagang pedang elang perak yang ada di balik punggungnya.
Sedangkan Pendekar Naga Sakti tampak tenang, di samping Bidadari Pencabut Nyawa. Pendekar Naga Sakti hanya tersenyum tipis melihat musuh-musuhnya itu.
Para prajurit itu menghunus golok yang ada di pinggang mereka, mereka bergerak mengepung Pendekar Naga Sakti Bidadari Pencabut Nyawa dari segala penjuru.
.
.
Bersambung..
.
__ADS_1
.
Bersambung...